Banten

Hati-Hati, Anak Main Gadget Sebelum Tidur Bisa 'Membajak' Otaknya! Ini Kata Psikolog

Saeful Anwar | 12 Desember 2025, 08:41 WIB
Hati-Hati, Anak Main Gadget Sebelum Tidur Bisa 'Membajak' Otaknya! Ini Kata Psikolog



AKURAT BANTEN-Di era serba digital ini, gadget telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan anak-anak. Para orang tua tahu betul dilemanya: di satu sisi, gadget adalah sumber belajar dan kreativitas; di sisi lain, penggunaan yang tak terkontrol adalah ancaman serius bagi tumbuh kembang mereka.

Namun, ada satu momen kritis yang kerap luput dari perhatian, padahal dampaknya sangat besar: waktu menjelang tidur.

Anda mungkin berpikir anak sedang tenang saat bermain gadget sebelum tidur.

Padahal, tanpa disadari, tindakan ini justru bisa mengacaukan ritme istirahat dan bahkan kualitas tidur Si Kecil secara keseluruhan.

Penting untuk Dipahami: Gangguan tidur pada anak tidak hanya berarti kurang tidur, tetapi juga memengaruhi suasana hati, fokus belajar, hingga perkembangan kognitifnya.

Baca Juga: Bakar Rp3 Miliar Tiap Bulan, Si Benteng Tetap Kalah Pamor dari Bus Tayo di Mata Pelajar

Gadget 1 Jam Sebelum Tidur = Mengundang 'Excitement'

Psikolog Anak dan Co-founder Tiga Generasi, Saskhya Aulia Prima, menekankan bahwa membiarkan anak mengakses digital menjelang waktu tidur adalah sebuah kesalahan fatal.

Aturan emasnya: hindari penggunaan gadget satu jam sebelum anak beranjak ke kasur.

Mengapa demikian?

Saskhya menjelaskan bahwa akses digital, terutama tontonan atau permainan yang menarik, tidak akan membuat anak mengantuk, melainkan justru membuat otak semakin terjaga dan bersemangat (excited).

"Karena nanti dia jadi nggak ngantuk. Karena kan kayak kita ya, kalau misalkan mau tidur, terus kita misalnya ke akun-akun belanja gitu atau kita lihat apa gitu yang menarik gitu. Itu jadi ganggu jam tidurnya dia juga," ujarnya dalam acara Keluarga Cerdas Berinternet (Google dan YouTube).

Ketika otak terstimulasi oleh cahaya biru dan konten yang menarik, produksi hormon tidur alami, melatonin, akan terhambat.

Alhasil, anak akan kesulitan memulai tidur, kualitas tidur menurun, dan siklus tidur pun terganggu.

Baca Juga: Tragis! Bocah 9 Tahun Hanyut di Sungai Ciujung-Serang, Tim SAR Kerahkan Penyelaman hingga Penyisiran Darat

Terapkan 'Zona Bebas Gadget' di Dua Area Kunci Ini

Selain masalah tidur, keberadaan gadget di area pribadi anak juga membawa risiko lain yang tak kalah mengkhawatirkan.

Saskhya menyoroti hasil beberapa penelitian yang menyebutkan:

"Beberapa penelitian bilang kalau misalnya di kamar itu kita kasih gadget, itu memungkinkan mereka lebih tinggi peluangnya untuk mengakses konten-konten yang inappropriate buat mereka."

Tanpa pengawasan langsung, anak-anak memiliki peluang lebih tinggi untuk menjelajahi konten yang tidak sesuai usia, bahkan yang berisiko.

Kamar tidur yang seharusnya menjadi zona aman dan istirahat, berubah menjadi ruang dengan potensi risiko digital.

Baca Juga: Banjir–Longsor Lumpuhkan Ekonomi Lokal, OJK Turun Tangan Beri Relaksasi Kredit

Oleh karena itu, Moms dan Dads disarankan untuk segera menetapkan aturan Zona Bebas Gadget di rumah, khususnya di dua area paling penting ini:

• Ruang Tidur (Kamar Tidur Anak)

Fungsikan kamar hanya sebagai tempat beristirahat.

Jauhkan semua perangkat digital untuk memastikan anak mendapatkan tidur yang berkualitas dan terhindar dari godaan akses konten tak pantas tanpa pengawasan.

• Ruang Makan

Area ini harus menjadi zona interaksi keluarga murni.

Menggunakan waktu makan untuk screen time menghilangkan kesempatan berharga bagi orang tua dan anak untuk berkomunikasi, berbagi cerita, dan memperkuat ikatan emosional.

Intinya: Batasi akses digital tidak hanya pada waktu, tapi juga pada ruang.

Dengan membuat kedua area ini bebas gadget, Anda telah melindungi kualitas istirahat anak dan memprioritaskan komunikasi keluarga (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman