Banten

Belum Dimulai Sudah Penuh Drama, Ini 5 Ancaman yang Membayangi Piala Dunia 2026

Aullia Rachma Puteri | 9 Juni 2026, 21:14 WIB
Belum Dimulai Sudah Penuh Drama, Ini 5 Ancaman yang Membayangi Piala Dunia 2026
Piala Dunia 2026 dan berbagai drama yang sudah terjadi.

AKURAT BANTEN - Piala Dunia 2026 digadang-gadang sebagai turnamen terbesar dalam sejarah sepak bola. Untuk pertama kalinya, ajang empat tahunan tersebut akan diikuti 48 tim nasional dan diselenggarakan di tiga negara sekaligus, yakni Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

Dengan total 104 pertandingan, FIFA berharap turnamen ini menjadi pesta sepak bola paling spektakuler yang pernah ada.

Namun di balik ambisi besar tersebut, sejumlah persoalan mulai bermunculan. Bahkan sebelum satu bola pun ditendang, FIFA sudah dihadapkan pada berbagai tantangan yang berpotensi mengganggu jalannya kompetisi.

Mulai dari persoalan visa hingga ancaman cuaca ekstrem, berikut lima masalah besar yang sedang membayangi Piala Dunia 2026.

Baca Juga: Iran Protes Keras ke FIFA Jelang Piala Dunia 2026, Hanya Boleh Masuk Amerika Serikat Saat Hari Pertandingan

1. Polemik Visa dan Ketegangan Politik

Salah satu isu yang paling mendapat perhatian adalah persoalan visa bagi beberapa negara peserta, khususnya Iran. Hubungan diplomatik yang kurang harmonis antara Iran dan Amerika Serikat memunculkan kekhawatiran mengenai kelancaran proses perjalanan pemain, staf, hingga suporter.

Sebagai tuan rumah utama yang akan menggelar sebagian besar pertandingan, Amerika Serikat memiliki aturan imigrasi yang ketat.

Jika persoalan administrasi tidak ditangani dengan baik, situasi ini berpotensi menciptakan kontroversi yang bertolak belakang dengan semangat Piala Dunia sebagai ajang pemersatu bangsa-bangsa melalui sepak bola.

2. Harga Tiket yang Dinilai Terlalu Mahal

Bagi para penggemar sepak bola, menyaksikan Piala Dunia secara langsung adalah impian besar. Sayangnya, impian tersebut bisa menjadi semakin sulit diwujudkan akibat harga tiket yang terus menuai kritik.

Baca Juga: Cedera Hancurkan Mimpi Wesley di Piala Dunia 2026, Ederson Resmi Dipanggil Brasil

FIFA menerapkan sistem harga dinamis yang membuat harga tiket dapat berubah mengikuti tingkat permintaan. Akibatnya, biaya untuk menonton pertandingan tertentu bisa melonjak drastis, terutama pada laga-laga besar dan fase gugur.

Banyak suporter khawatir Piala Dunia akan semakin sulit dijangkau oleh kalangan menengah. Jika tren ini berlanjut, atmosfer khas yang selama ini diciptakan para pendukung dari berbagai negara bisa berkurang karena keterbatasan akses finansial.

3. Ancaman Keamanan di Kota Tuan Rumah

Menggelar turnamen terbesar di dunia tentu membutuhkan sistem keamanan yang luar biasa. Tantangan tersebut menjadi semakin kompleks karena Piala Dunia 2026 berlangsung di tiga negara dan belasan kota berbeda.

Beberapa wilayah di Meksiko masih menghadapi persoalan kejahatan terorganisir yang menjadi perhatian komunitas internasional.

Baca Juga: Mengapa Shin Tae-yong Memilih Persija? Ambisi Besar Mengembalikan Macan Kemayoran ke Puncak

Meski pemerintah setempat telah menyiapkan operasi pengamanan besar-besaran, FIFA tetap harus memastikan keselamatan jutaan wisatawan yang diperkirakan akan hadir selama turnamen berlangsung.

Keamanan menjadi faktor penting karena satu insiden saja dapat memberikan dampak besar terhadap citra penyelenggaraan Piala Dunia.

4. Sorotan terhadap Hak Pekerja dan HAM

Persoalan hak asasi manusia kembali menjadi topik yang tidak bisa dilepaskan dari penyelenggaraan turnamen besar FIFA.

Sejumlah organisasi internasional menyoroti kondisi tenaga kerja yang terlibat dalam pembangunan maupun renovasi infrastruktur pendukung Piala Dunia 2026.

Baca Juga: 5 Kandidat Terkuat Juara Piala Dunia 2026: Spanyol Memimpin, Argentina dan Prancis Mengintai

Meski kontroversinya tidak sebesar yang terjadi menjelang Piala Dunia Qatar 2022, berbagai kelompok advokasi tetap meminta FIFA meningkatkan transparansi dan pengawasan terhadap standar perlindungan pekerja.

Bagi FIFA, isu ini penting karena citra sebuah turnamen modern tidak hanya dinilai dari kemegahan stadion, tetapi juga dari bagaimana proses pembangunannya dilakukan.

5. Cuaca Ekstrem yang Mengancam Pemain

Masalah terakhir sekaligus yang paling sulit dikendalikan adalah cuaca. Sejumlah penelitian memperingatkan bahwa beberapa kota tuan rumah berpotensi mengalami suhu yang sangat tinggi selama Juni dan Juli, periode saat Piala Dunia berlangsung.

Kondisi tersebut dapat memengaruhi performa pemain secara signifikan. Risiko dehidrasi, kelelahan, hingga gangguan kesehatan akibat paparan panas ekstrem menjadi perhatian serius para ahli.

Baca Juga: Prediksi Portugal vs Chile: Ronaldo dan Generasi Emas Portugal Siap Kirim Peringatan ke Rival Piala Dunia

FIFA sebenarnya pernah menghadapi persoalan serupa pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat yang dikenal sebagai salah satu edisi terpanas dalam sejarah turnamen. Kini, dengan dampak perubahan iklim yang semakin nyata, tantangan tersebut diperkirakan akan menjadi lebih besar.

Tantangan Besar Sebelum Pesta Dimulai

Di atas kertas, Piala Dunia 2026 memiliki semua elemen untuk menjadi turnamen paling megah sepanjang masa. Format baru 48 peserta akan menghadirkan lebih banyak pertandingan, lebih banyak cerita, dan lebih banyak negara yang merasakan atmosfer Piala Dunia.

Namun sebelum dunia menikmati pesta sepak bola tersebut, FIFA masih harus menuntaskan berbagai pekerjaan rumah yang tidak ringan. Sebab keberhasilan Piala Dunia bukan hanya ditentukan oleh aksi para bintang di lapangan, tetapi juga oleh kemampuan penyelenggara mengatasi berbagai masalah di balik layar.

Jika kelima tantangan itu dapat diatasi, Piala Dunia 2026 berpotensi dikenang sebagai revolusi besar dalam sejarah sepak bola. Namun jika gagal, turnamen ini bisa menjadi bukti bahwa semakin besar sebuah acara, semakin besar pula masalah yang harus dihadapi.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.