Banten

Rusia Terpaksa Impor Bensin, Serangan Ukraina Bikin Pasokan BBM Nasional Terganggu

Viona Sebastian Nolani | 2 Juli 2026, 09:05 WIB
Rusia Terpaksa Impor Bensin, Serangan Ukraina Bikin Pasokan BBM Nasional Terganggu
Ilustrasi antrean kendaraan di SPBU Rusia mencerminkan krisis pasokan bensin yang memburuk setelah serangan Ukraina mengganggu infrastruktur energi. (money.pl)

AKURAT BANTEN - Rusia mengonfirmasi akan mengimpor bensin dari luar negeri untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun terakhir setelah produksi domestik tak lagi mampu memenuhi kebutuhan nasional.

Langkah tersebut diumumkan Kremlin pada 30 Juni, beberapa waktu setelah muncul laporan bahwa Moskow tengah menjajaki pasokan bahan bakar dari Kazakhstan.

Keputusan ini menjadi sinyal besarnya dampak serangan jarak jauh Ukraina terhadap infrastruktur energi Rusia.

Padahal, negara tersebut merupakan salah satu eksportir minyak terbesar di dunia.

Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan pemerintah saat ini tengah melakukan pembicaraan dengan sejumlah pemasok asing guna mendatangkan bensin demi meredakan tekanan di pasar domestik.

Baca Juga: Rusia Terpaksa Impor Bensin dari India, Serangan Ukraina Bikin Putin Kewalahan

“Diskusi sedang berlangsung secara aktif,” kata Peskov kepada wartawan.

“Jika kesepakatan dapat dicapai pada titik harga yang dapat diterima, maka [impor] akan dilanjutkan.”

Meski tidak mengungkap negara mana yang sedang bernegosiasi dengan Rusia, pernyataan itu memperkuat berbagai laporan dalam beberapa pekan terakhir yang menyebut pemerintah mulai mempertimbangkan impor bahan bakar untuk mengatasi krisis pasokan.

Sejumlah laporan menyebut Rusia sedang membahas kemungkinan pembelian sekitar 50.000 metrik ton bensin AI-92 dari Kazakhstan.

Pengakuan Kremlin ini juga muncul hanya beberapa hari setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengakui secara terbuka bahwa serangan Ukraina telah menyebabkan kelangkaan bahan bakar di sejumlah wilayah Rusia.

Baca Juga: Putin Mulai Terpojok? Serangan Drone Ukraina ke Moskow Bikin Rusia Kewalahan

Dalam pertemuan yang disiarkan televisi pada 28 Juni, Putin mengakui bahwa serangan udara Ukraina mulai berdampak pada distribusi bensin di dalam negeri.

“Anda semua menyadari bahwa masalah bagi pengemudi dan pelaku bisnis masih berlanjut,” kata Putin dalam pertemuan tersebut.

“Sayangnya, antrean di SPBU juga masih ada.”

Putin juga meminta para pejabat meningkatkan upaya untuk "mengurangi seminimal mungkin dampak serangan teroris terhadap target sipil dan infrastruktur kita."

Mengutip laporan Kementerian Energi Rusia, Putin mengatakan pemerintah telah menggunakan cadangan strategis guna menekan dampak kekurangan pasokan.

Menurutnya, stok bensin strategis saat ini mencapai sekitar 1,7 juta metrik ton, atau "kira-kira sejalan dengan tingkat yang tercatat selama periode yang sama tahun lalu."

Baca Juga: Prabowo Anugerahkan Bintang Bhayangkara Nararya kepada 3 Anggota Polri di Hari Bhayangkara ke-80

Namun, kondisi di lapangan menunjukkan tekanan terhadap sektor energi Rusia terus meningkat.

Kekurangan yang semula hanya terjadi di sejumlah daerah kini berkembang menjadi krisis pasokan nasional yang memengaruhi pasar grosir, SPBU, hingga distribusi logistik militer.

