Banten

TRAGEDI SAMPIT: Ketika Tanah Kalimantan Merah Karena Darah!

Saeful Anwar | 18 Februari 2025, 13:38 WIB
TRAGEDI SAMPIT: Ketika Tanah Kalimantan Merah Karena Darah!

 

AKURAT BANTEN-Di jantung Kalimantan Tengah, sebuah tragedi kelam mengguncang Indonesia di awal milenium baru.

Sampit, sebuah kota yang dulunya tenang, berubah menjadi panggung konflik berdarah antara dua etnis: Dayak dan Madura. 

Lebih dari 500 nyawa melayang, dan 100.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka, menjadi pengungsi di negeri sendiri.

Kilas balik ini mengingatkan terjadinya peristiwa yang sangat pilu. Konflik ini bukanlah peristiwa 18 Februari 2021 yang tiba-tiba meletus.

Baca Juga: Pasca Vonis 20 Tahun Harvey Moeis Bakal Ajukan Kasasi Ke Mahkamah Agung

Akar masalahnya sangat kompleks dan saling terkait. Adanya persaingan ekonomi, perbedaan budaya, dan ketegangan sosial yang terpendam selama bertahun-tahun menjadi bahan bakar yang siap memicu api. 

Insiden kecil, seperti perkelahian atau sengketa lahan, dengan mudah berubah menjadi kerusuhan massal yang tak terkendali.

Puncak konflik yang terjadi pada Februari 2001 diawali dengan konflik bernuansa etnis pada Desember 2000.

Saat itu terdapat tiga orang Madura dan satu orang Dayak bermain judi bersama di sebuah penambangan emas tradisional di Kereng Pangi.

Baca Juga: Kareku Kandei & Gambus Babarao: Warisan Budaya Bima yang Memukau Dunia

Dari situ terjadi perkelahian yang berakhir dengan kematian orang Dayak.

Selama sekitar satu bulan, isu yang berembus terus mengarah pada konflik etnis. Kerusuhan pun pecah di Jalan Padat Karya Sampit pada 18 Februari 2001.

Selama tiga hari, orang Madura dapat menguasai Sampit dan seakan berpesta atas kemenangan mereka.

Bahkan mereka mengumumkan Sampit akan menjadi Sampang ke-2.

Baca Juga: Cristiano Ronaldo Bakal Kunjungi Kupang, Aksi Sosial Bangun Gereja Hingga Sambangi Rumah Sakit Kanker

Berlangsungnya Konflik Sampit

Dalam Jurnal SOSIAL oleh Nabilah Putri Intani, dkk dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya, dijelaskan puncak konflik berlangsung setelah Madura menobatkan Sampit menjadi Sampang ke-2.

Pada 20 Februari 2001, masyarakat Dayak dari berbagai daerah datang ke Sampit untuk membalas kekalahan mereka.

Warga Dayak membawa berbagai senjata tradisional seperti mandau, tombak, sumpit, hingga senjata api. Mereka pun berhasil merebut Sampit kembali.

Tak hanya senjata fisik, kerusuhan tersebut diyakini melibatkan ilmu gaib. Orang Madura yang konon kebal dari benda tajam atau peluru, tetap mati di tangan orang Dayak.

Baca Juga: Siaran Langsung Timnas Indonesia vs Timnas Bahrain di Kualifikasi Piala Dunia 2026: Malam yang Mendebarkan di GTV dan RCTI!

Disebutkan suku Dayak mempraktikan ritual berburu kepala yang bernama Ngayau atau Kayau. Makanya saat itu ditemukan banyak mayat tanpa kepala.

 

Kengerian yang Tak Terlupakan

Pada 18 Februari 2001, kekerasan mencapai puncaknya. Rumah-rumah dibakar, orang-orang diserang di jalanan, dan mayat-mayat bergelimpangan di mana-mana. 

Kedua belah pihak terlibat dalam tindakan brutal, membuat tragedi ini semakin mengerikan. 

Media massa memberitakan gambar-gambar yang mengerikan, membuat seluruh Indonesia terkejut dan ketakutan.

Baca Juga: Dapur MBG di Pamulang Tangsel Terbakar, Diduga Disebabkan Kebocoran Gas

Jumlah korban jiwa dalam konflik Sampit mencapai sekitar 500 orang, tetapi sulit untuk mendapatkan angka pasti mengenai jumlah korban dari masing-masing etnis.

Namun, beberapa sumber menyebutkan bahwa mayoritas korban jiwa adalah dari etnis Madura.

Salah satu insiden paling tragis adalah pembunuhan 118 orang Madura di kampung Parenggean.

Selain itu, banyak warga Madura yang kehilangan tempat tinggal dan harta benda akibat kerusuhan ini.

