Jerman Peringatkan Rusia Bisa Ancam NATO pada 2029, Eropa Mulai Siaga Perang

AKURAT BANTEN - Jerman bersama negara-negara anggota NATO semakin serius mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan bangkitnya kekuatan militer Rusia dalam beberapa tahun ke depan.
Kekhawatiran itu mencuat setelah Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius memperingatkan bahwa Rusia berpotensi menjadi ancaman bagi negara anggota NATO pada 2029.
Penilaian tersebut bukan hanya pandangan Berlin semata.
Inspektur Jenderal Angkatan Darat Jerman Christian Freuding menegaskan bahwa prediksi itu merupakan kesimpulan bersama seluruh anggota NATO.
Baca Juga: Blokade Selat Hormuz Ganggu Pasokan Minyak Dunia, Shell Prediksi Pemulihan Butuh Setahun
Menurut Freuding, semua 32 negara anggota aliansi meyakini Rusia dapat memulihkan kemampuan militernya untuk menantang NATO paling cepat pada 2029.
Peringatan tersebut tidak mengarah pada ancaman invasi dalam waktu dekat.
Fokus utamanya adalah kecepatan Rusia membangun kembali kekuatan militernya setelah mengalami berbagai kerugian besar selama perang di Ukraina.
Dalam beberapa waktu terakhir, lembaga intelijen Barat semakin yakin bahwa Moskow telah menyiapkan fondasi bagi pemulihan kekuatan militer jangka panjang.
Baca Juga: Menkeu Purbaya Ungkap Target Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 2027 Capai 6,5 Persen
Sejumlah indikator yang menjadi perhatian antara lain perluasan infrastruktur pertahanan, pembangunan kembali pangkalan militer, peningkatan produksi persenjataan, hingga program penambahan personel militer.
Laporan intelijen negara-negara Nordik juga menunjukkan adanya perluasan fasilitas militer Rusia di kawasan perbatasan barat laut serta jalur strategis menuju wilayah Baltik.
Bahkan, sejumlah perkiraan menyebut Moskow pada akhirnya dapat menempatkan hingga 115.000 personel di sebagian wilayah perbatasan utara dan Baltik NATO.
Karena itu, perhatian utama NATO bukan tertuju pada kondisi Rusia saat ini, melainkan pada kemampuan Rusia setelah proses persenjataan kembali selesai dilakukan.
Baca Juga: TNI AL Gagalkan Penyelundupan Narkoba dari Malaysia di Karimun, Sita 1 Kg Sabu dan 582 Ekstasi
Sekilas, peringatan mengenai ancaman Rusia pada 2029 mungkin terdengar berlebihan.
Pasalnya, Rusia masih menghadapi dampak besar perang Ukraina, mulai dari tingginya korban jiwa, kerugian peralatan militer, hingga tekanan ekonomi yang berat.
Selama ini banyak pihak beranggapan bahwa Rusia yang melemah otomatis menjadi ancaman yang lebih kecil.
Namun, pandangan tersebut mulai berubah seiring transformasi Rusia menuju ekonomi dan industri yang semakin berorientasi pada kebutuhan perang.
Baca Juga: Illegal Fishing Masih Marak, DPR Dorong Kapal Modern di Natuna dan Laut Arafura
Menurut penilaian Jerman, Rusia tetap mampu memperluas kapasitas produksi militernya meski masih terlibat perang di Ukraina.
Kondisi tersebut membuka kemungkinan bahwa Rusia pascaperang akan memiliki kekuatan militer yang lebih besar dan tingkat kesiapan yang lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik Ukraina pecah.
Di sisi lain, kegagalan Rusia meraih kemenangan cepat di Ukraina juga dipandang sebagai bukti bahwa Moskow belum siap menghadapi konfrontasi langsung dengan NATO.
Meski demikian, Pistorius menilai Eropa tidak boleh terlena oleh asumsi tersebut.
Baca Juga: Fakta Mengejutkan! 90 Persen Lalu Lintas Internet RI Masih Lewat Singapura
Menurutnya, negara-negara Eropa selama puluhan tahun hidup dengan keyakinan bahwa perang berskala besar telah menghilang dari kawasan tersebut.
Setelah berakhirnya Perang Dingin, banyak negara memangkas anggaran pertahanan, mengurangi ukuran militer, menurunkan stok persenjataan, dan lebih memprioritaskan kebutuhan domestik.
Jerman menjadi salah satu contoh paling jelas.
Selama bertahun-tahun, Bundeswehr menghadapi persoalan kesiapan tempur, keterbatasan peralatan, serta minimnya investasi pertahanan.
Baca Juga: Operasi Beladau Sakti-26 Berjalan, KRI John Lie-358 Awasi Ketat Laut Natuna Utara
Menurut Pistorius, banyak negara pada dasarnya telah mengabaikan tanggung jawab pertahanannya sendiri.
