Banten

Ampas Kopi Gayo Ternyata Berpotensi Jadi Kemasan Pangan Masa Depan

Viona Sebastian Nolani | 20 Juli 2026, 15:59 WIB
Ampas Kopi Gayo Ternyata Berpotensi Jadi Kemasan Pangan Masa Depan
Peneliti BRIN Ungkap Potensi Limbah Ampas Kopi Gayo sebagai Kemasan Pangan Ramah Lingkungan. (brin.go.id)

AKURAT BANTEN - Peneliti pascadoktoral Pusat Riset Kimia Molekuler BRIN, Haya Fathana, mengungkap potensi limbah ampas kopi sebagai bahan baku kemasan pangan ramah lingkungan melalui pemaparannya yang berjudul Kajian Fisikokimia Film Komposit Kitosan Berbasis Limbah Ampas Kopi Gayo dan Aplikasinya.

Dalam presentasinya, ia menjelaskan bahwa plastik konvensional masih menjadi material utama dalam industri pangan.

Namun, penggunaannya terus memicu persoalan lingkungan karena berasal dari sumber yang tidak terbarukan dan membutuhkan waktu sangat lama untuk terurai.

“Oleh sebab itu, diperlukan material alternatif yang ramah lingkungan dan berkinerja baik,” tambahnya dalam Webinar Jejak Kimia Molekuler Edisi ke-10 yang berlangsung pada Kamis (16/7).

Baca Juga: Andra Soni Datangi Rumah Duka Rusdi Alam, Kenang Sosok Penyejuk Politik

Haya menjelaskan bahwa kitosan merupakan salah satu biopolimer yang memiliki prospek besar sebagai bahan kemasan pangan karena bersifat biodegradable, biokompatibel, serta mampu membentuk lapisan film.

Meski demikian, material ini masih memiliki kelemahan berupa daya tahan mekanik dan ketahanan terhadap air yang relatif rendah sehingga memerlukan modifikasi agar performanya semakin optimal.

Melalui riset tersebut, Haya memanfaatkan limbah ampas kopi Gayo yang mengandung selulosa, hemiselulosa, lignin, serta polifenol dalam jumlah tinggi.

Kandungan tersebut dimanfaatkan untuk meningkatkan kekuatan mekanik, stabilitas termal, sifat hidrofobik, hingga aktivitas antioksidan pada material komposit.

Baca Juga: Spanyol Juara Piala Dunia 2026! Tundukkan Argentina 1-0, Akhiri Penantian Gelar Selama 16 Tahun

Penelitian ini juga memadukan nanopartikel ZnO untuk memperkuat sifat antimikroba, meningkatkan perlindungan terhadap sinar ultraviolet, sekaligus memperbaiki karakteristik mekanik film.

“Hasil penelitian menunjukkan bahwa film komposit yang dikembangkan berhasil terbentuk secara utuh dan fleksibel. Penambahan ampas kopi Gayo menghasilkan perubahan warna kecokelatan sebagai indikasi keberadaan partikel lignoselulosa. Sedangkan penambahan ZnO tetap menghasilkan film yang homogen tanpa retakan, sehingga layak untuk karakterisasi lebih lanjut," kata Haya.

Lebih lanjut, Haya menjelaskan bahwa hasil karakterisasi material menunjukkan adanya interaksi antarmolekul antara kitosan, komponen lignoselulosa dari ampas kopi, serta nanopartikel ZnO.

Sinergi ketiga komponen tersebut mampu meningkatkan kekuatan mekanik, memperbaiki sifat hidrofobik, menurunkan permeabilitas uap air, sekaligus meningkatkan kemampuan film dalam menghalangi paparan radiasi ultraviolet dibandingkan film kitosan tanpa modifikasi.

“Selain memiliki sifat fisik yang lebih baik, film komposit tersebut juga menunjukkan aktivitas antibakteri terhadap Staphylococcus aureus dan Escherichia coli.

Kombinasi limbah ampas kopi Gayo dan ZnO menghasilkan efektivitas penghambatan mikroba yang paling tinggi, sehingga berpotensi mendukung pengembangan kemasan pangan aktif (active packaging),” paparnya.

Haya menambahkan bahwa pemanfaatan limbah ampas kopi Gayo tidak hanya meningkatkan nilai ekonomi limbah, tetapi juga mendukung penerapan ekonomi sirkular melalui pengembangan kemasan pangan yang lebih berkelanjutan.

“Penelitian ini juga membuka peluang pemanfaatan biomaterial lokal dengan sifat mekanik, penghalang, perlindungan UV, dan antibakteri yang lebih baik. Hal ini untuk mendukung inovasi kemasan pangan masa depan,” pungkas Haya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.