Banten

Alarm Bahaya Polusi Udara Jakarta Berbunyi, El Nino 2026 Disebut Akan Memperparah Situasi

Viona Sebastian Nolani | 22 Juni 2026, 17:19 WIB
Alarm Bahaya Polusi Udara Jakarta Berbunyi, El Nino 2026 Disebut Akan Memperparah Situasi
Ilustrasi polusi udara di Jakarta. (jakarta.go.id)

AKURAT BANTEN - Menjelang puncak musim kemarau, kekhawatiran terhadap memburuknya kualitas udara di Jakarta semakin meningkat.

Fenomena El Nino 2026 diperkirakan dapat memperparah tingkat polusi udara sekaligus meningkatkan risiko gangguan kesehatan bagi jutaan warga yang tinggal di wilayah ibu kota dan sekitarnya.

Berdasarkan data perusahaan teknologi asal Swiss, IQAir, Jakarta mencatat salah satu hari dengan rata-rata kualitas udara terburuk sepanjang tahun 2026 pada bulan Juni.

Rata-rata kadar polutan PM2.5 yang sebelumnya berada pada kategori "sedang" menurut standar IQAir selama periode November 2025 hingga April 2026, meningkat menjadi kategori "tidak sehat" pada Juni 2026.

Baca Juga: Ilmuwan Indonesia Temukan Cara Baru Melacak Hiu Berjalan di Raja Ampat Tanpa Menyelam

Pada 18 Juni, konsentrasi PM2.5 tercatat mencapai sekitar 61 µg/m3 atau sekitar 11 kali lipat lebih tinggi dibandingkan ambang batas aman yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Kondisi kualitas udara di Jakarta memang cenderung memburuk saat El Nino terjadi.

Fenomena pemanasan suhu permukaan laut secara berkala di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur ini umumnya memicu musim kemarau yang lebih panjang dan kering di Jakarta maupun berbagai wilayah Indonesia lainnya.

Sebuah studi yang dipublikasikan pada awal 2026 menunjukkan bahwa selama periode El Nino 2023-2024, konsentrasi PM2.5 di Indonesia sempat mencapai 100 µg/m3.

Baca Juga: MSCI Kembali Soroti Pasar Indonesia, Ancaman Dana Rp 211 Triliun Keluar dan Status Turun Makin Nyata

Para peneliti dalam kajian tersebut menyebut peningkatan kadar polutan dipengaruhi oleh dinamika monsun musiman yang berperan dalam menentukan arah serta kekuatan angin di kawasan Asia Tenggara.

Dalam situasi normal, angin monsun membantu mengangkut dan menyebarkan polutan seperti PM2.5 sehingga tidak terkonsentrasi di satu wilayah.

Namun, El Nino mengubah pola sirkulasi atmosfer dan mengurangi kemampuan angin dalam mendispersikan polutan.

Akibatnya, kualitas udara perkotaan menurun dan risiko kesehatan akibat paparan polusi menjadi semakin tinggi bagi masyarakat.

Sejumlah warga Jakarta mengaku telah merasakan dampak dari penurunan kualitas udara tersebut.

Nabilla, 28 tahun, yang mengandalkan transportasi umum dan sering berjalan kaki saat beraktivitas di Jakarta, mengaku kondisi polusi kini semakin sulit ditoleransi.

Menurutnya, cuaca panas yang berkepanjangan dan semakin jarangnya hujan dalam beberapa pekan terakhir turut memperburuk keadaan.

“Saya merasa lebih mudah lelah dan sesak napas saat berjalan di sepanjang jalan yang ramai,” kata pekerja kantoran itu.

Di sisi lain, Akbar, pelatih olahraga berusia 32 tahun yang setiap hari melakukan perjalanan dari Tangerang, Banten menuju Jakarta Pusat, berupaya mengurangi paparan polusi dengan selalu memakai masker saat berada di luar ruangan.

Meski demikian, ia mengaku tetap mengalami hidung tersumbat secara terus-menerus selama beberapa minggu terakhir, yang menurutnya berkaitan dengan buruknya kualitas udara Jakarta.

“Saya harap pemerintah tidak hanya fokus pada pembatasan kendaraan pribadi, karena itu saja tidak akan cukup untuk menyelesaikan masalah,” kata Akbar.

“Pihak berwenang juga perlu mengurangi emisi dari pembangkit listrik dan mempercepat penggunaan sumber energi yang lebih bersih,” tambahnya.

Sejumlah penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa pembangkit listrik tenaga batu bara, aktivitas industri, serta tingginya penggunaan kendaraan bermotor berbahan bakar fosil menjadi beberapa penyumbang utama polusi udara di Jakarta.

Wisya Aulia Prayudi, Kepala Bidang Kesehatan Perkotaan dan Lingkungan pada Pusat Inisiatif Pembangunan Strategis Indonesia, mengingatkan bahwa penurunan kualitas udara dapat meningkatkan berbagai risiko kesehatan.

Menurutnya, paparan polutan dapat memicu penyakit pernapasan dan kardiovaskular, sekaligus berdampak pada penurunan fungsi kognitif pada anak-anak.

Sementara itu, Muhammad Aminullah dari kantor Jakarta Forum Lingkungan Hidup Indonesia mendorong pemerintah untuk membangun sistem peringatan dini polusi udara guna mengurangi risiko kesehatan yang berpotensi meningkat selama musim kemarau.

“Ketika kualitas udara mencapai tingkat yang tidak sehat, pembatasan harus diberlakukan pada sumber-sumber polusi utama, sementara layanan kesehatan dan saluran telepon khusus untuk masyarakat harus disediakan,” kata Aminullah pada 18 Juni.

Menyikapi potensi memburuknya kualitas udara akibat musim kemarau yang dipengaruhi El Nino, juru bicara Dinas Lingkungan Hidup Jakarta, Yogi Ikhwan, mengatakan pada 18 Juni bahwa pemerintah provinsi telah memperkuat berbagai langkah pengendalian polusi udara melalui pengurangan emisi dari sektor transportasi, industri, dan berbagai sumber pencemar utama lainnya.

Pelaksanaan kebijakan tersebut akan dilakukan secara terkoordinasi bersama pemerintah pusat serta pemerintah daerah di kawasan Jakarta Raya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.