Suntikan Dana Rp 400 Triliun ke Bank BUMN, Begini Strategi Pemerintah Dongkrak Ekonomi

AKURAT BANTEN - Pemerintah Indonesia kembali mengambil langkah untuk menjaga laju pertumbuhan ekonomi dengan menambah suntikan likuiditas ke perbankan.
Menteri Keuangan pada Jumat mengumumkan bahwa pemerintah akan menggelontorkan dana tambahan sebesar Rp200 triliun (setara sekitar 11,15 miliar dolar AS) kepada bank-bank milik negara.
Dana tersebut berasal dari kelebihan kas pemerintah yang selama ini ditempatkan di Bank Indonesia (BI) dan diharapkan mampu mendorong peningkatan penyaluran kredit.
Tambahan likuiditas senilai Rp200 triliun ini membuat total dana yang disalurkan pemerintah kepada bank-bank BUMN mencapai Rp 400 triliun.
Baca Juga: Indonesia Amankan Buronan Interpol Beijing, Terkait Jaringan Penipuan Online Internasional
Sebagian dari dana tersebut akan tetap ditempatkan hingga akhir Desember 2026 guna mendukung pembiayaan sektor perbankan.
Menteri Keuangan Yudhi Sadewa Purbaya menjelaskan dalam konferensi pers bahwa penempatan dana dilakukan dengan dua skema.
Sebagian akan ditempatkan untuk kebutuhan jangka pendek, sementara sisanya akan tetap berada di bank-bank pelat merah hingga penghujung tahun.
Keputusan tersebut diambil setelah Yudhi menggelar pertemuan dengan jajaran pimpinan lima bank milik negara, yakni Bank Mandiri, Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Syariah Indonesia (BSI), serta Bank Tabungan Negara (BTN).
Baca Juga: Jutaan Akun Anak di Indonesia Dihapus TikTok dan YouTube, Apa Penyebabnya?
Berdasarkan hasil pembahasan dengan para direktur utama bank BUMN, pemerintah menilai bahwa tanpa tambahan likuiditas, pertumbuhan kredit nasional berpotensi melambat dan turun dari capaian dua digit sebesar 11,51% yang tercatat pada Mei lalu.
Dengan adanya tambahan dana tersebut, Purbaya optimistis pertumbuhan kredit nasional sepanjang tahun ini dapat meningkat ke kisaran 14% hingga 15%.
Kebijakan terbaru ini sekaligus mengubah kesepakatan sebelumnya antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia.
Sebelumnya, pemerintah berencana mengembalikan suntikan dana awal sebesar Rp200 triliun ke rekening simpanannya di bank sentral, namun rencana tersebut kini dibatalkan.
Menanggapi pertanyaan mengenai potensi dampak kebijakan ini terhadap stabilitas nilai tukar rupiah, Purbaya menegaskan bahwa Presiden Prabowo Subianto telah memberikan persetujuan atas langkah tersebut.
Menurutnya, pemerintah memprioritaskan agar roda perekonomian tetap bergerak dan aktivitas bisnis terus tumbuh.
"Apabila ekonomi melambat, investor cenderung menarik investasinya. Sebaliknya, ketika kita mampu membalikkan kondisi ekonomi dan membuatnya kembali bertumbuh, maka minat investasi akan meningkat. Pada akhirnya, kondisi tersebut juga akan memberikan dukungan terhadap penguatan nilai tukar rupiah," ujar Purbaya.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Geger! Survei SMRC Ungkap Skor Kepemimpinan Tokoh Nasional, Mahfud MD di Puncak, Gibran Terbawah
- 2Mahfud MD Soroti OTT KPK di BNPB, Dana Bencana Diduga Bermasalah saat Warga Butuh Bantuan
- 3Tiga Hari Lagi! Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Harus Punya Sertifikat
- 4Bikin Bangga! Persib Menang atas The Cong-Viettel, Liga Indonesia Kini Tembus 16 Besar Asia
- 5Singgung Asap dan Oksigen, Syahganda Dikritik Pejabat Malaysia! Indonesia Didesak Minta Maaf
- 6Lille Dihajar Arsenal 0-3, tapi Calvin Verdonk Ukir Rekor Bersejarah untuk Indonesia di Liga Champions!
- 7Tangsel Rapi, DPUPR Banten Mulai Bersihkan Kabel Internet Semrawut di Jalan Aria Putra
- 8Man City Dihantam Kasus Finansial, Steven Gerrard Angkat Suara: Bukan Degradasi, Hukuman Ini yang Harus Diterima!
- 9Mbappe Ukir Sejarah saat Real Madrid Comeback 4-3! Rekor Messi Resmi Terlewati, Golnya Tambah Catatan Gila
- 10Real Madrid Menang Dramatis di Markas Roma, Mourinho Malah Tak Mau Selebrasi: Alasannya Bikin Haru!









