Banten

Prabowo Dikritik Terlalu Sering ke Luar Negeri, Istana Bongkar Fakta Biaya dan Jumlah Rombongan

Viona Sebastian Nolani | 6 Juni 2026, 17:34 WIB
Prabowo Dikritik Terlalu Sering ke Luar Negeri, Istana Bongkar Fakta Biaya dan Jumlah Rombongan
Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa biaya tambahan dalam kunjungan luar negeri Presiden Prabowo ditanggung secara pribadi, sekaligus menanggapi kritik Dino Patti Djalal terkait frekuensi lawatan ke luar negeri. (Tangakapan Layar)

AKURAT BANTEN - Istana Kepresidenan menegaskan bahwa seluruh kritik dan masukan dari masyarakat selalu diterima sebagai bagian dari evaluasi terhadap jalannya pemerintahan.

Namun demikian, pemerintah mengingatkan agar kritik yang disampaikan tetap mempertimbangkan fakta terkait hasil dan manfaat dari berbagai kunjungan luar negeri Presiden RI Prabowo Subianto.

Penegasan tersebut disampaikan Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menanggapi pernyataan mantan Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat (AS), Dino Patti Djalal, yang menyoroti tingginya biaya perjalanan Presiden Prabowo selama menjalankan kunjungan kenegaraan ke berbagai negara.

Pernyataan Teddy disampaikan melalui unggahan akun Instagram @sekretariat.kabinet pada Senin (1/6/2026).

Baca Juga: Akses Internet Sangihe dan Sitaro Dijaga Ketat, Kemkomdigi Kerahkan Satelit Satria

Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa biaya tambahan yang muncul di luar anggaran negara selama kunjungan luar negeri Presiden ditanggung secara pribadi oleh Prabowo.

"Jadi yang pertama, masalah biaya bila ke luar negeri.Ini sudah dijelaskan beberapa kali, jadi segala kelebihan biaya yang telah dianggarkan oleh negara, itu sepenuhnya ditanggung oleh pribadi Presiden Prabowo," kata Teddy dalam keterangannya.

Teddy juga memberikan tanggapan terhadap kritik yang disampaikan Dino Patti Djalal.

Ia mengakui pengalaman dan kapasitas Dino di bidang diplomasi.

Baca Juga: KPK Tangkap Wamen Imigrasi Silmy Karim, Skandal Izin Tinggal Asing Terbongkar

"Saya pikir beliau adalah diplomat hebat, pernah menjadi Wakil Menteri Luar Negeri, walau hanya diberi kesempatan sekitar 3 bulan," tutur Teddy menambahkan.

Meski demikian, Teddy merasa perlu meluruskan sejumlah informasi yang berkembang, khususnya terkait pelaksanaan kunjungan luar negeri Presiden Prabowo.

Selain soal biaya, Teddy turut menyoroti kritik mengenai jumlah anggota rombongan yang menyertai Presiden dalam lawatan ke luar negeri.

Menurutnya, jumlah delegasi saat ini telah dipangkas secara signifikan dibandingkan periode pemerintahan sebelumnya.

Baca Juga: Lawatan Prabowo ke Prancis Jadi Polemik, Tagihan Hotel Miliaran Rupiah Dipertanyakan

"Jumlah rombongan Presiden Prabowo itu sudah berkurang besar-besaran, lebih dari separuh, dari periode sebelumnya," ucapnya.

Ia menjelaskan bahwa jumlah peserta dalam setiap kunjungan luar negeri kini jauh lebih sedikit dibandingkan masa lalu.

"Jadi kalau dulu itu sekali ke luar negeri bisa lebih dari 120 orang, zaman Pak Dino seperti itu. Nah, zaman Presiden Prabowo jumlahnya antara 50-60 orang maksimal," jelasnya.

Sebelumnya, Dino Patti Djalal mengusulkan agar Presiden Prabowo mengurangi frekuensi perjalanan luar negeri dan lebih memanfaatkan teknologi komunikasi jarak jauh untuk menjaga hubungan dengan para pemimpin dunia.

Baca Juga: Program Makan Gratis Prabowo Berubah Arah, Target 82 Juta Penerima Tak Lagi Jadi Prioritas

Pandangan tersebut disampaikan Dino melalui video yang diunggah di akun Instagram @dinopattidjalal dan dikutip pada Minggu (31/5/2026).

Menurutnya, intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo sejak awal masa jabatan tergolong sangat tinggi jika dibandingkan dengan pemimpin negara lain.

Dino menilai frekuensi perjalanan tersebut telah menjadi sorotan publik karena dianggap berpotensi menambah beban pengeluaran negara.

“Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara yang paling sering melakukan perjalanan luar negeri. Semenjak menjabat menjadi Presiden, satu dari enam hari dihabiskan beliau di luar negeri,” kata Dino.

Baca Juga: Erupsi Dahsyat Gunung Lewotobi Laki-Laki Hari Ini, Abu Vulkanik Capai 2,5 Km

Ia juga mengaku memahami munculnya anggapan masyarakat yang menilai frekuensi kunjungan kerja luar negeri Presiden sudah melewati batas yang dianggap wajar.

"Tidak heran kalau ada yang beranggapan bahwa ini tidak lazim dan di luar batas kewajaran," ucapnya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.