Banten

Prabowo Subianto Bongkar Alasan Ingin Jadi Presiden, Singgung Indonesia Salah Arah Sejak 1990-an

Viona Sebastian Nolani | 12 Juni 2026, 10:34 WIB
Prabowo Subianto Bongkar Alasan Ingin Jadi Presiden, Singgung Indonesia Salah Arah Sejak 1990-an
Presiden Indonesia Prabowo Subianto. (Instagram/@prabowo)

AKURAT BANTEN - Presiden Prabowo Subianto menegaskan pada Rabu (10/6/2026) bahwa kekhawatirannya terhadap arah perjalanan Indonesia sejak dekade 1990-an menjadi alasan utama dirinya berulang kali maju dalam pemilihan presiden.

Ia menekankan bahwa langkah politik yang diambil bukan dilandasi kepentingan pribadi, melainkan keinginan untuk membawa Indonesia ke arah yang lebih baik.

Saat menyampaikan pidato dalam Kongres Nasional ke-18 Himpunan Pengusaha Muda Indonesia di Lampung, Prabowo mengungkapkan bahwa sejak lama ia merasa Indonesia sedang berada di jalur yang keliru.

Keyakinan tersebut, kata dia, mendorong dirinya untuk berusaha menduduki posisi tertinggi di pemerintahan demi melakukan perubahan.

Baca Juga: Roy Suryo Buka Suara: Sebut Polisi 'Terpaksa' Umumkan P21 Kasus Ijazah Jokowi, Ada Apa?

"Saya ingin menjadi presiden karena saya sudah melihat bahwa, sejak tahun 1990-an, Indonesia bergerak ke arah yang salah," katanya.

Prabowo, yang sebelumnya dua kali gagal dalam pemilihan presiden dan dua kali dalam pencalonan wakil presiden sebelum akhirnya resmi menjabat pada Oktober 2024, menyebut kursi presiden bukanlah tujuan akhir dari perjuangannya.

"Saya tidak ingin menjadi presiden hanya demi menjadi presiden. Apakah menurut Anda itu mudah?" katanya.

Selain itu, Presiden juga menyoroti kebiasaan sebagian elite politik yang menurutnya terlalu sering terjebak dalam konflik dan perdebatan berkepanjangan.

Baca Juga: Tega Banget! Calon Mitra Resmi Didepak Demi 'Titipan', Tersangka Baru Kasus Makan Bergizi Gratis Akhirnya Diciduk

Ia membandingkan sikap tersebut dengan masyarakat biasa yang dinilainya justru lebih memahami pentingnya kebersamaan, gotong royong, dan persatuan nasional.

“Terkadang elite kita bisa bersikap keras. Hampir semua elite nasional terus berdebat di antara mereka sendiri. Elite adalah pihak yang terus-menerus bertengkar, sementara rakyat tidak.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.