Banten

Putin di Ambang Kekalahan? Kemenangan Ukraina dalam Perang Rusia Kini Tak Lagi Mustahil

Viona Sebastian Nolani | 17 Juni 2026, 20:27 WIB
Putin di Ambang Kekalahan? Kemenangan Ukraina dalam Perang Rusia Kini Tak Lagi Mustahil
Putin pada 1 Juni 2026. (Dok. Creative Commons)

AKURAT BANTEN - Kemungkinan kemenangan Ukraina dalam perang melawan Rusia kini tidak lagi dianggap sebagai skenario yang mustahil.

Setelah lebih dari empat tahun konflik berlangsung, sejumlah perkembangan terbaru justru menunjukkan tanda-tanda yang dapat mengubah arah perang secara signifikan.

Sejak invasi yang diperintahkan Presiden Rusia Vladimir Putin pada Februari 2022, banyak prediksi awal terbukti meleset.

Kyiv yang diperkirakan jatuh dalam hitungan hari berhasil bertahan.

Ukraina yang diprediksi akan diduduki dalam beberapa pekan juga mampu mempertahankan kedaulatannya.

Baca Juga: Meutya Hafid: Indonesia Tak Boleh Lagi Hanya Jadi Pasar, Harus Kuasai Ekonomi Digital ASEAN

Bahkan perang yang semula diperkirakan berlangsung singkat terus berlanjut hingga bertahun-tahun.

Di sisi lain, sejumlah indikator di Rusia menunjukkan tren yang kurang menguntungkan.

Jumlah korban tewas di pihak militer Rusia disebut lebih besar daripada jumlah rekrutan baru.

Kemajuan wilayah yang berhasil direbut juga dinilai sangat minim.

Tekanan ekonomi semakin terasa, sementara ketidakpuasan terhadap Putin disebut terus meningkat.

Baca Juga: Kiandra Ramadhipa Menang Dramatis di Estoril, Indonesia Raya Berkumandang di Moto3 Junior World Championship 2026

Pada saat yang sama, Krimea dinilai semakin rentan terputus dari Rusia dan wilayah pendudukan lainnya.

Jika Krimea benar-benar terisolasi, pasokan logistik bagi pasukan Rusia di Ukraina selatan dapat terganggu secara serius.

Kondisi tersebut berpotensi memicu runtuhnya garis pertahanan Rusia, seperti yang pernah terjadi di Provinsi Kharkiv pada akhir 2022.

Karena itu, kemungkinan Ukraina mencetak terobosan besar dan meraih kemenangan kini dinilai semakin realistis.

Untuk pertama kalinya sejak perang dimulai, skenario tersebut dianggap bukan lagi sekadar angan-angan.

Baca Juga: Nama PDIP Terseret dalam Polemik Aksi Tolak MBG, Guntur Romli Sebut Ada Penyesatan Opini

Dunia pun dinilai perlu menyiapkan berbagai kemungkinan jika Putin mengalami kegagalan total.

Salah satu hal yang perlu dipahami adalah bahwa hasil akhir perang kemungkinan akan lebih ditentukan oleh kemampuan Ukraina sendiri dibandingkan dukungan sekutunya.

Setahun lalu Ukraina masih sangat bergantung pada bantuan Amerika Serikat dan Eropa.

Namun kini negara itu dinilai telah berkembang menjadi kekuatan yang lebih mandiri, dengan kemampuan intelijen, strategi, dan teknologi yang memungkinkan mereka memberi tekanan besar kepada Rusia.

Kemenangan Ukraina juga diperkirakan akan membawa konsekuensi politik besar bagi Putin.

Baca Juga: Bocoran Memorandum AS-Iran Ungkap Skema Investasi 300 Miliar Dolar, Trump Hadapi Risiko Politik Baru

Sistem pemerintahan yang sangat terpusat di Rusia diyakini akan menghadapi tekanan berat, bahkan berpotensi memicu persaingan antarelite.

Dalam situasi seperti itu, sejumlah wilayah non-Rusia kemungkinan akan menuntut otonomi yang lebih luas atau bahkan kemerdekaan.

China juga diperkirakan dapat memanfaatkan melemahnya posisi Moskow untuk memperluas pengaruhnya di kawasan yang selama ini menjadi kepentingan Rusia.

Dalam skenario yang lebih ekstrem, Federasi Rusia bahkan dapat mengalami perubahan besar dan menyisakan negara yang berpusat di wilayah historis Muscovy.

Negara tersebut akan tetap memiliki senjata nuklir, tetapi dengan ekonomi yang jauh lebih lemah dan pengaruh global yang berkurang.

Baca Juga: Rancangan Kesepakatan AS–Iran Berpotensi Membuka Akses Aset Bernilai Ratusan Miliar Dolar

Meski demikian, penggunaan senjata nuklir dinilai tetap kecil kemungkinannya.

Putin maupun penerusnya diperkirakan menyadari bahwa langkah tersebut akan memicu respons keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump maupun Presiden China Xi Jinping karena berpotensi mengguncang stabilitas internasional.

Bagi Ukraina, kemenangan tentu akan mengakhiri kematian dan kehancuran akibat perang.

Warga negara itu berpeluang kembali menjalani kehidupan yang lebih normal setelah bertahun-tahun hidup dalam konflik.

Namun tantangan besar tetap menanti. Rekonstruksi infrastruktur akan membutuhkan biaya dan waktu yang sangat besar.

Proses reintegrasi masyarakat di wilayah pendudukan juga diperkirakan berlangsung selama beberapa dekade.

Baca Juga: Dialog Pancasila di UGM Ricuh hingga Diskusi Bubar, Ini Kronologi Lengkapnya

Selain itu, pemerintah Ukraina harus menangani dampak sosial dan psikologis yang dialami para veteran perang.

Meski demikian, kuatnya masyarakat sipil Ukraina dinilai dapat menjadi modal penting dalam proses pemulihan tersebut.

Di tingkat geopolitik, kemenangan Ukraina juga berpotensi membuka jalan menuju keanggotaan Uni Eropa dan NATO, baik sebagai anggota penuh maupun dalam bentuk kerja sama yang lebih erat.

Berbeda dengan masa lalu, Ukraina diperkirakan tidak akan datang sebagai pihak yang meminta bantuan.

Setelah berhasil menghadapi negara yang mengklaim diri sebagai kekuatan besar, Kyiv justru berpeluang memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam hubungan dengan Barat.

Dampaknya juga akan terasa secara global.

Baca Juga: Kritik MBG Berujung Laporan Polisi, Eks Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Dilaporkan Firdaus Oiwobo

Demokrasi dapat memperoleh momentum baru, sementara pengaruh Rusia berpotensi menyusut.

Amerika Serikat mungkin menghadapi kritik karena dianggap terlambat mengambil langkah yang lebih tegas, sedangkan Eropa berkesempatan memperkuat perannya di panggung internasional.

Pada akhirnya, Barat dinilai memiliki ruang yang terbatas untuk menentukan jalannya peristiwa.

Yang paling realistis dilakukan adalah mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan yang sebelumnya dianggap mustahil, tetapi kini semakin mungkin terjadi.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.