Menengok Masa Lalu, BNPB Sebut 24 Bencana Terjadi Dalam Waktu Seminggu di Bulan Desember Tahun 2022

AKURAT BANTEN -- Peristiwa yang sangat memilukan terjadinya bencana didaerah-daerah setiap bulan Desember di penghujung tahun. Sekedar peristiwa yang menjadi bahan ingatan. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat terdapat puluhan kejadian bencana yang terjadi dalam rentang waktu tanggal 5 hingga 11 Desember 2022.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB pada waktu itu Abdul Muhari menyebut dalam rentang waktu tersebut, 24 kejadian bencana mulai dari gempa bumi hingga banjir telah terjadi di Indonesia.
Sedikitnya dari tanggal 5-11 Desember terdapat 24 kejadian bencana, gempa bumi terjadi satu kali kemudian tanah longsor, cuaca ekstrem, dan banjir.
Berdasarkan data yang dihimpun oleh BNPB, dari bencana yang terjadi sebanyak 3.888 rumah terendam, 16.421 jiwa mengungsi, dan 54 rumah rusak.
Sedangkan dari total keseluruhan bencana itu dengan rincian sebanyak 11 kejadian banjir, satu gempa bumi, delapan cuaca ekstrem, dan empat tanah longsor yang terjadi di 20 kabupaten/kota di Indonesia.
Baca Juga: Ini Daftar Empat Kecamatan Yang Terdampak Banjir di Kabupaten Serang
Artinya dari keseluruhan angka tersebut, bencana masih didominasi oleh banjir. Menurut Abdul, meskipun korban terdampak masih berjumlah belasan ribu. Tetapi, frekuensi banjir itu sendiri telah berkurang.
"Didominasi oleh banjir tapi frekuensinya berkurang meskipun untuk korban terdampak masih di belasan ribu," ucapnya.
Sebagian besar penyebab terjadinya banjir ini dikarenakan jumlah debit air di hulu. Tetapi, ada juga yang disebabkan oleh pengaruh laut atau banjir rob.
Seperti yang terjadi di Demak dan Kuningan, di sana tidak ada intensitas hujan yang signifikan, melainkan datang dari banjir rob.
Abdul menjelaskan, banjir rob ini biasanya terjadi karena air pasang yang bertemu dengan ekosistem yang kurang memadai pada bagian pesisir.
"Kalau banjir rob ini lebih banyak dipengaruhi oleh air pasang dan kondisi ekosistem di pesisir tidak cukup baik untuk bisa jadi pagar alami bagi ekosistem atau masyarakat di pesisir," kata dia (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 7Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 8Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 9Bukan Cuma Mbappé dan Vinicius, Mourinho Siapkan 4 Pilar Real Madrid untuk Era Barunya
- 10Rodri Dapat Nomor 16 Barcelona, Fermín López Rela Melepas: “Akan Berada di Tangan yang Tepat”







