Banten

Jangan Kaget Kalau Lemas Seharian! Ini Alasan Medis Dilarang Sahur Pakai Mi Instan

Abdurahman | 10 Maret 2026, 13:09 WIB
Jangan Kaget Kalau Lemas Seharian! Ini Alasan Medis Dilarang Sahur Pakai Mi Instan
Ilustrasi Mie Instan (dok Ist)

AKURAT BANTEN-Pernahkah Anda merasa sangat bersemangat saat sahur karena menyantap mi instan yang gurih, namun baru jam 10 pagi perut sudah keroncongan dan tubuh terasa lunglai? Jika iya, Anda tidak sendirian.

Banyak orang memilih mi instan sebagai "penyelamat" sahur karena praktis dan nikmat. Sayangnya, secara medis, mi instan justru menjadi musuh utama bagi Anda yang ingin tetap produktif selama berpuasa. Mengapa demikian? Mari kita bongkar alasan medis di baliknya.

Baca Juga: Sejarah Baru di Banten! Kota Tangerang Selangkah Lagi Jadi 'Kota Antikorupsi' Pertama, Ini Bocoran dari KPK

1. Efek "Karbohidrat Kosong": Kenyang Sesaat, Lapar Melanda

Mi instan terbuat dari tepung terigu olahan yang termasuk dalam kategori karbohidrat sederhana. Menurut para ahli gizi, jenis makanan ini sangat cepat diserap oleh tubuh menjadi gula darah.

Dampaknya: Anda akan merasakan lonjakan energi sesaat, namun kadar gula tersebut akan merosot tajam tak lama kemudian (sugar crash). Inilah alasan medis mengapa Anda merasa lemas, pusing, dan lapar lebih cepat dibandingkan jika mengonsumsi nasi merah atau gandum utuh yang kaya serat.

2. Dehidrasi Tersembunyi Akibat "Bom" Natrium

Satu bungkus mi instan bisa mengandung hingga 800–1.000 mg natrium. Padahal, kebutuhan harian kita hanya sekitar 2.400 mg. Mengonsumsi natrium berlebih saat sahur akan menarik cairan dari sel-sel tubuh Anda.

Hasilnya? Tubuh Anda akan mengirimkan sinyal haus yang luar biasa sepanjang hari. Rasa haus yang menyiksa ini seringkali disalahartikan sebagai rasa lemas biasa, padahal tubuh Anda sedang berjuang melawan dehidrasi akibat kadar garam yang terlalu tinggi.

Baca Juga: Banjir Tanggal Merah! Lebaran 2026 Berdekatan dengan Nyepi, Ini Skema Libur Panjangnya

3. MSG dan Gangguan Fokus di Siang Hari

Kandungan Monosodium Glutamat (MSG) yang tinggi dalam bumbu mi instan seringkali memicu reaksi pada saraf. Bagi sebagian orang, efeknya bisa berupa sakit kepala ringan hingga rasa haus yang konstan. Di siang hari saat Anda sedang bekerja atau belajar, efek sisa dari MSG ini bisa mengganggu konsentrasi dan membuat Anda merasa jauh lebih cepat lelah secara mental.

4. Hambatan Penyerapan Nutrisi

Meskipun Anda menambahkan telur atau sayuran ke dalam mi instan, ada zat kimia bernama propilen glikol dan bahan pengawet lainnya yang bertugas menjaga tekstur mi. Secara medis, zat-zat ini dapat mengganggu proses penyerapan nutrisi alami dari bahan tambahan tersebut. Alih-alih mendapatkan vitamin, tubuh justru terbebani untuk menyaring zat kimia tambahan ini di saat energi sedang terbatas.

Baca Juga: Modus Licik Kuasai Harta: Istri Disekap di RSJ Dr. Soeharto Heerdjan, Disuntik Obat Hingga Tak Berdaya

Solusi Cerdas Agar Tidak Lemas Saat Puasa

Jika Anda ingin tetap bugar hingga waktu berbuka, pertimbangkan untuk mengganti atau memodifikasi menu sahur Anda:

Pilih Karbohidrat Kompleks: Nasi, oat, atau ubi jalar akan melepaskan energi secara perlahan (slow release), menjaga Anda tetap kenyang hingga sore.

Protein adalah Kunci: Telur rebus atau tempe jauh lebih efektif menjaga massa otot dan energi dibandingkan hanya karbohidrat.

Baca Juga: Bukan Cuma TikTok dan IG! Ternyata 8 Jenis Aplikasi Ini Bakal Blokir Akun Anak Mulai 28 Maret

Jika Terpaksa Makan Mi: Gunakan hanya setengah bumbu, buang air rebusan pertama, dan tambahkan porsi sayuran serta protein dua kali lipat lebih banyak dari biasanya.

Jangan biarkan kenikmatan mi instan selama 5 menit saat sahur merusak produktivitas Anda selama 13 jam ke depan. Pilihlah nutrisi yang tepat agar ibadah puasa tetap berjalan lancar tanpa drama badan lemas! (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Abdurahman
Reporter
Abdurahman
Abdurahman