Banten

Kesepakatan AS-Iran Makin Dekat, Mengapa Israel Justru Merasa Kalah?

Viona Sebastian Nolani | 16 Juni 2026, 15:46 WIB
Kesepakatan AS-Iran Makin Dekat, Mengapa Israel Justru Merasa Kalah?
Pejabat Iran dan AS dikabarkan semakin dekat mencapai kesepakatan gencatan senjata yang dapat mengubah dinamika konflik di Timur Tengah. (iStock)

AKURAT BANTEN - Prospek tercapainya kesepakatan gencatan senjata antara Iran dan Amerika Serikat semakin menguat setelah berminggu-minggu diwarnai ancaman, tekanan diplomatik, dan negosiasi yang berlarut-larut.

Meski detail finalnya masih belum diumumkan, sejumlah informasi yang beredar menunjukkan kedua negara sedang menuju penyelesaian formal yang dapat mengakhiri konflik yang berlangsung sejak akhir Februari.

Berdasarkan sejumlah indikasi, kesepakatan tersebut akan mencakup pencabutan blokade AS terhadap Iran, pembukaan kembali Selat Hormuz secara bertahap, serta dimulainya negosiasi selama 60 hari terkait masa depan program nuklir Teheran.

Selain itu, Washington juga diperkirakan akan melonggarkan sanksi ekonomi dan keuangan terhadap Iran yang berpotensi membuka akses dana rekonstruksi hingga 300 miliar dolar AS.

Baca Juga: Diterima Gibran di Istana Wapres, Mahasiswa Beri Tenggat 5 Hari untuk Realisasi Tuntutan

Jika terealisasi, perkembangan ini akan menjadi langkah paling signifikan menuju berakhirnya konflik sejak 28 Februari.

Namun, tidak semua pihak menyambut positif arah kesepakatan tersebut.

Israel menjadi salah satu pihak yang paling tidak puas dengan isi kesepakatan yang mulai terungkap.

Sejak awal konflik, Tel Aviv memiliki target ambisius, mulai dari melemahkan Republik Islam Iran hingga menghancurkan secara signifikan program nuklir dan rudal balistik negara tersebut, sekaligus memutus hubungan Teheran dengan jaringan proksinya di kawasan.

Baca Juga: Konflik AS-Iran Menuju Akhir? Indonesia Sambut Kesepakatan Damai yang Bakal Ubah Timur Tengah

Namun hasil yang muncul sejauh ini dinilai belum memenuhi tujuan tersebut.

Kebebasan operasi Israel di Lebanon disebut mulai terbatas, sementara program rudal balistik dan drone Iran memang mengalami kerusakan akibat perang tetapi tidak tampak akan menjadi bagian dari pembatasan dalam perjanjian damai.

Di saat yang sama, Iran masih mempertahankan dukungannya terhadap kelompok-kelompok sekutu di Yaman, Lebanon, dan Irak.

Jika dana rekonstruksi sebesar 300 miliar dolar AS benar-benar dikucurkan, sejumlah pengamat menilai posisi strategis Israel justru bisa lebih buruk dibandingkan sebelum perang dimulai.

Baca Juga: AS-Iran Menuju Perdamaian? Kesepakatan Tentatif Diklaim Tercapai, Penandatanganan Dijadwalkan 19 Juni

Selain Israel, ketidakpuasan juga mulai muncul dari kalangan Partai Republik, khususnya kelompok garis keras yang sebelumnya mendukung pendekatan tegas terhadap Iran.

Seiring semakin banyak rincian kesepakatan terungkap, muncul pertanyaan mengenai efektivitas perjanjian tersebut dibandingkan Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA), kesepakatan nuklir era Presiden Obama yang dibatalkan Donald Trump pada masa jabatan pertamanya.

Sejumlah kritik menilai sulit menyimpulkan bahwa perjanjian baru ini memberikan keuntungan yang lebih besar bagi kepentingan Amerika Serikat dibanding JCPOA.

Sementara itu, pemerintahan Trump dinilai berupaya menggambarkan gencatan senjata sebagai sebuah kemenangan politik, meskipun banyak ketentuan penting masih dirahasiakan dari publik.

