Banten

BRIN Lakukan Uji Terbang Drone PUNA, Ini Peran Pentingnya untuk Indonesia

Viona Sebastian Nolani | 28 Juni 2026, 18:27 WIB
BRIN Lakukan Uji Terbang Drone PUNA, Ini Peran Pentingnya untuk Indonesia
Uji terbang pesawat Trinity F90+. (Foto: Humas BRIN)

AKURAT BANTEN - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyelenggarakan kegiatan uji terbang sistem pesawat udara nirawak (PUNA) sebagai upaya memperkuat ekosistem riset, pengembangan inovasi teknologi, serta industri penerbangan di Indonesia.

Kegiatan ini dilaksanakan di Lanud Saleh Basareh, Rumpin, Kabupaten Bogor, pada 23–25 Juni 2026.

Pesawat udara tanpa awak atau drone memiliki peran strategis dalam berbagai bidang, mulai dari survei dan pemetaan wilayah, pemantauan kondisi lingkungan, hingga kebutuhan pertahanan.

Melalui uji terbang ini, BRIN melakukan pengujian terhadap sejumlah wahana hasil pengembangan internal maupun kolaborasi nasional untuk memastikan kesiapan teknologi sebelum diterapkan secara lebih luas di lapangan.

Baca Juga: Fenomena Judi Online di Indonesia Dinilai Makin Mengkhawatirkan, Ini Sorotan DPR

Dalam kegiatan tersebut, berbagai jenis wahana nirawak turut diterbangkan, mencakup pesawat sayap tetap (fixed wing), teknologi Vertical Take-off and Landing (VTOL), serta jenis multirotor.

Beberapa platform yang diuji di antaranya ALAP-ALAP KX-0601, NIU-V7, LSU-02 VTOL, Kresna, Skywalker, hingga Trinity F90+ yang mewakili berbagai kebutuhan misi penerbangan.

ALAP-ALAP KX-0601 dan NIU-V7 dirancang khusus untuk mendukung kegiatan survei serta pemetaan area luas.

Kedua wahana ini memiliki jangkauan terbang hingga sekitar 100 kilometer, durasi terbang mencapai enam jam, serta bobot lepas landas maksimum 30 kilogram, sehingga efektif digunakan untuk pengumpulan data di berbagai kondisi lapangan.

Baca Juga: Argentina vs Tanjung Verde: Duel Raksasa dan Debutan yang Mengejutkan di Piala Dunia

Sementara itu, LSU-02 VTOL hadir dengan kemampuan lepas landas dan mendarat secara vertikal, namun tetap mengusung efisiensi jelajah seperti pesawat sayap tetap.

Dengan bentang sayap sekitar 3,3 meter dan berat maksimum 22 kilogram, wahana ini sangat ideal digunakan pada wilayah yang memiliki keterbatasan atau tanpa landasan pacu.

Pada kategori pengujian teknologi, BRIN juga mengoperasikan Kresna sebagai flying test bed yang difokuskan untuk pengujian komponen penting, terutama Flight Control Computer (FCC).

Pengujian ini menjadi bagian penting dalam mendukung kemandirian teknologi serta keberlanjutan pengembangan PUNA di tingkat nasional.

Selain wahana hasil riset, uji terbang ini turut menampilkan platform siap pakai seperti Skywalker dan Trinity F90+.

Trinity F90+ sendiri mampu melakukan pemetaan area hingga 500 hektare dalam satu kali misi dengan durasi terbang mendekati satu jam, sehingga sangat potensial untuk kebutuhan survei dan pemetaan berskala besar.

Kepala Pusat Riset Teknologi Penerbangan BRIN, Fadilah Hasim, menjelaskan bahwa uji terbang ini tidak hanya berfungsi untuk memvalidasi kinerja teknologi, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran serta pertukaran pengetahuan antar pemangku kepentingan.

Ia menegaskan bahwa kegiatan ini mencakup pengujian menyeluruh, mulai dari wahana, sistem kendali terbang, sistem komunikasi data, hingga stasiun kendali di darat.

Secara keseluruhan, kegiatan ini tidak hanya menunjukkan kesiapan teknologi pesawat nirawak, tetapi juga membuka ruang kolaborasi bagi berbagai pihak untuk memahami perkembangan sistem PUNA dalam menjawab kebutuhan nasional di berbagai sektor strategis.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.