Nanik S Deyang Mundur dari BGN, Tinggalkan 4 Program Prioritas untuk Benahi MBG

AKURAT BANTEN - Empat program prioritas untuk membenahi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi warisan yang ditinggalkan Nanik S Deyang sebelum mengundurkan diri sebagai Kepala Badan Gizi Nasional (BGN).
Keputusan mundur itu diambil setelah kondisi kesehatannya menurun dan ia harus menjalani pengobatan penyakit jantung di luar negeri.
Pengunduran diri Nanik disampaikan langsung kepada Presiden Prabowo Subianto pada Rabu (22/7/2026) sebelum keberangkatannya ke luar negeri.
Informasi tersebut dikonfirmasi oleh Asisten Khusus Presiden Bidang Komunikasi dan Analis Kebijakan, Dirgayuza Setiawan.
Baca Juga: Kepala BGN Nanik S Deyang Mundur, Prabowo Siapkan Jabatan Baru Usai Berobat ke Luar Negeri
"Hari ini Ibu Nanik Deyang berpamitan kepada Presiden Prabowo untuk menjalani pengobatan jantung sekaligus mengundurkan diri sebagai Kepala Badan Gizi Nasional," tulis Dirgayuza melalui akun Instagram resminya.
Melalui akun Facebook pribadinya, Nanik menegaskan bahwa keputusan berobat ke luar negeri bukan karena meragukan kemampuan tenaga medis di Indonesia.
Ia menyebut langkah tersebut diambil untuk mendapatkan second opinion atas kondisi kesehatannya.
"Ini bukan karena tidak percaya dokter yang hebat di Indonesia, tapi untuk second opinion dan kebetulan ada kawan yang merekomendasikan di tempat yang mau saya tuju," tulisnya.
Baca Juga: BRIN Kembangkan Purwoceng, Tanaman Obat Asli Indonesia yang Terancam Punah, Ini Terobosan Terbarunya
Nanik baru menjabat sebagai Kepala BGN sejak 8 Juni 2026 setelah menggantikan Dadan Hindayana yang dicopot usai ditetapkan sebagai tersangka dugaan korupsi Program MBG.
Namun, sekitar 45 hari memimpin lembaga tersebut, ia memutuskan mengakhiri masa jabatannya karena alasan kesehatan.
Sebelum mundur, Nanik telah menyiapkan empat fokus utama untuk membenahi Program MBG.
Prioritas pertama ialah mengubah fokus penerima manfaat agar lebih diarahkan kepada kelompok rentan, yakni ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan siswa sekolah dasar, bukan semata mengejar target 82 juta penerima.
Baca Juga: BRIN Ungkap Fakta Baru Ibu Kota Kerajaan Majapahit di Trowulan, AI Ikut Dilibatkan
"Jadi kami tidak akan mengejar ke 82 juta, tapi bagaimana dapur-dapur ini sehat," ujar Nanik dalam konferensi pers di Kantor BGN, Jakarta, Kamis (5/6/2026).
Program kedua adalah memberlakukan moratorium pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG baru.
Kebijakan ini dilakukan agar BGN dapat menata kembali persebaran dapur yang dinilai belum merata.
Selanjutnya, seluruh dapur MBG yang telah beroperasi akan dievaluasi untuk memastikan pemenuhan standar penyediaan makanan bergizi.
Baca Juga: Terungkap Potensi Logam Tanah Jarang di Lampung, Bisa Jadi Bahan Baku Industri Pertahanan Indonesia
Dapur yang belum memenuhi standar akan dihentikan sementara hingga dilakukan perbaikan.
Adapun prioritas terakhir adalah menyusun skema khusus pelaksanaan MBG di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang memiliki tantangan geografis berbeda dengan daerah lain.
Di tengah keputusan mundurnya, Nanik juga menepis anggapan bahwa Program MBG memiliki kepentingan politik menjelang Pemilu 2029.
"Kalau untuk tujuan politis, yang sekarang mayoritas penerima manfaat kan anak-anak balita sampai SD, tiga tahun lagi tahun 2029 mereka belum nyoblos," tegasnya.
Baca Juga: Ampas Kopi Gayo Ternyata Berpotensi Jadi Kemasan Pangan Masa Depan
Menurut Nanik, Program MBG merupakan intervensi gizi yang dirancang untuk menyiapkan generasi emas Indonesia.
Selama memimpin BGN, ia mengklaim telah mengevaluasi hampir 28.000 SPPG, menghentikan ekspansi dapur di wilayah yang sudah jenuh, serta menemukan 414 SPPG bermasalah yang disebut membuat ratusan miliar rupiah kembali ke kas negara.
Meski menerima pengunduran dirinya, Presiden Prabowo disebut tetap meminta Nanik berperan mengawasi jalannya BGN.
Bahkan, muncul wacana pembentukan Dewan Pengawas BGN yang kemungkinan akan dipimpin olehnya.
Baca Juga: Spanyol Juara Piala Dunia 2026! Tundukkan Argentina 1-0, Akhiri Penantian Gelar Selama 16 Tahun
"Presiden menyetujui, namun saya diminta tetap ikut mengawasi BGN. Kemungkinan presiden akan membentuk dewan pengawas di mana saya disuruh menjadi ketua dewan pengawasnya," ujar Nanik.
Ia pun menutup keterangannya dengan nada bercanda.
"Kalau mencereweti kayaknya masih bisa, yang penting tidak berhubungan dengan pegang uang, sumpah trauma akut."
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Geger! Survei SMRC Ungkap Skor Kepemimpinan Tokoh Nasional, Mahfud MD di Puncak, Gibran Terbawah
- 2Mahfud MD Soroti OTT KPK di BNPB, Dana Bencana Diduga Bermasalah saat Warga Butuh Bantuan
- 3Tiga Hari Lagi! Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Harus Punya Sertifikat
- 4Bikin Bangga! Persib Menang atas The Cong-Viettel, Liga Indonesia Kini Tembus 16 Besar Asia
- 5Singgung Asap dan Oksigen, Syahganda Dikritik Pejabat Malaysia! Indonesia Didesak Minta Maaf
- 6Lille Dihajar Arsenal 0-3, tapi Calvin Verdonk Ukir Rekor Bersejarah untuk Indonesia di Liga Champions!
- 7Tangsel Rapi, DPUPR Banten Mulai Bersihkan Kabel Internet Semrawut di Jalan Aria Putra
- 8Man City Dihantam Kasus Finansial, Steven Gerrard Angkat Suara: Bukan Degradasi, Hukuman Ini yang Harus Diterima!
- 9Mbappe Ukir Sejarah saat Real Madrid Comeback 4-3! Rekor Messi Resmi Terlewati, Golnya Tambah Catatan Gila
- 10Real Madrid Menang Dramatis di Markas Roma, Mourinho Malah Tak Mau Selebrasi: Alasannya Bikin Haru!









