Kenali Jenis SIRIH INDONESIA dan Kegunaannya Bagi Tradisi dan Ritual Budaya

AKURAT BANTEN - Mengunyah sirih juga sering diartikan sebagai suatu ritual memulai atau pembuka dari suatu maksud tertentu. Ketika ada dua pihak yang akan berembug tentang suatu hal yang penting, daun sirih digunakan sebagai sarana/perlambang untuk memulai acara. Atau bisa juga diartikan, upacara mengunyah sirih adalah sebuah bentuk penghormatan, atau penyambutan tuan rumah kepada tamunya.
Dalam suatu fragmen wayang kulit Purwa, menggambarkan adegan seorang putra dari seorang pertapa yang mencintai putri raja yang cantik jelita. Putra Sang Resi meminta ayahnya melamar sang putri. Kalimat yang diucapkan Sang Resi juga menggunakan kata sirih dan gambir, Ya, biar kuketuk pintu rumahnya, biar kukunyah daun sirih dan gambirnya, semoga terkabul keinginanmu.
Salah satu upacara adat di Jambi Sumatra yaitu apabila seseorang menikahkan putranya, Dalam prosesi penerimaan tamu, ada tradisi mengunyah daun sirih dan buah pinang sebagai ucapan selamat datang, mengunyah sirih ini mempunyai makna untuk saling mengakrabkan antar dua keluarga.
Baca Juga: 3 SUKU di Indonesia, Pemilik Sihir Paling Mengerikan dan di Percaya Terkuat di Dunia
Daun Sirih juga digunakan untuk ritual adat
Di ritual adat upacara pernikahan masyarakat Jawa, daun sirih digunakan sebagai syarat penolak bala. Diwujudkan dalam bentuk, satu lembar daun sirih dilumuri sedikit kapur enjet, kemudian digulung diikat menggunakan benang lawe atau kapas yang ditarik memanjang (gantal).
Pada prosesi acara, saat kedua pengantin bertemu dari kejauhan, Paes (juru rias atau dukun pengantin) mengisyaratkan untuk pasangan pengantin agar saling melempar gulungan ‘gantal‘.
Baca Juga: Selain Tradisi Potong Jari, SUKU DANI Percaya PUPALE Pertanda Ada Cewek Yang Mulai Klepek-Klepek!
Cerita tutur kuno mengkisahkan, pengantin wanita dicuri mahluk gaib yang menyerupai wujud suaminya. Tradisi ‘balang gantal’ ini mempunyai tujuan mengusir roh jahat yang akan mengganggu jalannya pernikahan kedua mempelai, dengan cara melempar gulungan gantal ke badan pengantin. Gantal kerap disandingkan dengan pisang raja. Buah pisang raja memperingati pengantin sebagai raja di hari itu, dan gulungan ‘gantal‘ dipercaya sebagai syarat permohonan kepada Tuhan, agar dijauhkan dari segala marabahaya.
Nah, Setelah kita mengetahui tentang tradisi yang menggunakan daun sirih, ada baiknnya kita mengenal beberapa jenis sirih yang ada di Indonesia. Hasil karakterisasi yang dilakukan oleh Rostiana dkk., (1991) dikenal setidaknya ada 4 macam sirih di Indonesia yaitu antara lain:
1. Sirih hijau, dengan ciri daun berwarna hijau tua dan rasa
pedas merangsang. Sirih hijau secara umum dapat ditemukan
ditanam atau tumbuh liar, di Jawa Tengah dan Jawa Timur;
2. Sirih kuning, dengan daun yang berwarna kuning, sirih tipe
ini terdapat di Sumatera dan di Jawa Barat;
3. Sirih kaki merpati yang dicirikan dengan daunnya berwarna
kuning dan tulang daun yang berwarna merah;
4. Sirih hitam yang dicirikan dengan batang, tangkai daun dan
urat daun berwarna hitam yang khusus ditanam untuk obat.
Baca Juga: Single Seribu Pelukan Raissa Ramadhani, Tentang Merindukan Orang Tersayang
Namun Menurut Heyne, (1987) sirih di indonesia terdiri dari 5 jenis yakni sirih jawa, sirih kuning, sirih banda, sirih cengke dan sirih hitam. "Sirih jawa dengan warna hijau tua rasanya keras dan sengak, Sirih kuning, daun lebih lunak dan baunya kurang tajam, Sirih banda terutama dibudidayakan di daerah Banda, Seram Timur dan di kepulauan sebelah Selatan dan sedikit di Ambon"
Kemudian biarpun hanya sedikit dikenal pula sirih cengke yang merupakan tumbuhan kecil dan memiliki daun yang juga kecil. Rasa sirih cengke mengingatkan orang akan bunga cengkeh. Daun berwarna kuning, tajam dan berbunyi kalau dikunyah. Jenis-jenis tersebut atau yang menyerupai terdapat juga di Jawa. Sirih Jawa yang berwarna hijau paling digemari di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Jawa Barat digunakan sirih kuning dan sirih Ondro. Sirih berdaun hitam, dengan rasa daun yang kuat sekali, kebanyakan digunakan untuk obat
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.










