Banten

BI Kehabisan Amunisi? Cadangan Devisa Indonesia Turun Drastis saat Rupiah Terpuruk

Viona Sebastian Nolani | 9 Juni 2026, 12:46 WIB
BI Kehabisan Amunisi? Cadangan Devisa Indonesia Turun Drastis saat Rupiah Terpuruk
Ilustrasi uang rupiah Indonesia. (Mufid Majnun /Unsplash)

AKURAT BANTEN - Cadangan devisa Indonesia tercatat menyusut sebesar 1,3 miliar dolar AS pada Mei menjadi 144,9 miliar dolar AS.

Posisi tersebut menjadi yang terendah dalam hampir dua tahun terakhir setelah Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi di pasar valuta asing.

Kondisi ini kembali memicu kekhawatiran pelaku pasar di tengah tekanan yang terus membayangi rupiah.

Pada perdagangan Senin, rupiah kembali mencetak rekor terlemah baru di level 18.170 per dolar AS.

Baca Juga: Imbal Hasil Obligasi Indonesia Sentuh Level Tertinggi 6 Tahun, Investor Global Mulai Kabur

Pelemahan mata uang Garuda dipicu sejumlah sentimen negatif, mulai dari kekhawatiran investor terhadap rencana belanja besar Presiden Prabowo Subianto, lonjakan subsidi bahan bakar usai perang Iran, isu independensi bank sentral, hingga kebijakan baru ekspor komoditas.

Sepanjang Januari hingga Mei, cadangan devisa Indonesia telah terkuras sekitar 11,6 miliar dolar AS.

Penurunan ini terjadi karena BI terus meningkatkan intervensi demi menjaga stabilitas rupiah yang hampir setiap hari menyentuh level terendah baru sejak akhir Maret.

Hal itu terjadi meskipun pemerintah telah menerbitkan obligasi global berdenominasi dolar AS dan euro senilai 3,5 miliar dolar AS pada bulan lalu.

Baca Juga: Indonesia Ganggu Rantai Pasok, Harga Batu Bara Dunia Langsung Meledak

Bank Indonesia menyebut posisi cadangan devisa akhir Mei setara dengan pembiayaan impor selama 5,6 bulan.

Angka tersebut masih berada di atas standar internasional sekitar tiga bulan impor dan dinilai "memadai untuk mendukung ketahanan eksternal serta menjaga stabilitas sistem ekonomi makro dan keuangan".

Meski demikian, sejumlah pelaku pasar menilai cadangan devisa bersih Indonesia sebenarnya tidak terlalu besar karena sebagian besar dari total 144,9 miliar dolar AS itu berasal dari simpanan bank komersial di bank sentral.

Dua pengamat pasar yang mengikuti perkembangan tersebut mengatakan bahwa mayoritas cadangan BI berasal dari penempatan dolar AS milik perbankan pada instrumen operasi moneter, seperti deposito berjangka valuta asing dan surat berharga BI berdenominasi dolar AS.

Menurut estimasi mereka, total penempatan dana tersebut diperkirakan mencapai sekitar 30 miliar hingga 50 miliar dolar AS.

Kedua sumber itu memilih berbicara secara anonim untuk menghindari dampak negatif akibat keterbukaan informasi yang mereka sampaikan.

Juru bicara BI, Ramdan Denny Prakoso, belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait isu tersebut.

Salah satu sumber menyebut BI memang masih dapat memanfaatkan seluruh cadangan devisa bruto untuk melakukan intervensi di pasar mata uang.

Namun, bank sentral tetap memiliki kewajiban mengembalikan dana milik perbankan saat instrumen jatuh tempo, sehingga memunculkan risiko rollover.

"Jika tidak ada lagi arus masuk modal atau jika neraca perdagangan memburuk, maka risikonya akan lebih tinggi," kata sumber tersebut.

Pada akhir pekan lalu, Gubernur BI Perry Warjiyo bersama Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sepakat meningkatkan imbal hasil aset domestik guna menarik kembali arus modal asing demi menopang rupiah.

Dampaknya, imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia tenor 10 tahun melonjak menjadi 7,142% pada Senin, dari posisi penutupan Jumat sebesar 6,902%.

Sebelumnya, BI juga telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 50 basis poin bulan lalu, langkah yang dinilai cukup agresif.

Sementara itu, rapat kebijakan moneter berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 17-18 Juni.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.