Banten

Polemik LCC 4 Pilar di Kalbar dan Krisis Kepercayaan dalam Penilaian Pendidikan

Abdul Marta Nurdin | 12 Mei 2026, 08:46 WIB
Polemik LCC 4 Pilar di Kalbar dan Krisis Kepercayaan dalam Penilaian Pendidikan
peserta LCC saat menjawab pertanyaan (istimewa)

Akurat Banten - Kontroversi yang terjadi pada acara lomba cerdas cermat (LCC) 4 pilar tingkat Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar) menuai polemik di masyarakat.

Hal ini menjadi ramai setelah beredar cuplikan video lomba tersebut di media sosial.

Dalam cuplikan Dewan juri memberikan penilaian berbeda kepada satu regu yang sudah menjawab lebih dahulu dan dianggap salah, sehingga diberi nilai minus 5.

Baca Juga: Cristiano Ronaldo di Ambang Akhiri Puasa Gelar Liga Bersama Al Nassr, Momen Bersejarah Bisa Terjadi Pekan Depan

Kemudian dilempar ke regu lain, yang jawaban nya pun persis seperti jawaban regu sebelumnya, namun dianggap benar karena memiliki substansi dan diberi 10.

Protes pun terjadi oleh regu sebelumnya, namun jawaban Dewan juri berdalih penilaian berdasarkan artikulasi saat menyampaikan jawaban sehingga tidak terdengar jelas.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa dunia pendidikan tidak hanya mengajarkan pengetahuan, tetapi juga keadilan, transparansi, dan etika dalam proses evaluasi.

Baca Juga: Lionel Messi Bongkar Fakta Rivalitas dengan Cristiano Ronaldo, Ternyata Tak Seperti Dugaan Banyak Orang

Dalam kompetisi akademik, konsistensi penilaian merupakan bagian penting dari pembelajaran karakter.

Ketika peserta atau publik melihat adanya perbedaan perlakuan terhadap jawaban yang dianggap serupa, maka yang dipertaruhkan bukan hanya hasil lomba, tetapi juga kepercayaan terhadap sistem pendidikan itu sendiri.

Peserta didik pada akhirnya belajar bahwa proses yang adil sama pentingnya dengan capaian prestasi.

Baca Juga: Messi Jagokan Portugal Juara Piala Dunia 2026, Tim Ronaldo Disebut Lebih Siap dari Argentina

Dari sudut pandang manajemen pendidikan, kasus ini menunjukkan perlunya standar penilaian yang lebih terukur, terbuka, dan berbasis teknologi.

Kompetisi akademik modern seharusnya didukung dengan rekaman audio-visual, pedoman jawaban yang jelas, serta mekanisme keberatan yang profesional agar tidak menimbulkan multitafsir.

Guru, juri, dan panitia juga perlu dibekali kemampuan komunikasi publik yang baik, karena respons terhadap protes peserta dapat memengaruhi citra lembaga pendidikan di mata masyarakat luas.

Baca Juga: Gebrakan Gila! Bosnia Jadi Negara Pertama yang Umumkan Skuad Piala Dunia 2026, Negara Lain Ketinggalan!

Di era media sosial, satu keputusan yang dianggap tidak objektif dapat dengan cepat berkembang menjadi krisis kepercayaan publik.

Di sisi lain, peristiwa ini dapat menjadi momentum evaluasi positif bagi penyelenggara pendidikan.

Pendidikan sejatinya bukan hanya soal mencari siapa yang menang, melainkan bagaimana membangun budaya akademik yang sehat, sportif, dan bermartabat.

Baca Juga: GAJI ke-13 Pensiunan PNS Batal Cair! Kata PT. Taspen: Jika Tidak Lakukan Ini

Jika disikapi secara terbuka dan evaluatif, kontroversi ini justru dapat menjadi bahan pembelajaran penting tentang pentingnya integritas, akuntabilitas, dan profesionalisme dalam setiap kegiatan. *****

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.