BRIN Ungkap Dampak Tersembunyi AI Data Center, Ancaman Lingkungan Jadi Sorotan

AKURAT BANTEN - Pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (AI) turut meningkatkan kebutuhan terhadap AI data center sebagai infrastruktur penting dalam proses penyimpanan dan pengolahan data digital.
Selain menjadi penopang transformasi digital, pembangunan pusat data AI juga membawa konsekuensi sosial, lingkungan, hingga tata kelola yang perlu direspons melalui kebijakan yang terarah dan berkelanjutan.
Kepala Pusat Riset Kebijakan Publik BRIN, Yanuar Farida Wismayanti, mengatakan perhatian masyarakat selama ini masih lebih banyak tertuju pada pemanfaatan AI di berbagai bidang.
Padahal, pengembangan teknologi tersebut juga sangat bergantung pada aspek pendukung seperti keamanan data, infrastruktur digital, dan keberadaan AI data center.
Baca Juga: Industri Sawit Nasional Terancam Ganoderma, BRIN Andalkan Teknologi Modern dan AI
“Saat ini kita banyak berpikir tentang bagaimana menggunakan AI di berbagai sektor. Namun, kita juga perlu memikirkan data security, data infrastructure, dan data center yang sangat penting. Selain dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, pengembangan AI data center juga memiliki dampak sosial dan lingkungan yang perlu menjadi perhatian,” ujar Yanuar.
Yanuar menilai pembahasan mengenai tata kelola serta dampak AI data center kini semakin penting seiring meningkatnya penggunaan AI di berbagai sektor.
Menurutnya, diskusi tersebut dapat memperluas wawasan peneliti maupun pembuat kebijakan dalam menyusun strategi pembangunan yang lebih berkelanjutan.
Pada forum yang sama, Peneliti Pusat Riset Kebijakan Publik BRIN, Cahyo Trianggoro, menjelaskan bahwa kemajuan AI memunculkan tantangan baru dalam aspek akuntabilitas.
Baca Juga: Produk Pangan Indonesia Diburu untuk Katering Haji, Menhaj Ungkap Kendalanya
Kondisi ini muncul karena tanggung jawab penggunaan AI tersebar pada pengembang teknologi, penyedia layanan, hingga berbagai pihak dalam rantai pasok digital.
Ia juga menyoroti kemungkinan terjadinya kesenjangan akses akibat pengembangan AI generatif yang masih didominasi organisasi dengan sumber daya besar.
Cahyo menambahkan bahwa aspek etika dalam rantai pasok teknologi AI juga perlu mendapat perhatian serius, termasuk terkait penggunaan sumber daya alam dan kondisi tenaga kerja dalam industri semikonduktor serta perangkat komputasi berkinerja tinggi.
Dari sisi lingkungan, operasional AI data center membutuhkan energi besar dan sistem pendingin intensif yang berdampak pada peningkatan konsumsi sumber daya, emisi lingkungan, dan tekanan terhadap ketersediaan air.
Karena itu, ia mendorong penerapan tata kelola AI yang bertanggung jawab melalui peningkatan transparansi penggunaan data, penggunaan model AI yang lebih efisien, penerapan prinsip FAIR (Findable, Accessible, Interoperable, Reusable), serta penguatan perlindungan tenaga kerja.
Ia juga menekankan pentingnya analisis dampak sosial dan lingkungan terhadap proyek AI berskala besar.
Sementara itu, Kris Hartley, Assistant Professor of Sustainability and Enterprise pada School of Public Affairs, Arizona State University, menjelaskan bahwa AI data center merupakan bentuk fisik dari perkembangan teknologi AI.
Menurutnya, infrastruktur tersebut memunculkan tantangan kebijakan publik terkait kebutuhan energi, penggunaan air, tata ruang wilayah, hingga penerimaan masyarakat terhadap pembangunan pusat data.
Hartley mencontohkan bahwa sejumlah komunitas di Amerika Serikat mulai mempertanyakan dampak keberadaan pusat data terhadap lingkungan serta ketersediaan sumber daya lokal.
Ia menilai pengembangan AI data center perlu dipahami sebagai bagian dari sistem sosial, ekologi, dan teknologi yang saling berkaitan.
Dengan pendekatan itu, keputusan pembangunan tidak hanya berfokus pada investasi dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mempertimbangkan keberlanjutan lingkungan, kapasitas tata kelola pemerintah, dan kepentingan masyarakat terdampak.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Geger! Survei SMRC Ungkap Skor Kepemimpinan Tokoh Nasional, Mahfud MD di Puncak, Gibran Terbawah
- 2Tiga Hari Lagi! Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Harus Punya Sertifikat
- 3Sengketa Honor LKM Ciomas: Penagihan Kredit Tembus Rp856 Juta, Upah Tim Likuidasi Malah Menggantung
- 4UMKM Wajib Tahu! Cara Daftar Sertifikat Halal Online, Ada 1,35 Juta Kuota Gratis pada 2026
- 5Real Madrid Menang Dramatis di Markas Roma, Mourinho Malah Tak Mau Selebrasi: Alasannya Bikin Haru!
- 6Adik Eks Kepala BNPB Diduga Gunakan Dana Bencana untuk Beli Saham, KPK Bongkar Kasusnya
- 7Mbappe Ukir Sejarah saat Real Madrid Comeback 4-3! Rekor Messi Resmi Terlewati, Golnya Tambah Catatan Gila
- 8Haaland Langgar Aturan Aneh Maresca di Liga Champions, Tapi Justru Jadi Pahlawan Man City di Tengah Kekalahan
- 9Yarmolyuk Menanduk Jacquet di Kotak Penalti, Kok Liverpool Malah Tak Dapat Penalti? Ini Aturannya!
- 10Chelsea Ketar-ketir Tanpa Reece James, 3 Gelandang Ini Masuk Radar Xabi Alonso untuk Januari 2027








