Banten

BRIN Ungkap Fakta Baru Ibu Kota Kerajaan Majapahit di Trowulan, AI Ikut Dilibatkan

Viona Sebastian Nolani | 20 Juli 2026, 16:06 WIB
BRIN Ungkap Fakta Baru Ibu Kota Kerajaan Majapahit di Trowulan, AI Ikut Dilibatkan
Foto: Tangkapan layar paparan Irfan Mahmud, Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PRAPS) BRIN.

AKURAT BANTEN - Penelitian mengenai lokasi ibu kota Kerajaan Majapahit di kawasan Trowulan, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, dinilai perlu dilakukan dengan pendekatan multidisiplin agar mampu menghadirkan rekonstruksi sejarah yang lebih utuh sekaligus memperkuat upaya pelestarian kawasan cagar budaya.

Pendekatan lintas ilmu tersebut dianggap penting karena dinamika perkembangan Kota Majapahit tidak bisa dipahami hanya dari sudut pandang arkeologi semata.

Kepala Pusat Riset Arkeologi Prasejarah dan Sejarah (PRAPS) BRIN, Irfan Mahmud, menyampaikan bahwa riset mengenai Majapahit saat ini harus melibatkan beragam bidang keilmuan, mulai dari geologi, geografi, arsitektur, ilmu lingkungan, teknologi digital, penginderaan jauh, hingga kecerdasan artifisial.

"Majapahit merupakan memori kolektif bangsa yang merekam perkembangan politik, ekonomi, teknologi, tata kota, hingga interaksi budaya Nusantara," ujar Irfan pada Webinar Forum Kebhinnekaan Seri #37 bertajuk "Wawasan Baru di Metropolitan Majapahit", Selasa (15/7).

Baca Juga: Terungkap Potensi Logam Tanah Jarang di Lampung, Bisa Jadi Bahan Baku Industri Pertahanan Indonesia

Irfan menjelaskan, proyek Indonesian Field of Archaeology di Trowulan yang dilaksanakan pada dekade 1990-an telah menghasilkan beragam data arkeologi yang sangat berharga.

Meski demikian, masih banyak aspek penting yang belum berhasil diungkap, seperti batas wilayah kota, pola permukiman, sistem pengelolaan air, jaringan jalan, kawasan industri, hingga bentang lanskap budaya Kerajaan Majapahit.

Ia menekankan bahwa pelestarian kawasan Majapahit tidak bisa dibebankan kepada satu lembaga saja.

Kolaborasi antara BRIN, Kementerian Kebudayaan, Balai Pelestarian Kebudayaan, Ikatan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI), perguruan tinggi, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya menjadi faktor utama agar kegiatan penelitian dan pelestarian dapat berlangsung secara berkelanjutan.

Baca Juga: Ampas Kopi Gayo Ternyata Berpotensi Jadi Kemasan Pangan Masa Depan

Di sisi lain, Kepala Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (Arbastra) BRIN, Hery Jogaswara, menilai forum ilmiah memiliki peran strategis sebagai media untuk menyebarluaskan hasil penelitian sekaligus mempererat kolaborasi dalam riset arkeologi.

Hery mengatakan, kerja sama antara BRIN dan Kementerian Kebudayaan terus diperkuat melalui nota kesepahaman yang mencakup bidang penelitian, pemanfaatan infrastruktur riset, hingga pengelolaan koleksi ilmiah arkeologi.

"Sebagai tindak lanjut, kedua institusi telah membentuk tim bersama untuk mendukung pemanfaatan koleksi arkeologi bagi kepentingan pelestarian budaya," jelasnya.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa BRIN terus menjalin koordinasi dengan Balai Pelestarian Kebudayaan untuk mendukung kegiatan ekskavasi di kawasan Majapahit.

Selain itu, BRIN juga sedang menyiapkan program penelitian jangka panjang di Situs Liangan, Jawa Tengah.

Menurutnya, perkembangan hasil riset di berbagai situs arkeologi, termasuk Sentonorejo, perlu terus disampaikan kepada masyarakat berdasarkan temuan ilmiah agar pemahaman terhadap pentingnya warisan budaya Indonesia semakin meningkat.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.