Banten

Pertama dalam Sejarah? Al-Aqsa Kosong Melompong di Bulan Ramadan, Ini Penyebabnya

Abdurahman | 6 Maret 2026, 07:25 WIB
Pertama dalam Sejarah? Al-Aqsa Kosong Melompong di Bulan Ramadan, Ini Penyebabnya
Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, Palestina. (Foto: @detik.com/Getty Images/iStockphoto/ZZ3701)

AKURAT BANTEN – Sebuah pemandangan yang menyayat hati dan nyaris tak masuk akal terekam di jantung Kota Tua Yerusalem. Masjid Al-Aqsa, kiblat pertama umat Islam yang biasanya menjadi pusat lautan manusia di bulan suci, kini berubah menjadi "kota hantu".

Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern di tengah bulan Ramadan, kompleks suci ini sunyi senyap, kosong melompong tanpa aktivitas ibadah.

Sudah tiga malam berturut-turut, tidak ada gema takbir. Tidak ada barisan saf yang rapi. Dan yang paling memilukan, tidak ada shalat Tarawih.

Baca Juga: 'Tolong Anggap Anak Sendiri': Surat Pilu Bocah 12 Tahun yang Tinggalkan Adiknya di Gerobak Nasi Uduk

Keheningan yang Mencekam

Laporan dari berbagai sumber lokal di Yerusalem, termasuk Quds Network, mengonfirmasi bahwa pasukan pendudukan Israel telah menutup total akses masuk ke Masjid Al-Aqsa.

Penutupan ini bukan sekadar pembatasan usia seperti yang sering terjadi sebelumnya, melainkan penutupan menyeluruh yang memaksa jemaah pergi dan mengosongkan area masjid sejak Sabtu pagi.

Dalam potongan video yang viral di media sosial, pelataran masjid yang biasanya dipenuhi hamparan sajadah kini tampak bersih mengkilap tanpa satu pun jemaah. Hanya terlihat personel keamanan bersenjata yang berjaga di gerbang-gerbang utama.

Baca Juga: Prabowo Gelar Silaturahmi Ramadan dengan Ulama dan Pimpinan Ormas Islam di Istana

Apa Penyebab di Balik Penutupan Drastis Ini?

Dunia bertanya-tanya, mengapa Al-Aqsa ditutup rapat justru di saat bulan paling mulia bagi umat Muslim?

Otoritas Israel berdalih bahwa langkah ekstrem ini diambil karena "Keadaan Darurat". Hal ini berkaitan erat dengan eskalasi militer besar-besaran antara Israel dan Iran yang pecah pada akhir Februari 2026. Ketegangan geopolitik yang melibatkan serangan udara skala besar tersebut membuat wilayah Yerusalem dinyatakan sebagai zona darurat militer.

Namun, bagi tokoh agama dan warga setempat, alasan ini terasa sangat pahit.

"Saya tidak ingat pernah ada penutupan total seperti ini sebelumnya. Realitas baru di Al-Aqsa yang selama ini kita khawatirkan, kini benar-benar terwujud," ujar Dr. Mustafa Abu Sway, anggota Dewan Wakaf Islam Yerusalem dengan nada getir.

Baca Juga: Usaha Makanan dan Minuman Sederhana yang Bisa Dicoba dari Rumah. Ada Apa Saja?

Dampak Luas: Kota Tua "Mati Suri"

Bukan hanya kompleks Al-Haram Asy-Syarif yang terdampak. Seluruh urat nadi kehidupan di Kota Tua Yerusalem seolah diputus paksa.

Akses Ditutup: Jalan-jalan menuju Masjid Al-Aqsa diblokade ketat.

Baca Juga: Cara Tukar Uang Baru di Banten Harus Lakukan Ini Dulu, Beda dari Kota Lainnya?

Ekonomi Lumpuh: Toko-toko milik warga Palestina diperintahkan tutup.

Jemaah Terusir: Warga yang hendak melaksanakan shalat Isya dan Tarawih dipaksa berbalik arah oleh pasukan keamanan.

Seorang pelancong asal Indonesia yang berada di lokasi memberikan kesaksian pilu: "Sudah tiga hari nggak ada shalat Tarawih, nggak ada aktivitas sama sekali. Yang ditutup nggak cuma Al-Aqsa, tapi Kota Tua juga."

Baca Juga: THR Pensiunan Tidak Cair Bisa Terjadi Kalau Tidak Lakukan Hal Ini Cepat-cepat, Siap Plonga-plongo?

Luka di Hati Umat Islam

Penutupan ini menjadi luka mendalam bagi jutaan umat Muslim dunia. Masjid Al-Aqsa bukan sekadar bangunan; ia adalah saksi sejarah Isra Mi’raj dan simbol perlawanan serta keimanan. Kehilangannya di bulan Ramadan, meski hanya untuk beberapa hari, merupakan pukulan telak bagi hak asasi manusia dalam beribadah.

Hingga saat ini, belum ada kepastian kapan pintu-pintu kayu raksasa Al-Aqsa akan kembali dibuka untuk menyambut jemaah yang rindu bersujud di sana.(**)

Sumber: Diolah dari detik.com

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman