Banten

Skandal Tiket Piala Dunia 2026 Meledak! FIFA Dipanggil Gara-Gara Harga Selangit

Aullia Rachma Puteri | 28 Mei 2026, 16:26 WIB
Skandal Tiket Piala Dunia 2026 Meledak! FIFA Dipanggil Gara-Gara Harga Selangit
FIFA mendapat teguran terkait harga tiket yang terlalu mahal.

AKURAT BANTEN - Piala Dunia 2026 belum dimulai, tetapi FIFA sudah diterpa badai kontroversi besar. Federasi sepak bola dunia itu kini terancam menghadapi sanksi hukum setelah sistem penjualan tiket turnamen dianggap merugikan banyak suporter.

Harga tiket yang melonjak ekstrem hingga dugaan manipulasi penjualan membuat otoritas di Amerika Serikat mulai turun tangan melakukan penyelidikan resmi.

Jaksa Agung New York Letitia James dan Jaksa Agung New Jersey Jennifer Davenport resmi mengeluarkan subpoena atau panggilan hukum kepada FIFA terkait praktik penjualan tiket Piala Dunia 2026, khususnya untuk pertandingan yang digelar di MetLife Stadium, New Jersey, termasuk partai final.

Masalah utama yang dipersoalkan adalah sistem dynamic pricing atau harga dinamis yang untuk pertama kalinya digunakan FIFA di Piala Dunia.

Baca Juga: Belgia Tak Bisa Santai! Mesir, Iran, dan Selandia Baru Punya Ambisi Besar di Grup G

Dalam sistem ini, harga tiket bisa berubah mengikuti permintaan pasar. Akibatnya, harga tiket melonjak sangat tinggi hanya dalam hitungan jam setelah penjualan dibuka.

Beberapa laporan bahkan menyebut tiket final Piala Dunia 2026 sempat dijual hingga lebih dari 30 ribu dolar AS atau sekitar Rp490 juta. Sementara tiket pertandingan biasa di fase grup ada yang melonjak di atas 2.000 dolar AS.

Tak hanya soal harga, FIFA juga dituduh menciptakan “kelangkaan palsu” dalam penjualan tiket. Banyak fans mengeluhkan kursi yang awalnya tersedia tiba-tiba hilang dari sistem, lalu muncul kembali dengan harga jauh lebih mahal. Selain itu, beberapa pembeli mengaku mendapatkan posisi kursi yang berbeda dari kategori yang mereka bayar.

“Fans berhak mendapatkan transparansi dan keadilan,” kata Letitia James dalam pernyataannya.

Baca Juga: Tak Cukup Punya Fanatik Suporter, Persebaya Disebut Harus Tiru Cara Persib Jadi Juara

Kontroversi ini langsung memicu kemarahan banyak pencinta sepak bola dunia. Di media sosial, banyak fans menilai Piala Dunia kini semakin sulit dijangkau suporter biasa dan hanya menjadi ajang hiburan untuk kalangan elite.

Padahal FIFA sebelumnya sempat menjanjikan tiket fase grup mulai dari 60 dolar AS. Namun dalam praktiknya, harga yang muncul di platform penjualan sering kali jauh lebih mahal akibat perubahan sistem harga otomatis.

Presiden FIFA Gianni Infantino sebelumnya sempat membela kebijakan tersebut. Ia menyebut harga tiket mengikuti “market rates” atau harga pasar yang berlaku.

Namun pernyataan itu justru memicu kritik baru. Banyak pihak menilai FIFA terlalu berorientasi bisnis dan melupakan identitas Piala Dunia sebagai pesta sepak bola rakyat.

Baca Juga: MU Akhirnya Bergerak! Ederson Tinggal Selangkah Jadi Rekrutan Perdana Era Michael Carrick

Menariknya, ini bukan pertama kalinya FIFA mendapat sorotan soal tiket. Pada Club World Cup 2025 lalu, FIFA juga dikritik karena harga tiket dianggap terlalu mahal hingga penjualan sempat sepi sebelum akhirnya dilakukan pemotongan harga besar-besaran.

Piala Dunia 2026 sendiri memang diproyeksikan menjadi turnamen terbesar sepanjang sejarah. Dengan format baru 48 tim dan total 104 pertandingan, FIFA diperkirakan akan meraup pendapatan hingga 13 miliar dolar AS selama siklus turnamen ini. Sekitar 3 miliar dolar AS di antaranya disebut berasal dari tiket dan hospitality.

Situasi ini membuat investigasi terhadap FIFA menjadi perhatian besar. Jika terbukti melanggar aturan perlindungan konsumen di Amerika Serikat, FIFA berpotensi menghadapi denda besar atau perubahan sistem penjualan tiket.

Meski begitu, FIFA hingga kini masih belum memberikan komentar resmi terkait subpoena tersebut.

Baca Juga: Skuad Belanda untuk Piala Dunia 2026 Resmi Dirilis, Tijjani Reijnders Jadi Sorotan!

Di tengah antusiasme menyambut Piala Dunia 2026, kontroversi tiket ini menjadi noda besar bagi turnamen yang seharusnya menjadi pesta sepak bola dunia. Bagi banyak suporter, masalah utamanya sederhana: sepak bola terasa semakin jauh dari rakyat yang selama ini menghidupkannya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.