Banten

Rupiah Tembus Level Terburuk 2026, Investor Mulai Tinggalkan Indonesia?

Viona Sebastian Nolani | 9 Juni 2026, 12:16 WIB
Rupiah Tembus Level Terburuk 2026, Investor Mulai Tinggalkan Indonesia?
Nilai tukar rupiah kembali terperosok ke posisi terendah baru pada 8 Juni. (Mufid Majnun /Unsplash)

AKURAT BANTEN - Setelah tekanan jual yang terjadi pekan lalu, nilai tukar rupiah kembali terperosok ke posisi terendah baru pada 8 Juni.

Pelemahan ini sejalan dengan penurunan mayoritas mata uang di kawasan Asia, sementara indeks saham Jakarta juga mengalami koreksi tajam hingga 4,3 persen.

Pada pukul 15.45 waktu Singapura, rupiah tercatat turun 0,8 persen ke level 18.184,50 per dolar Amerika Serikat.

Sementara terhadap dolar Singapura, mata uang Indonesia melemah 0,4 persen menjadi 14.104,34.

Baca Juga: Harga Emas Antam Turun Jadi Rp2,733 Juta per Gram, Ahli Prediksi Ada Kenaikan Besar

“Dua minggu ke depan sangat penting,” kata Mohit Mirpuri, seorang mitra di SGMC Capital di Singapura.

“Pasar mencari tanda-tanda yang jelas tentang disiplin fiskal, konsistensi kebijakan, dan komitmen yang kuat terhadap stabilitas ekonomi makro,” tambahnya.

Kekhawatiran yang meningkat terhadap pengelolaan ekonomi pemerintah, ketidakjelasan aturan ekspor komoditas terbaru, serta muncul kembali isu terkait profil kredit kedaulatan Indonesia membuat aset domestik mengalami tekanan besar.

Hanya dalam waktu lima bulan sejak menyentuh rekor tertinggi, indeks saham acuan Indonesia telah jatuh hampir 39 persen dan menjadi indeks berkinerja terburuk sepanjang 2026 di antara lebih dari 90 indeks global yang dipantau Bloomberg.

Baca Juga: Bupati Muara Enim Edison Jadi Tersangka KPK Usai OTT, Uang Ratusan Juta Ikut Disita

Sepanjang tahun 2026, rupiah sudah terdepresiasi sekitar 8 persen dan menjadi mata uang dengan performa paling lemah di Asia.

Mata uang Garuda bahkan beberapa kali mencetak rekor terendah baru dan menembus level psikologis 18.000 per dolar AS pada pekan lalu.

Sejumlah analis menilai pemerintah Indonesia perlu menyampaikan arah kebijakan yang lebih tegas serta memaparkan langkah konkret guna memperbaiki sentimen pasar.

Pasalnya, investor dinilai tidak akan cukup diyakinkan hanya melalui pernyataan semata.

Pelaku pasar diperkirakan masih akan memilih sikap wait and see menjelang keputusan suku bunga Bank Indonesia pada 18 Juni serta tinjauan MSCI terkait daya investasi Indonesia pada akhir Juni mendatang, menurut para analis.

Di sisi lain, rumor mengenai perombakan jajaran pembuat kebijakan turut menambah ketidakpastian pasar, meski Kementerian Keuangan dan bank sentral telah meluncurkan langkah baru akhir pekan lalu untuk menopang imbal hasil obligasi dan menarik arus modal masuk.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menggelar pengarahan bersama di Parlemen pada 6 Juni.

Dalam kesempatan itu, keduanya menegaskan pemerintah akan menjaga kecukupan likuiditas di pasar serta memperkuat koordinasi guna meningkatkan imbal hasil dan arus modal masuk.

Perry juga menyampaikan bahwa BI akan menaikkan suku bunga untuk dana kas pemerintah yang ditempatkan di bank sentral.

Josua Pardede, kepala ekonom di Bank Permata di Jakarta, mengatakan: “Pernyataan pada hari Sabtu dapat menjadi awal untuk mengurangi tekanan pasar, tetapi masih belum cukup untuk secara berkelanjutan membalikkan arah pasar.”

Menurut Josua, otoritas perlu menjelaskan lebih detail terkait tingkat remunerasi, besaran deposito pemerintah, hingga dampaknya terhadap biaya BI dan penerbitan obligasi negara.

Pasalnya, “jika tidak, pasar dapat menafsirkannya sebagai garis batas yang kabur antara kebijakan fiskal dan moneter, sehingga membatasi dampak positif apa pun terhadap rupiah”, kata Josua.

Kepercayaan investor global terhadap Indonesia juga disebut semakin melemah akibat agenda Presiden Prabowo Subianto yang dinilai lebih populis dan intervensionis.

Kondisi tersebut memicu arus keluar dana asing sebesar US$422 juta (S$544 juta) dari obligasi Indonesia sepanjang 2026 serta US$3,56 miliar dari pasar saham domestik pada periode yang sama.

Nilai tersebut bahkan melampaui arus keluar ekuitas saat pandemi Covid-19 pada 2020.

Konflik Iran turut memperburuk situasi karena meningkatkan kekhawatiran pasar, mempercepat arus keluar modal, dan mendorong penghindaran risiko akibat lonjakan harga minyak yang membebani subsidi energi.

Mirpuri mengatakan: “Masalah yang lebih besar bukanlah komunikasi, tetapi kejelasan kebijakan.”

Sementara itu, Lionel Priyadi, seorang ahli strategi makro di Mega Capital Sekuritas, mengatakan: “Agar rupiah menguat kembali di bawah level 18.000, BI perlu menaikkan suku bunga lebih dari 50 basis poin.”

Ia memperkirakan bank sentral akan menaikkan suku bunga sebesar 75 basis poin dalam keputusan berikutnya pada 18 Juni.

“Untuk saat ini, pasar akan tetap dalam mode menunggu dan melihat,” tambahnya.

“Narasi optimis” tersebut juga harus diikuti dengan respons kebijakan yang lebih rinci, kata Josua.

“Saat ini, tekanan bukan hanya terkait dengan volatilitas nilai tukar, tetapi juga berkaitan dengan persepsi risiko terhadap Indonesia,” tambahnya.

“Investor tidak hanya tertarik pada imbal hasil yang tinggi, tetapi juga pada keyakinan mereka bahwa prospek ekonomi Indonesia tetap kredibel,” pungkasnya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.