Banten

Ishaq Dar Ungkap Fakta Mengejutkan, Perundingan AS-Iran di Swiss Nyaris Gagal Gara-gara Serangan Israel

Viona Sebastian Nolani | 24 Juni 2026, 11:52 WIB
Ishaq Dar Ungkap Fakta Mengejutkan, Perundingan AS-Iran di Swiss Nyaris Gagal Gara-gara Serangan Israel
Menlu AS Marco Rubio berjabat tangan dengan Menlu Pakistan Ishaq Dar (kiri) di Ruang Perjanjian Departemen Luar Negeri menjelang pertemuan pada 29 Mei 2026 di Washington, DC. (AFP)

AKURAT BANTEN - Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mengungkapkan bahwa pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung di Swiss nyaris gagal akibat berlanjutnya serangan Israel ke Lebanon.

Pernyataan tersebut disampaikan Dar dalam wawancara eksklusif dengan Al Arabiya yang direkam sebelum perundingan dimulai.

Menurut Dar, eskalasi konflik di Lebanon sempat mengancam jalannya proses diplomasi yang telah dibangun selama berbulan-bulan.

“Perundingan yang dimulai di Swiss sebenarnya bisa dimulai beberapa hari sebelumnya, tetapi serangan Israel terhadap Lebanon menggagalkan dan menghentikan semuanya.”

Baca Juga: Didier Deschamps Tinggalkan Piala Dunia 2026, Ada Kabar Duka dari Keluarga Sang Pelatih Prancis

Ia menjelaskan bahwa Pakistan telah memainkan peran penting sejak awal konflik pada 28 Februari.

Upaya diplomatik tersebut diawali dengan gencatan senjata yang dimediasi Pakistan dan dilanjutkan melalui perundingan yang digelar di Islamabad pada April lalu.

“Perundingan tersebut merupakan pembicaraan langsung pertama antara AS dan Iran setelah 47 tahun, dan Pakistan diminta untuk menjadi saksi,” kata Wakil Perdana Menteri Dar.

Ia menambahkan, rangkaian diplomasi yang dijalankan Pakistan setelah pertemuan di Islamabad akhirnya menghasilkan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Islamabad pada 18 Juni.

Baca Juga: Ronaldo Menggila di Piala Dunia 2026, Dua Gol Lawan Uzbekistan Bawa Portugal Cetak Rekor Fantastis

“Anda lihat, selama periode ini, Pakistan telah… sangat aktif. Kami tidak hanya menjadi mediator antara AS dan Iran, tetapi kami juga menjaga agar sekutu dan teman-teman kami di kawasan itu tetap terhubung dengan kami,” kata Wakil Perdana Menteri Dar kepada Al Arabiya.

Dia melanjutkan: “Dalam proses itu, kita melihat bahwa sebuah forum regional telah terbentuk yang terdiri dari Pakistan, Mesir, Arab Saudi, dan Turki, dan kita berurusan berdampingan dengan negara-negara Teluk dan juga mitra internasional.”

Mengenai perundingan yang berlangsung di Burgenstock, Swiss, Dar menyebutnya sebagai tahap lanjutan dari proses negosiasi yang telah dimulai sebelumnya.

“Ada tiga kelompok teknis. Yang pertama menangani masalah nuklir, yang kedua tentang sanksi dan aset yang dibekukan, dan yang ketiga tentang Lebanon,” kata Wakil Perdana Menteri Dar.

Baca Juga: Cristiano Ronaldo Cetak Sejarah di Piala Dunia, Jadi Pemain Pria Pertama yang Cetak Gol di 6 Edisi Berbeda

Ia menilai isu Lebanon menjadi salah satu tantangan terbesar dalam proses perundingan tersebut.

Menurutnya, persoalan itu terus muncul sepanjang pembahasan dan hampir membuat perundingan di Swiss terhenti.

“Untuk item-item tertentu, mereka memiliki waktu 30 hari untuk menyelesaikannya, tetapi secara keseluruhan, jangka waktu penyelesaian kesepakatan akhir adalah 60 hari, dan ini dapat diperpanjang secara mutual,” katanya.

Dar menuturkan tanda-tanda positif dari proses perdamaian mulai terlihat, termasuk turunnya harga energi dunia dan kembali normalnya lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz.

Ia menegaskan bahwa jalur strategis tersebut harus kembali ke kondisi sebelum konflik, yakni tanpa biaya tambahan maupun pungutan apa pun.

Baca Juga: Neymar Comeback! Kondisi Terbaru Sang Bintang Brasil Jelang Laga Penting Terungkap

Dalam kesempatan yang sama, Dar mengenang kunjungannya ke China pada Maret lalu.