Baca Juga: Presiden Prabowo Bakal Resmikan Bank Emas, Banyak Hasil Tambang Emas Disimpan di Luar Negeri

Meskipun demikian, penting untuk diingat bahwa konflik ini menyebabkan penderitaan bagi kedua belah pihak.

Banyak warga Dayak yang juga menjadi korban kekerasan dan kehilangan tempat tinggal.

Konflik Sampit adalah tragedi yang sangat disesalkan dan tidak seharusnya terulang kembali.

Penting bagi kita untuk belajar dari sejarah kelam ini dan terus berupaya membangun masyarakat yang inklusif dan harmonis.

Baca Juga: Pesta Liar di Kantor Dinas PUPR Kutai Timur: Joget di Meja, Sawer Uang, Tuai Kecaman!

Meskipun tragedi Sampit telah berlalu, hubungan antara etnis Dayak dan Madura masih diwarnai oleh berbagai tantangan.

Luka lama akibat konflik tersebut belum sepenuhnya hilang, dan terkadang masih terjadi gesekan atau kesalahpahaman di antara kedua kelompok.

Namun demikian, ada juga upaya-upaya positif yang dilakukan untuk membangun kembali hubungan yang harmonis. 

Meskipun perjalanan menuju pemulihan hubungan yang sepenuhnya harmonis masih panjang, ada harapan bahwa dengan upaya yang terus-menerus, kedua etnis dapat hidup berdampingan secara damai dan saling menghormati di masa depan.

Baca Juga: Jeritan Driver Ojol: Kami Juga Manusia, Layak Dapat THR Setara UMP!

Penting untuk diingat bahwa konflik Sampit adalah bagian dari sejarah kelam bangsa Indonesia.

Dengan belajar dari masa lalu dan terus berupaya membangun dialog dan kerja sama, kita dapat mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan.

Saat ini, warga dari kedua etnis, baik Dayak maupun Madura, masih tinggal di Sampit.

Meskipun konflik Sampit telah menyebabkan trauma dan keretakan hubungan di masa lalu, kedua etnis ini secara bertahap membangun kembali kehidupan berdampingan.

Baca Juga: Pilihan SULIT: Demi Keluarga, Siswi SMP Gantikan Kakaknya Menikah!

Penting untuk dicatat bahwa proses pemulihan hubungan antar etnis tidak selalu mudah dan membutuhkan waktu.

Namun, adanya upaya rekonsiliasi, pendidikan tentang toleransi, dan kerja sama di berbagai bidang memberikan harapan akan masa depan yang lebih baik bagi kedua etnis di Sampit.

Meskipun demikian, terkadang masih ada gesekan atau kesalahpahaman yang muncul.

Oleh karena itu, penting bagi semua pihak untuk terus berupaya membangun dialog, saling pengertian, dan menghormati perbedaan untuk menciptakan masyarakat yang harmonis dan inklusif di Sampit.

Baca Juga: Kupas Bawang Tanpa Drama: 3 Trik Jitu Bikin Pekerjaan Memasak Jadi Lebih Cepat!

Konflik Sampit melibatkan orang-orang dari berbagai kelompok umur, termasuk anak-anak, orang dewasa, dan lansia.

Namun, sulit untuk mendapatkan data yang akurat mengenai rincian usia para korban.

Laporan dari berbagai sumber menyebutkan bahwa banyak korban yang berusia muda, bahkan ada anak-anak yang menjadi korban dalam konflik ini.

Selain itu, orang dewasa dari berbagai usia juga menjadi sasaran kekerasan.

Baca Juga: Basuki Hadimuljono: Efisiensi Anggaran Tidak Berpengaruh, Pembangunan IKN Masuk Tahap Dua

Meskipun tidak ada data statistik yang lengkap mengenai usia korban, dapat disimpulkan bahwa konflik Sampit tidak pandang bulu dalam memilih korbannya.

Semua orang yang berada di wilayah konflik berpotensi menjadi korban tanpa memandang usia.

Baca Juga: Program Cek Kesehatan Gratis Tanpa BPJS, Begini Penjelasan Kemenkes

Dampak yang Mendalam

Tragedi Sampit meninggalkan luka yang dalam bagi masyarakat Kalimantan Tengah.

Selain kehilangan nyawa dan harta benda, trauma dan ketakutan masih menghantui mereka yang selamat.

Keretakan hubungan antar-etnis membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk pulih.

Baca Juga: Vadel Badjideh Berencana Laporkan Balik Lolly atas Dugaan Pernyataan Mencurigakan di BAPP

Pelajaran yang Harus Diingat

Konflik Sampit adalah pengingat pahit tentang rapuhnya kerukunan antar-etnis di Indonesia. Ini adalah pelajaran yang harus kita ingat agar tidak pernah terulang kembali.

Kita harus belajar untuk menghargai perbedaan, mencari solusi damai untuk setiap masalah, dan membangun masyarakatyang inklusif dan adil bagi semua (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman