Mengenal Rebo Wekasan, Sejarah, Makna, dan Tradisi yang Dilakukan

AKURAT BANTEN - Rebo Wekasan adalah tradisi yang dilakukan setiap hari Rabu terakhir pada bulan Safar dalam kalender Islam atau Hijriah.
Terkait Rebo Wekasan, ada banyak mitos dan keyakinan yang berkembang di masyarakat, menghubungkan hari itu dengan malapetaka dan bencana.
Sebagai upaya untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, masyarakat melakukan berbagai ritual keagamaan.
Lantas apa makna dan sejarah dari Rebo Wekasan? Simak selengkapnya.
Makna Rebo Wekasan
Rebo artinya nama hari dalam bahasa Jawa, yaitu Rabu dalam bahasa Indonesia, sedangkan Wekasan adalah bahasa Jawa yang artinya pungkasan atau akhir. Jadi, Rabu Wekasan secara bahasa adalah hari Rabu Terakhir.
Terdapat pengertian lain dari Rebo Wekasan yaitu tradisi budaya yang diadakan di hari Rabu Terakhir dari Bulan Safar, yaitu bulan kedua dari 12 bulan penanggalan Hijriyah.
Tradisi budaya Rebo Wekasan ini adalah hari yang tidak tergantungkan pada hari pasaran dan neptu untuk melakukan suatu upacara adat di Jawa.
Sejarah Rebo Wekasan
Terdapat banyak versi yang menjelaskan tentang sejarah Rebo Wekasan. Versi ini adalah versi yang paling banyak dipercaya oleh masyarakat.
Tradisi Rebo Wekasan pertama kali diadakan pada masa Wali Songo. Saat itu, banyak ulama yang menyebutkan bahwa pada bulan Safar, Allah SWT menurunkan lebih dari 500 macam penyakit.
Sebagai antisipasinya, para ulama kemudian melakukan tirakat dengan banyak beribadah dan berdoa. Diharapkan dengan melakukan hal tersebut, Allah SWT menjauhkan mereka dari segala penyakit dan malapetaka. Hingga kini, tradisi tersebut masih dilestarikan di berbagai daerah di Indonesia.
Baca Juga: Dijual Hari Ini, Simak Cara Beli dan Daftar Harga Tiket Konser Green Day Jakarta
Tradisi Rebo Wekasa
Masing-masing daerah memiliki tradisi yang berbeda untuk memperingati Rebo Wekasan. Hal ini didasarkan pada kepercayaan turun temurun yang dipegang hingga budaya yang berlangsung di sekitarnya.
Salah satu contoh tradisi Rebo Wekasan yaitu di daerah Aceh. Pada masyarakat Aceh Barat dan Aceh Selatan, Rabu Wekasan dikenal sebagai Rabu Abeh yang berguna untuk menolak bala.
Tradisi ini mulanya dilakukan dengan memotong kerbau dan membuang bagian kepalanya ke laut. Hal itu dilakukan untuk menolak bala atau bencana. Namun saat ini, tradisi tersebut kemudian diganti dengan pembacaan shalawat, zikir, dan doa. (***)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Geger! Survei SMRC Ungkap Skor Kepemimpinan Tokoh Nasional, Mahfud MD di Puncak, Gibran Terbawah
- 2Mahfud MD Soroti OTT KPK di BNPB, Dana Bencana Diduga Bermasalah saat Warga Butuh Bantuan
- 3Tiga Hari Lagi! Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Harus Punya Sertifikat
- 4Singgung Asap dan Oksigen, Syahganda Dikritik Pejabat Malaysia! Indonesia Didesak Minta Maaf
- 5Bikin Bangga! Persib Menang atas The Cong-Viettel, Liga Indonesia Kini Tembus 16 Besar Asia
- 6Juventus Tak Terima Kalah dari Cristiano Ronaldo! Kasus Gaji Rp190 Miliar Kini Dibawa ke Pengadilan Tertinggi Italia
- 7Lille Dihajar Arsenal 0-3, tapi Calvin Verdonk Ukir Rekor Bersejarah untuk Indonesia di Liga Champions!
- 8Tangsel Rapi, DPUPR Banten Mulai Bersihkan Kabel Internet Semrawut di Jalan Aria Putra
- 9Mbappe Ukir Sejarah saat Real Madrid Comeback 4-3! Rekor Messi Resmi Terlewati, Golnya Tambah Catatan Gila
- 10Real Madrid Menang Dramatis di Markas Roma, Mourinho Malah Tak Mau Selebrasi: Alasannya Bikin Haru!








