Banten

Skandal Piala Dunia 2026? FIFA Beri Perlakuan Khusus untuk Folarin Balogun

Viona Sebastian Nolani | 13 Juli 2026, 10:58 WIB
Skandal Piala Dunia 2026? FIFA Beri Perlakuan Khusus untuk Folarin Balogun
Folarin Balogun saat membeli timnas AS di Piala Dunia 2026. (instagram/@balogun)

AKURAT BANTEN - Keputusan FIFA menunda pelaksanaan sanksi kartu merah terhadap striker Amerika Serikat, Folarin Balogun, memicu sorotan tajam terkait transparansi badan sepak bola paling berpengaruh di dunia tersebut.

Di balik dugaan adanya pengaruh dari pihak luar, mekanisme disiplin FIFA kembali dipertanyakan karena menyisakan sejumlah kejanggalan yang hingga kini belum mendapat penjelasan memadai.

Peristiwa itu terjadi pada babak 32 besar.

Dalam perebutan bola, Folarin Balogun mendapat kartu merah langsung setelah dinilai melakukan pelanggaran dengan menginjak betis pemain Bosnia & Herzegovina, Tarik Muharemovic, menggunakan telapak kakinya.

Baca Juga: Thomas Tuchel Kritik Inggris, Respons Jude Bellingham Langsung Bikin Heboh Jelang Lawan Argentina

Sesuai regulasi, hukuman tersebut membuat Balogun harus menjalani skorsing minimal satu pertandingan yang seharusnya berlaku pada laga berikutnya, yakni menghadapi Belgia di babak 16 besar.

Namun, setelah adanya intervensi dari Amerika Serikat sebagai salah satu tuan rumah Piala Dunia 2026, FIFA memutuskan untuk menunda pelaksanaan hukuman tersebut.

Balogun tetap menerima larangan bermain satu pertandingan, tetapi diberi "hak istimewa" untuk menjalani skorsing pada laga lain sehingga tetap bisa tampil menghadapi Belgia.

Penyerang AS itu pun akhirnya dipercaya sebagai starter dalam pertandingan tersebut.

Baca Juga: Pemotor Tabrak Etalase BBM Eceran, Kebakaran Hanguskan Kabel Listrik di Hasyim Ashari Tangerang

Dalam beberapa hari terakhir, FIFA terus dihujani kritik karena dianggap mengambil keputusan yang "yang jelas-jelas bias" demi menguntungkan tim tuan rumah Amerika Serikat.

Laporan The Times mengungkap bahwa kasus disiplin yang berpotensi menjadi preseden biasanya diputuskan oleh komite yang terdiri atas banyak anggota.

Namun, dalam perkara Balogun, keputusan justru diambil hanya oleh Presiden Komite Disiplin FIFA, Al-Kamali, tanpa melibatkan 17 anggota lainnya.

Wasit memang telah mengeluarkan kartu merah untuk Balogun, tetapi FIFA kemudian memutuskan berpihak kepada penyerang Amerika Serikat tersebut.

Fakta bahwa Presiden Al-Kamali mengambil keputusan seorang diri semakin memunculkan pertanyaan mengenai independensi dan objektivitas FIFA.

Meski badan sepak bola dunia itu menegaskan bahwa keputusan tersebut bersifat "independen," keraguan publik belum juga mereda.

Situasi semakin memanas setelah BBC meminta penjelasan resmi kepada FIFA, tetapi hingga kini tidak memperoleh tanggapan.

BBC juga menilai FIFA tidak menerapkan standar yang sama terhadap tim lain, terutama Inggris.

Saat Inggris menang 3-2 atas Meksiko, Jarell Quansah menerima kartu merah akibat tekel berbahaya.

Hukuman bek tersebut bahkan diperberat menjadi dua pertandingan, sementara FIFA menegaskan bahwa Asosiasi Sepak Bola Inggris tidak memiliki hak untuk mengajukan banding.

Menurut BBC, jika mengacu pada prinsip yang sama, kasus Quansah seharusnya dapat diperlakukan serupa dengan Balogun.

Namun, FIFA justru memberikan perlakuan yang sangat berbeda kepada kedua pemain tersebut.

Dampaknya, Quansah harus absen saat Inggris mengalahkan Norwegia di perempat final dan juga tidak bisa bermain pada semifinal menghadapi Argentina.

Bek muda itu baru diizinkan kembali tampil apabila Inggris lolos ke final atau menjalani pertandingan perebutan tempat ketiga.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.