Banten

Kenaikan Pertamax Picu Kekhawatiran Baru, Ekonom Sebut APBN Tertekan

Viona Sebastian Nolani | 12 Juni 2026, 10:46 WIB
Kenaikan Pertamax Picu Kekhawatiran Baru, Ekonom Sebut APBN Tertekan
Kenaikan pertamax picu banyak kekhawatiran. (dok. Pertamina)

AKURAT BANTEN - Pihak Pertamina bersama Menteri Energi Bahlil Lahadalia berulang kali menegaskan bahwa harga Pertalite dan solar subsidi tidak akan mengalami kenaikan.

“Bahan bakar bersubsidi dan LPG bersubsidi tidak akan naik harganya. Itu perintah Presiden,” kata Bahlil.

Muhammad Rizal Taufikurahman, Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan di Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Jakarta, menilai kenaikan harga BBM tersebut memang “tidak dapat dihindari” karena tekanan fiskal terhadap APBN terus meningkat akibat faktor domestik maupun global.

“Penyesuaian harga ini merupakan sinyal bahwa orientasi kebijakan bergeser dari mempertahankan pertumbuhan ke mempertahankan stabilitas fiskal dan kepercayaan pasar,” kata Rizal.

Baca Juga: Lonjakan Harga Pertamax Bikin Resah, Ancaman Baru bagi Ekonomi Rumah Tangga

Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut dampak kenaikan harga Pertamax terhadap perekonomian nasional akan “minimal” karena BBM tersebut tidak digunakan dalam sektor transportasi umum maupun logistik.

Namun pandangan tersebut dibantah Rizal.

“Meskipun dampak langsung Pertamax terhadap inflasi relatif terbatas, dampak ekonominya jauh lebih luas, karena pengguna utamanya adalah pekerja sektor formal dan kelas menengah, yang secara historis merupakan penggerak utama konsumsi domestik,” kata Rizal.

Menurut Rizal, kenaikan harga BBM ditambah suku bunga yang lebih tinggi, inflasi di level 3,08 persen, serta tekanan pelemahan rupiah akan mengikis daya beli masyarakat.

Baca Juga: Prabowo Subianto Bongkar Alasan Ingin Jadi Presiden, Singgung Indonesia Salah Arah Sejak 1990-an

Kondisi itu berpotensi menurunkan konsumsi rumah tangga dan memicu perlambatan di sektor ritel maupun jasa.

Peneliti ekonomi dari Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta, Deni Friawan, juga menilai kenaikan harga bensin memang “tidak dapat dihindari”.

Namun menurutnya, alasan pemerintah belum cukup menenangkan masyarakat yang terdampak langsung.

“Menurut saya, masyarakat telah kehilangan kepercayaan karena sebelumnya pemerintah selalu mengatakan bahwa fundamental ekonomi baik-baik saja, posisi fiskal kita memadai, dan sebagainya. Purbaya selalu mengatakan itu,” kata Deni.

“Peningkatan ini menunjukkan bahwa semuanya tidak baik-baik saja,” jelasnya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.