Banten

Lonjakan Harga Pertamax Bikin Resah, Ancaman Baru bagi Ekonomi Rumah Tangga

Viona Sebastian Nolani | 12 Juni 2026, 10:42 WIB
Lonjakan Harga Pertamax Bikin Resah, Ancaman Baru bagi Ekonomi Rumah Tangga
Petugas SPBU melayani pengisian Pertamax. (dok. Pertamina)

AKURAT BANTEN - Lonjakan harga bensin Pertamax yang banyak dipakai masyarakat Indonesia memicu keterkejutan di kalangan konsumen dan menambah kekhawatiran akan potensi kenaikan biaya hidup berikutnya.

Terutama bagi rumah tangga kelas menengah yang mulai merasakan tekanan ekonomi secara langsung.

Perusahaan energi pelat merah Pertamina resmi menaikkan harga BBM Pertamax dengan oktan 92 pada Rabu (10/6/2026) menjadi Rp 16.250 per liter.

Angka tersebut melonjak sekitar 32 persen dibanding harga sebelumnya yang berada di level Rp 12.300 per liter.

Baca Juga: Prabowo Subianto Bongkar Alasan Ingin Jadi Presiden, Singgung Indonesia Salah Arah Sejak 1990-an

Kenaikan ini sebenarnya telah dipersiapkan sejak lama.

Faktor utamanya berasal dari lonjakan harga minyak dunia yang meningkat sekitar 50 persen akibat perang Iran, ditambah pelemahan nilai tukar rupiah sekitar 8 persen terhadap dolar Amerika Serikat sejak awal tahun.

Namun, momentum kenaikan harga tersebut membuat banyak masyarakat terkejut karena diumumkan hanya sehari setelah bank sentral menaikkan suku bunga acuan sebesar 0,25 persen menjadi 5,5 persen.

Kebijakan ini memperlihatkan upaya pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara disiplin fiskal dan perlindungan terhadap konsumen.

Di tengah tingginya harga minyak global, pelemahan rupiah, serta beban subsidi energi yang terus meningkat, pemerintah mulai melakukan penyesuaian harga BBM secara bertahap.

Baca Juga: Roy Suryo Buka Suara: Sebut Polisi 'Terpaksa' Umumkan P21 Kasus Ijazah Jokowi, Ada Apa?

Bagi kelompok kelas menengah yang tidak menjadi sasaran utama subsidi bahan bakar dan sangat bergantung pada biaya transportasi, kenaikan ini menambah tekanan terhadap pendapatan riil yang sudah tergerus.

Leonardo, pegawai kantoran berusia 25 tahun di Jakarta Pusat, mengaku menjadi salah satu warga yang terkejut dengan lonjakan harga tersebut.

Saat kenaikan diumumkan, ia baru kembali dari pelatihan selama lima hari dengan akses telepon yang terbatas.

“Saat saya membuka Instagram, saya melihat harganya naik menjadi 16.250 rupiah. Saya pikir, wah, kenaikannya sangat besar. Saya benar-benar terkejut,” kata Leonardo.

Leonardo biasanya memakai Pertamax untuk kebutuhan perjalanan motor menuju tempat kerja.

Namun setelah harga naik, ia mengaku berencana beralih ke Pertalite, BBM subsidi dengan oktan 90 yang kini dijual Rp 10.000 per liter.

“Tidak masuk akal bagi saya untuk terus membeli Pertamax dengan harga tersebut,” katanya.

Meski begitu, tidak semua orang merasa beralih ke Pertalite menjadi solusi yang tepat.

Salah satunya adalah Ramanda Andhika, pria berusia 35 tahun.

“Dulu saya menggunakan Pertalite, tetapi itu merusak pompa bahan bakar mobil saya. Jadi saya tidak ingin beralih kembali, karena meskipun saya menghemat bensin, saya mungkin akan menghabiskan lebih banyak uang untuk perbaikan dan perawatan,” kata Ramanda.

Sejumlah SPBU di berbagai daerah mulai dipenuhi antrean panjang karena banyak pengendara berpindah dari Pertamax ke Pertalite.

Bagi Leonardo, penghematan biaya masih dianggap sebanding dengan waktu antre yang lebih lama.

“Jika antreannya terlalu panjang, saya mungkin akan berubah pikiran, tetapi untuk saat ini, saya akan beralih,” katanya.

Ramanda yang bekerja di sebuah gereja di Jakarta Selatan, sudah menikah dan memiliki anak perempuan berusia dua tahun.

Ia memiliki mobil dan sepeda motor, serta memperkirakan pengeluaran BBM keluarganya sebelum kenaikan mencapai sekitar Rp 1 juta per bulan atau sekitar 20 persen dari total pendapatannya.

“Saya berencana untuk mengurangi penggunaan mobil saya sebisa mungkin,” katanya.

“Kekhawatiran saya adalah Pertalite akan menjadi sangat langka, atau bahkan mungkin dihapus sama sekali. Jika itu terjadi, harga barang kebutuhan pokok pasti akan naik," ungkapnya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.