Banten

Belajar di 'Tenda Darurat' dan Asa yang Tak Patah: Potret Ujian Nyata Ketahanan Pendidikan Aceh di Awal 2026

Abdul Marta Nurdin | 21 Februari 2026, 16:57 WIB
Belajar di 'Tenda Darurat' dan Asa yang Tak Patah: Potret Ujian Nyata Ketahanan Pendidikan Aceh di Awal 2026

AKURAT BANTEN-Pemulihan pembelajaran anak-anak di Aceh pasca bencana alam bukan isapan jempol semata.

Data Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah didapat bahwa dari 2.756 sekolah terdampak, sekitar 90 % sudah kembali siap melaksanakan pembelajaran pada awal Januari 2026, meskipun masih terkendala keterbatasan fasilitas dan prosesnya.

Kehadiran guru yang mencapai 90 %, dan siswa mencapai sekitar 70 % merupakan awal yang menunjukkan kuatnya semangat kolektif untuk menempatkan pendidikan kembali di jalur utama kehidupan anak-anak Aceh setelah krisis.

Baca Juga: Cita-Cita Menjadi Kiai Terkubur Selamanya: Kisah Tragis NS, Bocah 12 Tahun di Sukabumi yang Diduga Dianiaya Ibu Tiri

Namun demikian, Realitas di lapangan — dari Aceh Tamiang hingga Bener Meriah — masih menggunakan tenda darurat sebagai ruang kelas.

Tanpa meja, bangku dan buku-buku dalam pembelajaran sehari-hari.

Sekitar 2.532 sekolah menggunakan tenda darurat, 82 sekolah belajar menumpang, dan 26 sekolah menerapkan sistem double shift agar semua siswa tetap mendapatkan jam belajar yang layak.

Pendekatan seperti ini bukan sekadar pragmatis, tapi esensial: menyediakan ruang aman dan berkegiatan bagi anak yang baru saja melalui trauma.

Baca Juga: Benarkah UU Halal Dilanggar? Kesepakatan Dagang RI-AS Izinkan Produk Tanpa Sertifikasi, Kok Bisa?

Dalam sisi dimensi psikososial pembelajaran, bencana bukan hanya merobek tembok dan papan tulis, tapi juga merampas rasa aman dari benak anak-anak.

Data pemerintah menunjukkan dukungan psikososial dan program pendukung seperti pembagian school kit dan makan bergizi gratis menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi pemulihan pendidikan — karena sekolah juga bertindak sebagai ruang untuk trauma healing dan stabilisasi kesejahteraan emosional anak.

Ini berarti belajar setelah bencana lebih dari sekadar mengejar kurikulum: ini tentang mengembalikan rasa aman, rutinitas, dan harapan.

Menariknya, rekomendasi dari berbagai laporan lapangan menempatkan pendidik, bukan hanya sebagai pengajar, tetapi sebagai first responders pendidikan.

Baca Juga: Gara-Gara Suara 'Tek-Tek' Padel, Warga Cilandak Protes: Pramono Anung Siap Segel Lapangan Tak Berizin!

Mereka tak hanya mengajar membaca dan menghitung, tetapi juga mengelola kecemasan, menciptakan rutinitas yang stabil, dan memberikan aktivitas kreatif untuk menenangkan anak-anak yang baru pulih dari kehilangan.

Fokus semacam ini mengubah sekolah dari sekadar tempat akademis menjadi sanctuary komunitas.

Pemulihan pembelajaran di Aceh pascabencana menunjukkan bahwa pendidikan adalah garis depan rekonstruksi sosial: ketika sekolah kembali buka, anak-anak Aceh bukan hanya kembali duduk di bangku, tetapi kembali menjadi diri mereka yang penuh potensi dan harapan.

Ini adalah pelajaran penting bagi kebijakan pendidikan bencana di masa depan: bahwa proses belajar bukan sekadar angka siap belajar, tetapi bagaimana sebuah komunitas menyembuhkan dirinya melalui pendidikan (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.