PLAT NOMOR KENDARAAN: Mengapa Banten 'A', Jawa Barat 'Z', dan Aceh 'Bukan A'? Bongkar Misteri Kode Kendaraan yang Tak Sesuai Abjad

AKURAT BANTEN: Bagi sebagian besar orang, kode huruf di pelat nomor kendaraan Indonesia adalah teka-teki. Logika geografis seakan tak berlaku: Aceh, yang berada di ujung barat Indonesia, tak menggunakan huruf 'A'. Justru Banten yang memakai 'A', sementara huruf 'Z' malah tersemat pada kendaraan di sebagian Jawa Barat.
Kenapa sistem penomoran ini terasa "acak" dan tak berurutan berdasarkan abjad atau posisi di peta?
Ternyata, sistem penentuan huruf di pelat nomor Indonesia tidak disusun berdasarkan urutan abjad dan posisi geografis. Kisah di baliknya jauh lebih panjang, dan berhubungan erat dengan sejarah kolonial yang terjadi bahkan sebelum Indonesia merdeka.
Jejak Sejarah
Awal mula penentuan huruf pada pelat nomor kendaraan di dunia ternyata berakar dari Prancis sekitar abad ke-18, sebelum menyebar ke negara-negara lain, termasuk Nusantara.
Namun, di Indonesia, sistem penandaan wilayah dengan huruf memiliki cerita tersendiri yang bermula saat Inggris merebut Batavia pada tahun 1811.
Seperti dijelaskan oleh Dr. Syaiful Amin, S.Pd., M.Pd., seorang Dosen Sejarah dari Universitas Negeri Semarang (Unnes), pada masa itu, pasukan Inggris terbagi ke dalam batalion yang dilabeli dari A hingga Z.
- Batalion Banten ditandai dengan huruf A.
- Batalion Banyumas ditandai dengan huruf R.
- Batalion Jawa Barat (sebagian wilayah) ditandai dengan huruf Z.
- Dan seterusnya.
"Huruf-huruf itu dipakai untuk menandai daerah atau dasar penguasaan sehingga lambat-laun muncul kebiasaan memberi tanda huruf pada kendaraan dan obyek di wilayah tersebut," ujar Syaiful.
Formalisasi Belanda
Setelah kekuasaan beralih kembali ke tangan Belanda, praktik penandaan dan registrasi kendaraan terus berlanjut dan kemudian diformalkan oleh pemerintahan kolonial Belanda pada akhir abad ke-19.
Menurut Syaiful, seiring meningkatnya jumlah mobil di Hindia Belanda, pemerintah kolonial mulai memberlakukan sistem registrasi kendaraan bermotor pada awal abad ke-20.
Untuk mempermudah pengawasan dan administrasi, pemerintah Belanda menetapkan kode huruf yang mewakili Karesidenan atau wilayah administratif di Hindia Belanda saat itu.
Kode-kode huruf ini ditetapkan berdasarkan pusat pemerintahan daerah yang paling penting saat itu, bukan berdasarkan urutan geografis maupun abjad secara keseluruhan.
Beberapa contoh kode pelat nomor bersejarah yang masih dipakai hingga kini:
| Kode Huruf | Karesidenan (Pusat Pemerintahan) | Wilayah Sekarang |
| B | Batavia | Jakarta (sebagian) |
| D | Bandung (Karesidenan Priangan) | Bandung, Cimahi |
| L | Surabaya | Surabaya |
| H | Semarang | Semarang |
Kode ini juga berlaku untuk pelat nomor dengan dua huruf, seperti BA untuk Sumatra Barat atau KT untuk Kalimantan Timur (dulu Karesidenan Kalimantan Timur).
Menariknya, sistem warisan kolonial inilah yang tidak dihapus dan justru diwarisi oleh pemerintah Indonesia setelah kemerdekaan.
Jadi, kerancuan geografis yang kita lihat hari ini adalah sisa-sisa penamaan batalion militer Inggris dan formalisasi karesidenan oleh Belanda ratusan tahun lalu (**)
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










