Banten

Mengungkap Kisah di Balik Mongol Stres, dari Kehilangan Miliaran hingga Tobat dari 'Gereja Setan'

Saeful Anwar | 18 September 2025, 18:45 WIB
Mengungkap Kisah di Balik Mongol Stres, dari Kehilangan Miliaran hingga Tobat dari 'Gereja Setan'

AKURAT BANTEN-Siapa yang tak kenal Mongol Stres? Komika berdarah Manado ini selalu berhasil mengundang tawa dengan celetukan khas dan logat uniknya.

Namun, di balik tawa tersebut, tersimpan kisah-kisah yang tak banyak diketahui publik, mulai dari kerugian finansial yang fantastis hingga perjalanan spiritual yang mengejutkan.

Belum lama ini, sosok Rony Imanuel—nama asli —kembali menjadi perbincangan hangat setelah hadir dalam podcast Melaney Ricardo.

Dalam obrolan yang santai namun penuh makna, Mongol blak-blakan menceritakan pengalamannya yang penuh liku.

 Baca Juga: Awas! Diskominfo Kota Tangerang Ingatkan, Maraknya Kejahatan Digital Mengintai, Kenali Modus dan Cara Melindunginya

Duit Rp53 Miliar Melayang karena Calon Gubernur

Salah satu pengakuan yang paling menghebohkan adalah kisah hilangnya uang sebesar Rp53 miliar.

Uang hasil jerih payahnya selama bertahun-tahun itu ludes setelah dipinjam oleh seorang calon gubernur yang ternyata belakangan ditangkap oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

Mongol menceritakan, saat itu ia sempat diberi surat sertifikat tanah sebagai jaminan.

Namun, tak lama setelah si calon gubernur masuk penjara, tanah tersebut ikut disita oleh KPK karena suratnya belum sempat dibalik nama.

"Dan gue ketakutan jangan sampai gue diciduk, kalau korupsi itu kan ngembet," ujar Mongol di podcast Melaney Ricardo.

Rasa stres dan ketakutan itu membuatnya sempat mengurung diri di kamar, meratapi hasil jerih payahnya yang sirna begitu saja.

Untungnya, ia masih memiliki sisa tabungan senilai Rp112 juta.

Meskipun merugi besar, Mongol dengan lapang dada mengaku telah memaafkan orang yang telah meminjam uangnya itu.

Sebuah sikap yang patut diacungi jempol.

 Baca Juga: Sinyal Positif dari Pemkot Tangerang: Guru PAUD Bakal Dapat Beasiswa Kuliah!

Sempat Dilema Berperan di Film Horor 'Gereja Setan'

Selain kisah kerugian finansial, Mongol juga berbagi cerita unik tentang keputusannya mengambil peran di film Gereja Setan.

Sebelum menerima tawaran tersebut, ia sempat curhat ke adik sepupunya. Menirukan ucapan sang adik.

Namun, Mongol punya keyakinan kuat. Mengaku sebagai 'anak Tuhan' yang sudah bertobat, ia tetap mengambil peran sebagai iblis di film tersebut.

Perjalanan spiritualnya inilah yang memberinya kekuatan untuk tetap melakoni perannya tanpa rasa takut.

 Baca Juga: Banyak Netizen Bingung: Mengapa Menteri Keuangan Purbaya Selalu Pakai Batik yang Sama? Ini Makna Tersembunyi di Baliknya

Profil Mongol Stres: Dari Gelandangan Hingga Komika Termahal

Di balik kisah-kisah di atas, mari kita kenali lebih dekat sosok Rony Imanuel.

Lahir di Manado pada 27 September 1978,

Mongol adalah nama panggung yang diambil dari darah Mongolia yang mengalir dari ayahnya.

Namanya melejit setelah ia tampil di ajang Stand Up Comedy Show Metro TV pada tahun 2011.

Bahkan, ia pernah dinobatkan sebagai komika dengan bayaran termahal di Indonesia, dengan honor mencapai Rp200 juta untuk 15 menit tampil.

Sebelum meraih kesuksesan, hidup Mongol tak selalu mulus.

 Baca Juga: GEGER HINGGA VIRAL! Surat Program Makanan Gratis di Brebes Minta Wali Murid Tak Tuntut Keracunan, Ini Pemicunya...

Ia pernah merasakan kerasnya hidup sebagai gelandangan dan bekerja serabutan. Ia bahkan pernah mendekam di penjara selama satu bulan.

Namun, yang paling mengejutkan adalah latar belakang spiritualnya.

Mongol mengaku pernah terlibat dalam sekte satanic selama tujuh tahun sebelum akhirnya memutuskan untuk keluar dan bertobat.

Kisah Mongol Stres adalah bukti nyata bahwa di balik sosoknya yang kocak, tersembunyi perjalanan hidup yang penuh liku, pelajaran berharga, dan ketabahan yang luar biasa (**) 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman