Terongkar Penyebab Hujan Ekstrem di Semarang, Jawab Misteri Mengapa Hanya Pantura yang Diguyur Deras

AKURAT BANTEN - Memahami faktor penyebab hujan ekstrem menjadi langkah penting untuk meningkatkan ketepatan prakiraan cuaca di Indonesia.
Pengetahuan ini juga berkontribusi dalam memperkuat sistem peringatan dini terhadap bencana hidrometeorologi yang semakin sering terjadi.
Kepala Pusat Riset Iklim dan Atmosfer (PRIMA) BRIN, Albertus Sulaiman, menegaskan bahwa riset mengenai dinamika atmosfer perlu terus dikembangkan agar mampu mendukung mitigasi bencana sekaligus menjadi dasar pengambilan keputusan berbasis ilmu pengetahuan.
“Melalui penelitian seperti ini, kita dapat memahami bagaimana berbagai proses atmosfer saling berinteraksi hingga memicu kejadian hujan ekstrem. Pengetahuan tersebut penting untuk mendukung pengembangan sistem peringatan dini dan memperkuat upaya mitigasi bencana hidrometeorologi di Indonesia,” ujarnya pada Coffee Morning PRIMA, Jumat (24/7).
Baca Juga: Denny Indrayana Kritik Anggaran MBG, Sebut Prabowo Berisiko Langgar Sumpah Jabatan
Salah satu penelitian yang dilakukan mengulas peristiwa hujan ekstrem di pesisir utara Jawa Tengah pada 13 Maret 2024.
Peristiwa tersebut memicu banjir besar di sejumlah daerah, termasuk Kota Semarang.
Data dari tiga stasiun BMKG di Semarang menunjukkan curah hujan harian mencapai 171,6 milimeter di Tanjung Emas, 196 milimeter di Ahmad Yani, dan 203,2 milimeter di Stasiun Klimatologi Jawa Tengah.
Artinya, seluruh stasiun mencatat curah hujan lebih dari 150 milimeter, bahkan salah satunya melampaui 200 milimeter dalam sehari.
Baca Juga: Pengacara Soroti Skenario Jika Polemik Ijazah Jokowi Berujung Putusan Hukum, Negara Harus Bertindak?
Menariknya, pada waktu yang sama wilayah Jawa Tengah bagian tengah dan selatan tidak mengalami hujan dengan intensitas serupa.
Perbedaan kondisi tersebut kemudian memunculkan pertanyaan yang mendorong penelitian lebih lanjut.
Jawaban atas pertanyaan itu diperoleh melalui penelitian yang dipimpin Alfan Sukmana Praja bersama tim peneliti lintas institusi.
Riset tersebut melibatkan BRIN, BMKG, Universitas Padjadjaran, Telkom University, Institut Teknologi Bandung, serta Universiti Sains Malaysia.
Hasil penelitian telah diterbitkan dalam jurnal internasional Journal of Atmospheric and Solar-Terrestrial Physics melalui artikel berjudul Multi-factor Driving Mechanism of the 13 March 2024 Extreme Rainfall over Northern Coastal Central Java.
Artikel ilmiah itu tersedia secara daring sejak 30 Juni 2026 dan kembali dipresentasikan kepada sivitas riset dalam kegiatan Coffee Morning PRIMA.
Alfan menjelaskan bahwa curah hujan harian di atas 150 milimeter termasuk kategori langka berdasarkan catatan klimatologi sekitar 15 tahun terakhir di wilayah Semarang.
Pada kejadian sebelumnya, hujan dengan intensitas tinggi umumnya hanya tercatat di satu atau dua titik pengamatan.
Namun, pada 13 Maret 2024, tiga stasiun cuaca di Semarang secara bersamaan mencatat curah hujan harian melebihi 150 milimeter, bahkan salah satunya melampaui 200 milimeter.
“Yang ingin kami pahami adalah mengapa hujan sangat lebat terkonsentrasi di pesisir utara, sedangkan wilayah tengah dan selatan Jawa Tengah tidak mengalami kondisi yang sama,” ujarnya.
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tim peneliti memanfaatkan berbagai sumber data.