Pada 30 Juni, Reuters melaporkan produksi bensin Rusia telah berada di bawah tingkat konsumsi domestik sejak Mei.

Kondisi tersebut memaksa Moskow mengandalkan cadangan strategis sekaligus mencari pasokan tambahan dari luar negeri.

Situasi serupa juga tercermin di Bursa Komoditas Internasional St. Petersburg, pusat perdagangan bahan bakar utama Rusia.

Baca Juga: Prabowo Anugerahkan Bintang Bhayangkara Nararya kepada 3 Anggota Polri di Hari Bhayangkara ke-80

Volume penjualan bensin AI-92 dan solar tercatat turun hingga kurang dari separuh dibandingkan Juni 2025, sementara penjualan bensin AI-95 juga menyusut sekitar sepertiga.

Kelangkaan itu mulai dirasakan masyarakat.

Sejumlah SPBU independen dilaporkan menjual bensin dengan harga lebih dari 100 rubel per liter untuk pertama kalinya.

Dalam kondisi pasokan yang sangat terbatas, harga bahkan mencapai 140 rubel per liter.

Di sisi lain, perusahaan minyak besar masih menjual AI-92 di kisaran 63-66 rubel per liter dan AI-95 sekitar 70-73 rubel.

Namun, harga tersebut tetap dipertahankan karena tekanan regulator, meski sejumlah perusahaan dilaporkan mulai kehabisan stok dan mempertimbangkan penghentian operasional sementara.

Baca Juga: Hari Bhayangkara ke-80 Digelar di Cikeas, Ini Alasan Polri Pilih Satlat Brimob

Sebagai eksportir minyak mentah terbesar kedua di dunia, kondisi yang kini dialami Rusia dinilai menjadi keuntungan strategis bagi Ukraina.

Serangan jarak jauh terhadap fasilitas energi disebut berhasil menciptakan tekanan ekonomi sekaligus mengganggu kemampuan logistik militer Moskow.

Selain menghancurkan infrastruktur energi, serangan Ukraina terhadap pusat logistik seperti Krimea juga dilaporkan memengaruhi efektivitas operasi Rusia di garis depan.

Sejumlah analis bahkan mencatat adanya penurunan kinerja pasukan Rusia di medan perang.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy pada awal Juni menyatakan bahwa pasukannya kini mampu menyerang logistik Rusia “ di seluruh wilayah yang diduduki sementara ”.

Baca Juga: Mulai 1 Juli 2026, PPh 22 Dipungut Marketplace, Pemerintah Pastikan UMKM Tak Kena Pajak Baru

Menurutnya, kelangkaan bahan bakar di Krimea menjadi bukti bahwa strategi tersebut berjalan efektif.

Dampaknya terlihat di wilayah itu.

Krimea menghadapi tekanan besar akibat pemadaman listrik, meningkatnya arus pengungsian warga sipil, hingga terganggunya infrastruktur dan jalur logistik militer akibat serangan yang terus berlangsung.

Pemerintah Rusia pun terpaksa memprioritaskan distribusi bahan bakar bagi kebutuhan militer setelah sejumlah jalur pasokan terganggu.

Di Sevastopol, otoritas setempat bahkan menghentikan sementara distribusi bahan bakar normal dan meminta warga tidak mengantre di SPBU karena truk tangki kesulitan memasuki kota.

Kondisi tersebut membuat Moskow menghadapi dilema.

Baca Juga: Gelombang Panas Eropa Tewaskan 1.300 Orang, DPR Desak Kemlu Lindungi WNI

Setiap liter bahan bakar yang dialihkan untuk menjaga pasokan sipil berarti mengurangi cadangan bagi kebutuhan logistik militer.

Situasi itu semakin rumit apabila serangan terhadap kilang minyak dan jalur distribusi terus berlanjut, sehingga pilihan mengenai alokasi pasokan bahan bakar pada akhirnya bukan lagi sepenuhnya berada di tangan Rusia.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.