Harga Pangan Naik Lagi usai Program Makan Bergizi Gratis Dimulai, Telur dan Ayam Jadi Sorotan

AKURAT BANTEN - Harga sejumlah bahan pangan kembali merangkak naik setelah program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali dijalankan secara nasional.
Kondisi ini tidak hanya membebani pengeluaran rumah tangga, tetapi juga menekan keuntungan para pedagang.
Sejumlah analis menilai lonjakan harga tersebut menjadi cerminan persoalan struktural yang selama ini membayangi rantai pasok pangan di Indonesia.
Kenaikan harga terjadi bersamaan dengan kembali beroperasinya hampir 30.000 dapur penyedia MBG pada pekan ini, menyusul dimulainya kembali kegiatan belajar mengajar setelah libur sekolah selama tiga pekan.
Dengan berakhirnya masa jeda program, kebutuhan bahan pangan untuk memenuhi pasokan makanan gratis pun kembali meningkat.
Baca Juga: Nanik S Deyang Mundur dari BGN, Tinggalkan 4 Program Prioritas untuk Benahi MBG
Sebelumnya, program tersebut sempat dihentikan sementara setelah menghadapi berbagai persoalan tata kelola, mulai dari penyelidikan dugaan korupsi hingga sejumlah kasus keracunan makanan yang dikaitkan dengan program andalan Presiden Prabowo Subianto.
Seiring pengadaan bahan pangan kembali dilakukan secara masif, berbagai daerah melaporkan kenaikan harga komoditas seperti beras, sayuran, rempah-rempah, telur, hingga ayam broiler.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan ayam broiler menjadi komoditas yang mengalami kenaikan paling tinggi.
Dalam sepekan, harga rata-ratanya melonjak lebih dari 4 persen, dari Rp20.878 per kilogram menjadi Rp21.736 per kilogram pada Selasa.
Sementara itu, Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat harga telur ayam ras pekan ini berada di kisaran Rp20.300 hingga Rp28.200 per kilogram.
Baca Juga: Kepala BGN Nanik S Deyang Mundur, Prabowo Siapkan Jabatan Baru Usai Berobat ke Luar Negeri
Sulawesi Utara menjadi daerah dengan harga telur tertinggi, bahkan melampaui harga acuan eceran yang ditetapkan pemerintah.
Untuk meredam gejolak harga, pemerintah pada Rabu menetapkan harga acuan baru di tingkat peternak, yakni Rp19.500 per kilogram untuk ayam hidup dan Rp24.400 per kilogram untuk telur.
Meski demikian, kebijakan tersebut belum sepenuhnya meredakan kekhawatiran masyarakat.
Banyak konsumen mengaku harga di pasar masih berada jauh di atas patokan pemerintah.
Salah satunya dirasakan Gitaratri, karyawan swasta berusia 27 tahun asal Tangerang Selatan, Banten.
Baca Juga: Polisi Ungkap Motif Pria Sekap dan Aniaya Pacar di Bekasi Selama 6 Hari, Dipicu Riwayat Perjalanan
Melansir The Jakarta Post, ia mengaku pengeluaran belanja rumah tangganya meningkat cukup signifikan dalam sepekan terakhir.
Menurutnya, harga tahu yang biasanya sekitar Rp5.000 per bungkus kini naik menjadi Rp7.000.
Selain itu, bawang putih, bawang merah, dan cabai di Pasar Tradisional Graha Raya Bintaro, tempat ia berbelanja setiap tiga pekan sekali, juga mengalami kenaikan harga.
“Yang paling saya rasakan adalah harga telur. Harganya jauh lebih murah ketika program makan gratis dihentikan,” katanya.
Tekanan tidak hanya dirasakan konsumen.
Baca Juga: Ampas Kopi Gayo Ternyata Berpotensi Jadi Kemasan Pangan Masa Depan
Para pedagang juga mengeluhkan kenaikan harga dari tingkat pemasok yang membuat margin keuntungan mereka semakin menipis.
Sahlan, pedagang sayur berusia 56 tahun di Jakarta Selatan, mengatakan harga kulakan sudah mulai naik bahkan sebelum sekolah kembali aktif.
