Belajar di 'Tenda Darurat' dan Asa yang Tak Patah: Potret Ujian Nyata Ketahanan Pendidikan Aceh di Awal 2026

AKURAT BANTEN-Pemulihan pembelajaran anak-anak di Aceh pasca bencana alam bukan isapan jempol semata.
Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah didapat bahwa dari 2.756 sekolah terdampak, sekitar 90 % sudah kembali siap melaksanakan pembelajaran pada awal Januari 2026, meskipun masih terkendala keterbatasan fasilitas dan prosesnya.
Kehadiran guru yang mencapai 90 %, dan siswa mencapai sekitar 70 % merupakan awal yang menunjukkan kuatnya semangat kolektif untuk menempatkan pendidikan kembali di jalur utama kehidupan anak-anak Aceh setelah krisis.
Namun demikian, Realitas di lapangan — dari Aceh Tamiang hingga Bener Meriah — masih menggunakan tenda darurat sebagai ruang kelas.
Tanpa meja, bangku dan buku-buku dalam pembelajaran sehari-hari.
Sekitar 2.532 sekolah menggunakan tenda darurat, 82 sekolah belajar menumpang, dan 26 sekolah menerapkan sistem double shift agar semua siswa tetap mendapatkan jam belajar yang layak.
Pendekatan seperti ini bukan sekadar pragmatis, tapi esensial: menyediakan ruang aman dan berkegiatan bagi anak yang baru saja melalui trauma.
Baca Juga: Benarkah UU Halal Dilanggar? Kesepakatan Dagang RI-AS Izinkan Produk Tanpa Sertifikasi, Kok Bisa?
Dalam sisi dimensi psikososial pembelajaran, bencana bukan hanya merobek tembok dan papan tulis, tapi juga merampas rasa aman dari benak anak-anak.
Data pemerintah menunjukkan dukungan psikososial dan program pendukung seperti pembagian school kit dan makan bergizi gratis menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi pemulihan pendidikan — karena sekolah juga bertindak sebagai ruang untuk trauma healing dan stabilisasi kesejahteraan emosional anak.
Ini berarti belajar setelah bencana lebih dari sekadar mengejar kurikulum: ini tentang mengembalikan rasa aman, rutinitas, dan harapan.
Menariknya, rekomendasi dari berbagai laporan lapangan menempatkan pendidik, bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai first responders pendidikan.
Mereka tak hanya mengajar membaca dan menghitung, tetapi juga mengelola kecemasan, menciptakan rutinitas yang stabil, dan memberikan aktivitas kreatif untuk menenangkan anak-anak yang baru pulih dari kehilangan.
Fokus semacam ini mengubah sekolah dari sekadar tempat akademis menjadi sanctuary komunitas.
Pemulihan pembelajaran di Aceh pascabencana menunjukkan bahwa pendidikan adalah garis depan rekonstruksi sosial: ketika sekolah kembali buka, anak-anak Aceh bukan hanya kembali duduk di bangku, tetapi kembali menjadi diri mereka yang penuh potensi dan harapan.
Ini adalah pelajaran penting bagi kebijakan pendidikan bencana di masa depan: bahwa proses belajar bukan sekadar angka siap belajar, tetapi bagaimana sebuah komunitas menyembuhkan dirinya melalui pendidikan (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 4Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 7MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 8Ijazah SMA Gibran Kembali Dipertanyakan, Pernyataan Loyalis Jokowi Bikin Polemik Makin Panas
- 9Bukan Cuma Mbappé dan Vinicius, Mourinho Siapkan 4 Pilar Real Madrid untuk Era Barunya
- 10Rodri Dapat Nomor 16 Barcelona, Fermín López Rela Melepas: “Akan Berada di Tangan yang Tepat”










