Suporter Tandang Masih Dilarang, Atmosfer Liga Indonesia Jadi Berubah?

AKURAT BANTEN - Sepak bola Indonesia perlahan mulai bangkit setelah melewati salah satu masa tergelap dalam sejarahnya pasca Kanjuruhan disaster pada 2022.
Hingga hari ini masih ada satu hal yang terasa hilang dari atmosfer kompetisi nasional, yakni kehadiran suporter tandang dalam pertandingan-pertandingan besar.
Larangan away fans yang masih diterapkan di banyak laga memang lahir dari alasan keamanan, namun di sisi lain kebijakan tersebut juga mengubah wajah rivalitas dan nuansa pertandingan di BRI Super League maupun kompetisi kasta bawah Indonesia.
Dalam beberapa musim terakhir, stadion-stadion di Indonesia memang mulai kembali ramai dipenuhi penonton.
Baca Juga: El Clasico Memanas! Ini Pemain Kunci yang Bisa Tentukan Nasib Barcelona dan Real Madrid
Chant suporter kembali terdengar, koreografi perlahan muncul lagi, dan gairah sepak bola nasional mulai terasa hidup. Namun bagi banyak pencinta bola, atmosfer pertandingan masih terasa berbeda karena tribun tamu kosong tanpa kehadiran kelompok suporter lawan yang selama ini menjadi bagian penting dari identitas rivalitas sepak bola Indonesia.
Rivalitas seperti Persija Jakarta melawan Persib Bandung, atau duel panas Persebaya Surabaya kontra Arema FC, dulunya dikenal bukan hanya karena pertandingan di lapangan, tetapi juga karena atmosfer luar biasa yang tercipta di tribune stadion.
Kehadiran ribuan suporter tandang sering menghadirkan tekanan emosional yang membuat pertandingan terasa jauh lebih hidup dan penuh gengsi.
Kini suasana itu perlahan berubah. Banyak pertandingan besar memang tetap dipenuhi penonton tuan rumah, tetapi atmosfer rivalitas terasa tidak sepenuhnya lengkap.
Baca Juga: Prediksi Skor Persija vs Persib: Duel Panas Penentu Gelar, Siapa Raja Liga 1?
Tidak ada lagi adu chant antarsuporter, tidak ada lagi lautan warna berbeda di tribun stadion, dan tidak ada lagi cerita perjalanan away days yang selama bertahun-tahun menjadi budaya unik sepak bola Indonesia.
Larangan suporter tandang sendiri masih dipertahankan PSSI karena alasan yang cukup jelas, yakni menjaga keamanan pertandingan dan menghindari potensi bentrokan yang bisa merusak proses pemulihan sepak bola nasional.
Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, bahkan kembali mengingatkan bahwa sepak bola Indonesia hingga kini masih berada dalam pengawasan FIFA.
“Kita ingat masih dalam pengawasan FIFA, kita berharap sepak bola ke depan berjalan dengan baik tentu tidak terlepas dari sportivitas, elegan yang diberikan oleh suporter masing-masing klub kepada sepak bola Indonesia dan atau kepada timnya,” ujar Yunus Nusi setelah laga final Pegadaian Championship di Stadion Maguwoharjo.
Baca Juga: PSG Bungkam Bayern di Allianz Arena, Era Baru Raja Eropa Resmi Dimulai?
Pernyataan itu muncul setelah adanya “pesta” flare yang kembali terjadi di tribun stadion. Sebelumnya, kericuhan juga pecah di Stadion Lukas Enembe ketika Persipura Jayapura gagal promosi ke kasta tertinggi.
Ribuan suporter turun ke lapangan dan merusak sejumlah fasilitas stadion, sesuatu yang kembali memunculkan kekhawatiran soal kesiapan sepak bola Indonesia membuka kembali akses untuk suporter tandang.
Yunus pun menegaskan bahwa hingga saat ini belum ada keputusan untuk mencabut larangan tersebut. “Kita lihat perkembangannya seperti apa, LIB juga menyampaikan laporan kepada PSSI dan tentu Ketua Umum, Eksekutif Komite akan mengkaji itu apakah layak atau tidak untuk dibuka home dan away untuk suporter,” katanya.
Di sisi lain, banyak pencinta sepak bola mulai bertanya apakah liga Indonesia akan kehilangan sebagian identitasnya jika larangan suporter tandang berlangsung terlalu lama.
Baca Juga: Prediksi Skor Liverpool vs Chelsea: Duel Panas Penentu Tiket Liga Champions
Dalam sepak bola modern, rivalitas sehat antarsuporter sebenarnya menjadi salah satu elemen penting yang membuat pertandingan terasa hidup dan emosional.
Banyak pengamat menilai solusi jangka panjang bukan sekadar melarang suporter tandang, melainkan membangun budaya sepak bola yang lebih dewasa, memperbaiki sistem keamanan stadion, serta memperkuat koordinasi antara klub, operator liga, aparat keamanan, dan komunitas suporter.
Tanpa proses itu, sepak bola Indonesia akan terus berjalan dengan rasa waswas setiap kali pertandingan besar digelar.
Pada akhirnya, suporter tandang bukan hanya soal memenuhi tribun stadion. Mereka adalah bagian dari jiwa sepak bola Indonesia, bagian dari cerita rivalitas, perjalanan emosional, dan atmosfer yang membuat pertandingan terasa spesial.
Kini pertanyaannya bukan hanya kapan larangan itu dicabut, tetapi apakah sepak bola Indonesia benar-benar sudah siap menyambut kembali rivalitas besar dengan cara yang lebih dewasa dan aman.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 4Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 7MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 8Ijazah SMA Gibran Kembali Dipertanyakan, Pernyataan Loyalis Jokowi Bikin Polemik Makin Panas
- 9Bukan Cuma Mbappé dan Vinicius, Mourinho Siapkan 4 Pilar Real Madrid untuk Era Barunya
- 10Rodri Dapat Nomor 16 Barcelona, Fermín López Rela Melepas: “Akan Berada di Tangan yang Tepat”










