Iran Murka atas Isu Piala Dunia, AS Dituding Gunakan Politik di Sepak Bola

AKURAT BANTEN - Ketegangan politik ikut merambah dunia sepak bola setelah Kedutaan Besar Iran di Italia melontarkan kritik tajam kepada Amerika Serikat.
Pernyataan itu muncul sebagai respons atas kabar yang menyebut kemungkinan tim nasional Italia menggantikan Iran di ajang Piala Dunia mendatang.
Dalam pernyataannya, pihak kedutaan menilai sepak bola seharusnya berdiri di atas sportivitas, bukan dijadikan alat kepentingan politik antarnegara.
Baca Juga: Pemkot Tangerang Amankan Aset Negara di Eks SDN Rawa Bokor dengan Terus Lakukan Pendekatan Persuasif
“Sepak bola adalah milik rakyat, bukan milik politisi. Italia meraih kejayaannya di lapangan, bukan karena keuntungan politik,” demikian bunyi pernyataan resmi tersebut.
Mereka juga menegaskan bahwa upaya untuk menyingkirkan Iran dari kompetisi internasional hanya memperlihatkan apa yang disebut sebagai 'kebangkrutan moral' Amerika Serikat.
Baca Juga: Perang Iran Berlanjut? Israel Tunggu Lampu Hijau AS untuk Serangan Militer ke Teheran
Menurut mereka, bahkan kehadiran sebelas pemain muda Iran di lapangan pun dianggap sebagai ancaman, sesuatu yang dinilai tidak masuk akal dalam semangat olahraga.
Di sisi lain, Presiden Komite Olimpiade Italia, Luciano Buonfiglio, turut angkat suara. Ia menyebut wacana penggantian tersebut sebagai sesuatu yang menyinggung prinsip dasar kompetisi olahraga.
Buonfiglio menegaskan bahwa tiket ke Piala Dunia harus diperoleh melalui perjuangan di lapangan, bukan lewat jalur diplomasi atau tekanan politik.
Baca Juga: Penolakan 'Nambah Ronde' Berujung Maut, Pria Cekik Selingkuhan hingga Tewas di Kamar Hotel Sumut
Sebelumnya, utusan khusus AS untuk kemitraan global, Paolo Zampolli, dalam wawancara dengan Financial Times mengaku pernah mengusulkan opsi tersebut di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik.
Laporan media itu juga mengaitkan langkah tersebut dengan manuver Presiden Donald Trump yang disebut tengah mencoba menggunakan “diplomasi sepak bola” untuk memperbaiki hubungan dengan sekutu NATO, termasuk Italia.
Namun situasi menjadi semakin kompleks karena Italia sendiri baru saja gagal lolos ke Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara beruntun, setelah dikalahkan Bosnia dan Herzegovina pada akhir Maret lalu.***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Geger! Survei SMRC Ungkap Skor Kepemimpinan Tokoh Nasional, Mahfud MD di Puncak, Gibran Terbawah
- 2Mahfud MD Soroti OTT KPK di BNPB, Dana Bencana Diduga Bermasalah saat Warga Butuh Bantuan
- 3Tiga Hari Lagi! Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Harus Punya Sertifikat
- 4Bikin Bangga! Persib Menang atas The Cong-Viettel, Liga Indonesia Kini Tembus 16 Besar Asia
- 5Singgung Asap dan Oksigen, Syahganda Dikritik Pejabat Malaysia! Indonesia Didesak Minta Maaf
- 6Lille Dihajar Arsenal 0-3, tapi Calvin Verdonk Ukir Rekor Bersejarah untuk Indonesia di Liga Champions!
- 7Tangsel Rapi, DPUPR Banten Mulai Bersihkan Kabel Internet Semrawut di Jalan Aria Putra
- 8Man City Dihantam Kasus Finansial, Steven Gerrard Angkat Suara: Bukan Degradasi, Hukuman Ini yang Harus Diterima!
- 9Mbappe Ukir Sejarah saat Real Madrid Comeback 4-3! Rekor Messi Resmi Terlewati, Golnya Tambah Catatan Gila
- 10Real Madrid Menang Dramatis di Markas Roma, Mourinho Malah Tak Mau Selebrasi: Alasannya Bikin Haru!