Perang di Ukraina kemudian menjadi peringatan bahwa Rusia masih harus diperhitungkan sebagai ancaman keamanan.
Sebagai respons, pemerintah Jerman menyetujui investasi pertahanan sekitar 1 triliun dolar AS untuk satu dekade ke depan.
Berlin bahkan melonggarkan aturan pembatasan utang yang selama ini berlaku guna membiayai modernisasi dan ekspansi militer.
Baca Juga: Demo Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, BEM UI Bawa 5 Tuntutan Keras untuk Pemerintah
Langkah tersebut menunjukkan ambisi Jerman untuk membangun kekuatan militer konvensional terkuat di Eropa.
Konflik Ukraina juga mendorong perubahan besar dalam sikap Jerman yang selama ini dikenal lebih berhati-hati dalam urusan militer.
Meski demikian, upaya penguatan militer Jerman tidak lepas dari sensitivitas sejarah.
Sejak berakhirnya Perang Dunia II, Jerman tidak pernah lagi memiliki kekuatan militer dominan seperti saat mereka mencoba memaksakan fasisme di Eropa dan melakukan pemusnahan terhadap bangsa Yahudi.
Baca Juga: Prabowo Bantah Usir Investor Asing, Klaim Banyak Investor Global Ingin Masuk ke Indonesia
Faktor sejarah itu membuat sebagian negara Eropa, termasuk Prancis, masih memandang kebangkitan militer Jerman dengan hati-hati.
Peringatan dari Jerman muncul bersamaan dengan berkurangnya komitmen militer Amerika Serikat di kawasan Eropa.
Menurut sejumlah laporan, Washington tengah mempertimbangkan pemangkasan anggaran yang berdampak pada pesawat pembom strategis, pesawat tempur, kekuatan angkatan laut, hingga aset respons krisis yang selama ini mendukung NATO.
Pesan yang ingin disampaikan Amerika Serikat cukup jelas, yakni negara-negara Eropa harus mengambil porsi tanggung jawab yang lebih besar dalam menjaga keamanan kawasan mereka sendiri.
Baca Juga: Heboh di Bali! Buronan Australia Berusaha Kabur, Tertangkap Saat Bersembunyi di Toilet Pesawat
Namun, banyak negara Eropa khawatir Amerika Serikat akan mengurangi kehadirannya lebih cepat daripada kemampuan Eropa membangun kekuatan militernya.
Situasi itu dikhawatirkan menciptakan celah pertahanan yang dapat dimanfaatkan Rusia.
Meski demikian, perlu dipahami bahwa menyerang NATO merupakan tantangan yang sangat berbeda dibanding menyerang Ukraina.
NATO memiliki keunggulan besar dari sisi ekonomi, total anggaran pertahanan, teknologi militer, serta kemampuan pencegahan nuklir.
Baca Juga: Kenaikan Pertamax Picu Kekhawatiran Baru, Ekonom Sebut APBN Tertekan
Secara keseluruhan, NATO jauh lebih kuat dibanding Ukraina.
Fakta bahwa Rusia masih kesulitan mencapai kemajuan signifikan di medan perang Ukraina menjadi alasan mengapa sebagian analis menilai ancaman invasi besar-besaran ke wilayah NATO sangat kecil.
Karena itu, kekhawatiran utama bukanlah kemungkinan tank Rusia memasuki Berlin.
Fokus perhatian justru berada pada potensi tekanan militer di kawasan Baltik atau bentuk konfrontasi regional terbatas yang dirancang untuk menguji soliditas NATO.
Baca Juga: Prabowo Subianto Bongkar Alasan Ingin Jadi Presiden, Singgung Indonesia Salah Arah Sejak 1990-an
Rusia dipandang tidak memiliki kemampuan untuk menaklukkan seluruh NATO.
Namun, Moskow mungkin memiliki tujuan yang lebih terbatas, seperti mengeksploitasi perbedaan pandangan politik di dalam aliansi yang oleh sebagian pihak dianggap kehilangan relevansi setelah runtuhnya Uni Soviet.
Hingga kini, kemampuan Rusia untuk benar-benar menyerang negara anggota NATO pada 2029 masih menjadi bahan perdebatan.
Meski begitu, negara-negara besar di Eropa semakin yakin bahwa mereka perlu mempersiapkan diri menghadapi kemungkinan tersebut sejak sekarang.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 6Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 7Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 8MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 9Ijazah SMA Gibran Kembali Dipertanyakan, Pernyataan Loyalis Jokowi Bikin Polemik Makin Panas
- 10Bikin Guru Terharu, Celine dari Pontianak Dipercaya Bawa Baki Merah Putih di Istana