Data yang digunakan meliputi hasil pengamatan BMKG dan Automatic Weather Station (AWS), radar cuaca, citra satelit Himawari-8, data presipitasi GPM, data angin ASCAT, hingga data reanalisis atmosfer ERA5.
Penelitian juga memanfaatkan model HYSPLIT guna melacak asal serta lintasan uap air, ditambah simulasi menggunakan Weather Research and Forecasting Model (WRF).
Pendekatan ini memungkinkan peneliti menganalisis proses pembentukan hujan mulai dari skala regional hingga kondisi lokal di sekitar Semarang.
“Hasil penelitian menunjukkan bahwa hujan ekstrem tersebut terjadi karena beberapa fenomena atmosfer muncul secara bersamaan. Fenomena-fenomena ini membawa pasokan uap air dalam jumlah besar menuju Pulau Jawa dan menciptakan kondisi yang sangat mendukung terbentuknya awan hujan. Di antaranya adalah aktivitas Madden-Julian Oscillation (MJO), Westerly Wind Burst (WWB) atau penguatan angin baratan, Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS) atau aliran angin dari belahan bumi utara yang melintasi khatulistiwa, serta keberadaan depresi tropis di selatan Indonesia,” Alfan mengungkapkan.
Meski demikian, melimpahnya pasokan uap air belum sepenuhnya menjelaskan mengapa hujan ekstrem hanya terkonsentrasi di kawasan Pantura Jawa Tengah.
Menurut Alfan, faktor lokal justru berperan besar dalam menentukan lokasi turunnya hujan dengan intensitas paling tinggi.
Interaksi angin laut dan angin darat menyebabkan massa udara lembap terkumpul di wilayah pesisir.
Di sisi lain, kawasan pegunungan di selatan Semarang bertindak sebagai penghalang alami yang memaksa udara lembap bergerak naik ke atmosfer.
Ketika udara naik, uap air lebih mudah mengalami kondensasi menjadi awan hujan sehingga hujan terus berkembang di kawasan pesisir hingga malam hari.
Untuk memastikan pengaruh topografi tersebut, tim peneliti melakukan simulasi dengan menurunkan bahkan menghilangkan ketinggian pegunungan dalam model komputer.
Hasil simulasi menunjukkan perubahan pola hujan yang sangat signifikan.
Saat pegunungan dibuat lebih rendah, pusat hujan bergeser menuju wilayah tengah Jawa Tengah.
Sementara itu, ketika topografi dihilangkan, hujan ekstrem di kawasan pesisir hampir tidak lagi terbentuk.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa bentuk permukaan bumi memiliki peran penting dalam memperkuat hujan, meskipun bukan menjadi satu-satunya faktor penyebab.
Secara keseluruhan, penelitian ini membuktikan bahwa hujan ekstrem pada 13 Maret 2024 dipengaruhi oleh kombinasi berbagai proses atmosfer.
Fenomena atmosfer berskala besar berfungsi membawa pasokan uap air sekaligus menciptakan kondisi yang mendukung pembentukan hujan.
Sementara itu, faktor lokal seperti interaksi angin darat-laut dan kondisi topografi menentukan lokasi terjadinya hujan dengan intensitas paling tinggi.
“Temuan ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah bagi pengembangan prakiraan cuaca ekstrem dan sistem peringatan dini di Indonesia. Penelitian tersebut belum secara langsung menguji peningkatan akurasi suatu sistem prakiraan operasional, tetapi memberikan pemahaman proses yang penting untuk memperbaiki diagnosis kejadian hujan ekstrem. Dengan memahami bagaimana berbagai faktor atmosfer saling berinteraksi, risiko bencana hidrometeorologi di wilayah pesisir yang berdekatan dengan pegunungan dapat diantisipasi dengan lebih baik,” ujar Alfan.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 4Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 7MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 8Ijazah SMA Gibran Kembali Dipertanyakan, Pernyataan Loyalis Jokowi Bikin Polemik Makin Panas
- 9Bukan Cuma Mbappé dan Vinicius, Mourinho Siapkan 4 Pilar Real Madrid untuk Era Barunya
- 10Rodri Dapat Nomor 16 Barcelona, Fermín López Rela Melepas: “Akan Berada di Tangan yang Tepat”