Baca Juga: Seskab Teddy Unggah Momen TNI-Polri Bersihkan Bekas Demo, Publik Soroti Sikap Aparat

Meski penandatanganan resmi dijadwalkan berlangsung pada Jumat, berbagai risiko masih dapat menggagalkan proses tersebut.

Situasi di lapangan tetap tidak menentu dan sejumlah pihak dianggap memiliki kepentingan untuk menghambat tercapainya perdamaian.

Faksi-faksi dalam Garda Revolusi Iran (IRGC) maupun kelompok di Israel disebut masih berpotensi menjadi pengganggu.

Walaupun kesepakatan sementara telah dicapai, implementasi penuh masih menunggu perjanjian final yang akan ditandatangani dalam beberapa hari ke depan.

Baca Juga: Presiden Prabowo Bongkar Fakta Mengejutkan soal Lonjakan Kepercayaan Investor Global ke Indonesia

Kondisi tersebut membuat masa depan kesepakatan masih belum sepenuhnya aman.

Bagi Gedung Putih, menerima kesepakatan saat ini dianggap sebagai pilihan paling realistis untuk mencegah konflik bersenjata kembali pecah.

Namun sejumlah analis menilai perang yang terjadi justru menempatkan Amerika Serikat dalam posisi yang kurang menguntungkan.

“Tujuan perang adalah untuk memperoleh perdamaian yang lebih baik,” tulis seorang cendekiawan — “dan perdamaian yang lebih baik belum diperoleh.”

Baca Juga: Danantara Percepat Dukungan ke PT PAL, Industri Maritim RI Siap Naik Kelas

Menurut pandangan tersebut, Iran memang mengalami kerusakan infrastruktur dan tekanan ekonomi yang besar.

Namun negara itu kini memiliki peluang lebih besar untuk memulihkan ekonominya dibandingkan periode mana pun dalam beberapa dekade terakhir.

Selain itu, Iran dinilai berhasil menunjukkan kemampuannya mengancam jalur energi global melalui Selat Hormuz.

Di sisi lain, Amerika Serikat dianggap tidak menunjukkan kemauan yang cukup untuk secara langsung menantang kendali Iran di kawasan tersebut.

Baca Juga: KRI Imam Bonjol 383 Gerebek Kapal Ikan di Perairan Pulau Pusung, 6 ABK Diduga Konsumsi Sabu

Program rudal balistik dan drone Iran diperkirakan dapat dibangun kembali, bahkan dengan kemampuan yang lebih maju.

Pada saat yang sama, muncul generasi baru kepemimpinan Iran yang memperoleh legitimasi politik dari hasil konflik ini.

Meski peluang perdamaian semakin terbuka, banyak persoalan mendasar antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat yang belum terselesaikan.

Persaingan pengaruh di Teluk Persia dan Laut Merah tetap menjadi sumber ketegangan yang berpotensi memicu konflik baru di masa depan.

Baca Juga: Operasi SAR Lanal Tegal Berhasil Temukan ABK Tenggelam di PPP Jongor

Ketidakpuasan Israel terhadap isi kesepakatan juga dapat menjadi ancaman tersendiri bagi keberlangsungan perjanjian.

Dalam 60 hari ke depan, Washington dan Teheran akan memasuki fase negosiasi intensif mengenai program nuklir Iran.

Kegagalan mencapai titik temu berpotensi membuka kembali jalan menuju konfrontasi militer.

Walaupun kerugian materiil Amerika Serikat relatif lebih kecil dibandingkan Iran dan negara-negara Teluk, dampak ekonominya tetap dirasakan masyarakat AS melalui kenaikan harga energi dan tekanan inflasi.

Lebih jauh lagi, konflik ini tidak membuat Washington keluar dari pusaran politik Timur Tengah.

Baca Juga: Jerman Nyaris Dipermalukan Curacao, Strategi Nagelsmann Jadi Penyelamat di Piala Dunia 2026

Sebaliknya, setiap konsesi yang diperoleh terkait program nuklir Iran akan tetap membutuhkan tekanan dan jaminan kekuatan militer AS untuk mempertahankannya.

Karena itu, meskipun kesepakatan gencatan senjata tampak semakin dekat, banyak pengamat menilai perdamaian yang tercipta masih jauh dari stabil dan berpotensi menjadi perjanjian yang lebih sulit dipertahankan dibanding kesepakatan nuklir era Obama yang sebelumnya dibatalkan.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.