Ia mengatakan Pakistan dan China memiliki pandangan yang sama terkait pentingnya kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

“Tidak ada izin, tidak ada tol, tidak ada biaya tambahan, apa pun namanya; seharusnya ada pergerakan bebas dan jalur laut harus bebas dilalui di kedua sisi,” kata Dar, seraya mencatat krisis energi yang terjadi akibat penutupan Selat yang vital tersebut.

“Ini adalah pemahaman global,” katanya, seraya mencatat bahwa “setidaknya selama 60 hari, akan ada pergerakan bebas” di dalam jalur perairan tersebut.

Saat ditanya mengenai jaminan untuk menghentikan tindakan Israel di Lebanon, Dar mengakui bahwa peran mediator tidak selalu mudah.

Baca Juga: Portugal Menggila Lawan Uzbekistan, Bung Jupri Ungkap Kunci Dominasi dan Ketajaman Cristiano Ronaldo

Namun, ia menegaskan bahwa upaya diplomasi harus terus dilakukan.

“Peran fasilitator atau mediator adalah untuk terus mencoba dan berupaya. Ada saat-saat di mana tampaknya kesepakatan itu tidak akan tercapai, tetapi kami tidak pernah menyerah [...] secara independen, ada pihak-pihak yang tidak pernah menginginkan kesepakatan ini terjadi, dan saat kesepakatan ini ditandatangani, kami melihat terjadi pemboman hebat di Lebanon.”

Menurut Dar, komunitas internasional perlu meningkatkan tekanan diplomatik agar Israel menghentikan serangan militernya di Lebanon.

Ia juga mengungkapkan rencana untuk menghidupkan kembali upaya implementasi rencana perdamaian Gaza yang terdiri dari 21 poin.

Baca Juga: Bea Cukai Bongkar 43 Kontainer Balepress Ilegal di Tanjung Priok, Nilainya Capai Rp37,5 Miliar

Terkait cadangan uranium Iran, Dar mengatakan bahwa Teheran telah menunjukkan sikap yang lebih fleksibel selama Perundingan Islamabad.

“Pada saat itu, itu adalah masalah tuntutan AS yang ingin mereka ambil. Iran tidak bersedia memberikannya kepada kami, tetapi [...] jumlahnya dapat dikurangi dari klaim 60 persen,” kata Dar.

Ia juga mengingat percakapannya dengan Rafael Grossi dari Badan Energi Atom Internasional mengenai “penurunan kadar 'debu nuklir' menjadi 0,7%”.

Meski tantangan masih ada, Dar optimistis kesepakatan akhir antara AS dan Iran dapat tercapai.

“Kita harus tulus terhadap tujuan ini; Pakistan tidak memiliki kepentingan pribadi, dan kami melakukan seluruh proses ini dengan ketulusan sepenuhnya dan berdoa kepada Allah agar memberikan kebijaksanaan dan pandangan jauh ke depan kepada kedua belah pihak,” kata Dar.

Baca Juga: Polda Jabar Tangkap Taufik Hidayat, Tersangka Penyekapan dan Penganiayaan YTR

Dia melanjutkan: “Saya adalah seorang optimis sejati, dan saya memiliki keyakinan penuh bahwa dengan upaya kita bersama komunitas global dan dukungan dari negara-negara sahabat, kedua negara ini (AS dan Iran) akan mencapai kesepakatan akhir.”

Mengenai sanksi AS terhadap Iran, Dar menjelaskan bahwa isu tersebut sedang dibahas oleh salah satu dari tiga kelompok teknis yang dibentuk dalam proses negosiasi.

Ia mengingatkan bahwa persoalan itu telah dibicarakan sejak pertemuan di Islamabad dan kini memasuki tahap lanjutan.

“Dokumen baru ini (MoU) telah dibagi menjadi dua fase,” kata Dar, menjelaskan bahwa fase pertama telah selesai dan ditandatangani, dan mendesak agar tidak ada yang meragukan “niat para pihak yang menandatangani”.

Baca Juga: Ribuan Buruh Terancam PHK, Dua Perusahaan Otomotif Jepang Dikabarkan Pindah Produksi ke Vietnam

“Kami tidak ragu bahwa mereka tulus dan ingin maju,” ujar Dar.

Ia berharap tidak ada pihak yang melakukan upaya penghambatan terhadap proses perdamaian tersebut.

Menurutnya, pembahasan mengenai sanksi, isu nuklir, dan situasi Lebanon akan terus berlangsung dalam kerangka negosiasi selama 60 hari ke depan.

“sanksi akan dibahas dan diputuskan bersama dengan isu nuklir dan Lebanon dalam fase 60 hari”.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.