Kenaikan tersebut terjadi pada berbagai komoditas, termasuk mentimun, kacang panjang, dan kacang tanah.
“Misalnya, saya membeli mentimun hari ini seharga Rp 15.000 dan menjualnya seharga Rp 17.000. Ketika saya membeli lagi, harganya sudah naik menjadi Rp 17.000,” kata pedagang berusia 56 tahun itu.
“Saat ini, kami terus-menerus beroperasi dengan kerugian. Sudah lebih dari sebulan seperti ini. Yang kami lakukan hanyalah mengeluarkan lebih banyak uang,” lanjutnya.
Baca Juga: Terungkap Potensi Logam Tanah Jarang di Lampung, Bisa Jadi Bahan Baku Industri Pertahanan Indonesia
Peneliti Center of Reform on Economics (CORE), Eliza Mardian, menilai kenaikan harga pangan bukan semata-mata dipicu oleh kembalinya program MBG.
Menurutnya, program tersebut hanya memperlihatkan persoalan mendasar yang telah lama terjadi dalam sistem distribusi pangan nasional.
Ia menjelaskan, gangguan produksi akibat cuaca, penurunan hasil panen musiman, serta distribusi yang belum efisien masih menjadi penyebab utama inflasi pangan.
Lonjakan permintaan dari program makan gratis hanya memperkuat tekanan yang sebelumnya sudah terjadi.
“Masalahnya pada dasarnya bersifat struktural. Para produsen meningkatkan produksi sebagai antisipasi terhadap peningkatan permintaan dari program makan gratis, tetapi harapan tersebut terbukti terlalu optimis,” kata Eliza.
Baca Juga: BRIN Ungkap Fakta Baru Ibu Kota Kerajaan Majapahit di Trowulan, AI Ikut Dilibatkan
“Pada saat yang sama, melemahnya daya beli konsumen semakin memperlebar kesenjangan antara penawaran dan permintaan,” lanjutnya.
Eliza menambahkan, perencanaan pengadaan yang lebih matang serta sistem rantai pasok yang lebih fleksibel diperlukan agar lonjakan permintaan dari program MBG tidak kembali memicu gejolak harga pangan.
Di sisi lain, pemerintah melalui Bapanas mengakui bahwa penyerapan hasil produksi peternak sempat melemah selama program MBG dihentikan saat libur sekolah.
Dalam pernyataan yang dirilis Rabu, Bapanas bahkan menyebut kenaikan harga terbaru sebagai "sinyal positif" bagi keberlangsungan usaha para peternak unggas.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Geger! Survei SMRC Ungkap Skor Kepemimpinan Tokoh Nasional, Mahfud MD di Puncak, Gibran Terbawah
- 2Mahfud MD Soroti OTT KPK di BNPB, Dana Bencana Diduga Bermasalah saat Warga Butuh Bantuan
- 3Tiga Hari Lagi! Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Harus Punya Sertifikat
- 4Singgung Asap dan Oksigen, Syahganda Dikritik Pejabat Malaysia! Indonesia Didesak Minta Maaf
- 5Bikin Bangga! Persib Menang atas The Cong-Viettel, Liga Indonesia Kini Tembus 16 Besar Asia
- 6Juventus Tak Terima Kalah dari Cristiano Ronaldo! Kasus Gaji Rp190 Miliar Kini Dibawa ke Pengadilan Tertinggi Italia
- 7Lille Dihajar Arsenal 0-3, tapi Calvin Verdonk Ukir Rekor Bersejarah untuk Indonesia di Liga Champions!
- 8Tangsel Rapi, DPUPR Banten Mulai Bersihkan Kabel Internet Semrawut di Jalan Aria Putra
- 9Mbappe Ukir Sejarah saat Real Madrid Comeback 4-3! Rekor Messi Resmi Terlewati, Golnya Tambah Catatan Gila
- 10Real Madrid Menang Dramatis di Markas Roma, Mourinho Malah Tak Mau Selebrasi: Alasannya Bikin Haru!








