SILAT BANDRONG Sudah Ada Sebelum Kesultanan Banten, Lahir Dari Persahabatan Silat Kwitang Betawi Dan Banten

AKURAT BANTEN - Mengenai asal-usul nama bandrong diambil dari nama sejenis ikan terbang yang sangat gesit dan dapat melompat tinggi dan jauh, menyerang kerang dengan moncongnya yang sangat panjang bergerigi dan sangat tajam. Ikan ini sangat berbahaya karena sekali menyerang dapat membinasakan musuhnya.
Ki Patih Jaga Laut atau patih sangat menyukai dan sering memperhatikan gerak-gerik dari ikan bandrong, karena ikan tersebut mempunyai gerakan yang tangkas, gesit juga memiliki jangkauan lompatan jarak jauh. Akhirnya ia menggunakan nama ikan itu untuk nama ilmu ketangkasan bela diri yang dimilikinya yaitu pencak silat bandrong karena tangkas dan gesit serta berbahaya seperti ikan bandrong.
Silat bandrong lahir sekitar tahun 1500 Masehi, yaitu sebelum berdirinya Kesultanan Banten. Tokoh yang diketahui pertama menyebarkan aliran ini adalah seorang kiai bernama Ki Agus Jo, dikenal dengan nama Ki Beji. Ia terkenal sebagai kiai sekaligus pendekar dan merupakan guru besar bandrong yang menetap di salah satu lereng Gunung Santri.
Di antara para muridnya yang terkenal adalah Ki Sarap dan Ki Ragil yang berasal dari Kampung Gudang Batu, Waringin Kurung, Keterangan ini diperoleh ketika melakukan sesi wawancara dengan Ali Rahim dan Ahmad Faroji Jauhari (9-10 April 2012).
Pendidikan ketangkasan dan kedigjayaan itu dipusatkan di Pulo Kali dan dibina langsung oleh kedua kakak beradik Ki Sarap dan Ki Ragil. Di sanalah mereka berdua menghabiskan masa tuanya, Setelah meninggal mereka berdua dimakamkan di pemakaman umum di daerah Kahal wilayah Kecamatan Pulo Ampel. Hingga sekarang tempat itu dikenal dengan sebutan ”Makam Ki Kahal”. Banyak masyarakat yang datang berziarah terutama para pesilat bandrong.
Setiap aliran pencak silat mempunyai ciri masing-masing pada setiap gerakannya. Semua gerakan keseharian yang dilakukan oleh para pesilat bandrong merupakan gerakan bandrong. Tetapi gerakan yang menjadi ciri khas bandrong pada umumnya adalah:
"Gerakan tangan dan kaki cenderung cepat, dan gerakannya luas, Menggunakan teknik bawah dengan cepat untuk menjatuhkan lawan dengan cara mengambil kaki lawan dan mengangkatnya ke atas dengan posisi kepala lawan di bawah kemudian dilemparkannya dengan jarak yang sangat jauh." (Wiryono, 2005: 30).
- Baca Juga: 6 Janji Allah SWT Kepada Umat Islam Yang Tidak Akan Pernah di Ingkari, Berikut Dalilnya dalam Al Quran
- Baca Juga: Karomah Makam Keramat Batu Kopeah dan Sumur Tujuh yang Masih Menjadi Misteri
- Baca Juga: SIFAT-SIFAT Orang Yahudi menurut Al-Quran, Kaum Muslimin Wajib Paham!
Sekitar tahun 1920-1940 Masehi, ketika silat bandrong berada di bawah kepemimpinan guru besar Ki Marip, Seorang pendekar bandrong berasal dari Pulo Kali (1880-1940 M), Didatangi oleh seorang tokoh persilatan Betawi dari Cempaka Putih Jakarta ke pesisir Pulo Kali Bojonegara, yang bernama Hilmi, terkenal dengan sebutan Bang Imi.
Tujuan kedatangannya ke Banten adalah untuk menambah wawasan dan pengetahuan di bidang persilatan Banten. Bang Imi adalah pesilat yang menguasai silat kwitang Betawi. Dalam perkenalannya, Ki Marip dan Bang Imi mencoba untuk bertukar jurus dalam sebuah pertarungan silat persahabatan. Hanya dalam beberapa langkah Bang Imi dapat dijatuhkan oleh Ki Marip.
Dari peristiwa inilah akhirnya Ki Marip dan Bang Imi menjalin persahabatan dan kemudian beberapa unsur silat Kwitang mempengaruhi aliran silat Bandrong untuk menambah wacana seni yang berbeda. Seiring berjalannya waktu, unsur-unsur dari aliran silat lain pun seperti Cimande, Beksi, Kung Fu, Merpati Putih, dan lain-lainnya juga menambah khasanah atau kekayaan jurus dan gerak dari aliran bandrong.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










