Mengenal Tradisi Dharma Suaka dalam Perkawinan Hindu, Akan Dijalani oleh Mahalini dan Rizky Febian Sebelum Nikah

AKURAT BANTEN - Kabar Pernikahan Pasangan musisi Rizky Febian dan Mahalini sudah beredar. Keduanya akan melangsungkan pernikahan pada 5 Mei 2024 nanti.
Pernikahan Rizky Febian dan Mahalini akan digelar di kediaman Mahalini, daerah Tububeneng, Kuta Utara Badung Bali. Hal ini diungkapkan langsung oleh Kelihan Dinas atau Kepala Banjar Aseman Kawan, I Gede Hardi Raharja.
Sebelum menikah, Mahalini akan menjalani tradisi mepamit dengan keluarga dan rumah yang ditinggalinya. Selain itu, sebelum menjalani proses pernikahan, Mahalini dan Rizky Febian juga akan melangsungkan tradisi Dharma Suaka.
Baca Juga: Aktor Senior Anwar Fuady Diduga Akan Berencana Nikahi Wiwiet Tatung Juli 2024
Lantas, apa itu tradisi Dharma Suaka? Simak ulasan lengkapnya.
Arti Tradisi Dharma Suaka dalam Pernikahan Hindu
Melansir dari situs resmi Kemenag Karang Asem, tradisi Dharma Suaka merupakan rangkaian penting dalam perkawinan Hindu. Tujuan tradisi ini adalah supaya terciptanya kehidupan pernikahan yang sukhinan bhawantu yaitu keluarga yang harmonis, bahagia, dan sejahtera.
Dharma Suaka merupakan gabungan dari kata dharma dan suaka. Dharma memiliki arti yang sangat luas. Dharma bisa berarti sopan santun etika, atau bahkan kebudayaan.
Sedangkan suaka berasal dari kata Su yang artinya baik dan Wak yang berarti ucapan. Sehingga suaka mengandung makna pembicaraan yang mengandung maksud baik.
Dengan hal ini dapat disimpulkan bahwa Dharma Suaka memiliki makna dialog kebaikan yang berbasiskan kebudayaan.
Baca Juga: Kenali Penyakit TBC yang Sedang Tinggi di Indonesia, Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya!
Tradisi Dharma Suaka dalam pernikahan Hindu yaitu proses mendengar dari orang tua kepada anak-anaknya. Trasisi ini adalah tradisi satu arah, yakni orang tua menyampaikan sesuatu kepada anaknya.
Dalam khasanah Hindu, tradisi ini disebut dengan tradisi Brahmana. Sebab semua penjabaran tersebut dimuat dalam kitab Brahmana
Tradisi ini lahir sebagai perwujudan dari kebudayaan yang memuja leluhur. Pada perkembangannya, tradisi ini berkembang menjadi tradisi menjelaskan apa-apa yang telah didengar.
Tradisi ini yang disebut dengan smerti yaitu penjelasan dari apa-apa yang telah didengar. Tradisi ini kemudian berkembang menjadi tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari yang biasanya berisi etika dan upacara.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Dadan Hindayana Jadi Tersangka, Tiyo Ardianto: Dari Awal Saya Bilang MBG Itu 'Maling Berkedok Gizi'
- 2GEMPAR! Mantan Ketua BEM UGM Bongkar Rahasia 'Lembaga Berbintang' yang Coba Menyuapnya
- 3Sempat Dibela Dadan Hindayana, 41 Dapur MBG Anak Pejabat DPRD Sulsel Tuai Sorotan, Aktivis Desak Audit Menyeluruh
- 4Demo Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, BEM UI Bawa 5 Tuntutan Keras untuk Pemerintah
- 5Mahfud MD Heran Nanik S Deyang Tak Tersentuh Pemeriksaan Kasus MBG, Desak Kejagung Buka Alasannya
- 6Iran Protes Keras ke FIFA Jelang Piala Dunia 2026, Hanya Boleh Masuk Amerika Serikat Saat Hari Pertandingan
- 7Prediksi Portugal vs Chile: Ronaldo dan Generasi Emas Portugal Siap Kirim Peringatan ke Rival Piala Dunia
- 8Cedera Hancurkan Mimpi Wesley di Piala Dunia 2026, Ederson Resmi Dipanggil Brasil
- 9Tiga Kartu Merah dan Dua Gol, Meksiko Buka Piala Dunia 2026 dengan Kemenangan Meyakinkan
- 10Prediksi Australia vs Turki: Adu Generasi Baru di Laga Pembuka Grup D







