Konsep Pendidikan Yang Salah? Anies Baswedan: Jangan Tempatkan Pendidikan Sebagai Persiapan Kerja

AKURAT BANTEN - Anies Baswedan hadir dalam sebuah podcast Makna Talk, episode The Friday Podcast, yang dipublis pada, Jumat (03/01/2025) lalu.
Dalam Podcast ini, Anies Baswedan berbicara tentang dirinya yang tumbuh sebagai pembuat onar, cara menghadapi kekalahan, dan tentang cara pandang demokrasi dalam dunia pendidikan untuk kemajuan bangsa dan negara.
Salah satunya, Ia bercerita masa kecilnya, yang dirasanya menyimpang saat masihSekolah Dasar (SD), suka berkelahi hingga orang tuanya beniat memasukkan sekolah tinju. Dirinya pun, sangat terinspirasi dengan Muhammad Ali.
Baca Juga: Setelah Covid 19, China Diserang Virus Baru HMVP, Yang Menyebar Cepat, Bagaimana Dengan Indonesia?
Suatu ketika, terjadi insiden, dirinya bergulat, dengan lawan seusianya, dan itulah pertama kali melihat lawannya mengalami mimisan atau keluar dari lubang hidung akibat adanya benturan.
Pada saat itulah, sosok Anies kecil, menghadapi gejolak dalam dirinya berupa kekhawatiran akan kemungkinan terburuk atau sesuatu akan timbul atas prilakunya saat itu. Dan justru saat itulah, titik awal untuk belajar bertanggungjawab dan mencari jalan keluar untuk menemukan solusi dari setiap masalah.
Namun setelah Sekolah Menegah Atas (SMA), Ia mengalami priode kritis dalam pendidikannya, dengan selalu membuat surat kepada pihak sekolah agar keinginannya diterima pada program-program tertentu.
Baca Juga: Pengembalian Aset Milik Helena Lim Terdakwa Korupsi Timah, Simak Penjelasan Mahkamah Agung
Selain cerita masa kecil dan masa kritisnya di bangku SMA, Anies juga berbagi perspektif mendalam tentang pendidikan.
Ia menekankan bahwa tujuan akhir pendidikan seharusnya adalah untuk membina individu yang tidak hanya menjadi "modal untuk tenaga kerja" tetapi juga pemikir kritis yang berkontribusi terhadap kemajuan dirinya.
Artinya, menurut dia, jika pendidikan manusia manusia, hanya untuk kebutuhan bekerja, maka manusia hanya akan dibutuhkan untuk bidang tertentu saja.
Akhirnya, ketika pekerjaan tersebut tidak lagi membutuhkannya, dengan sendirinya akan menjadi pengangguran dalam waktu yang lama, padahal kemampuan dan pengalamannya masih berpotensi untuk bisa berpartisipasi membangun negeri ini.
Baca Juga: Putusan MK Hapus Presidential Threshold, Begini Tanggapan Pemerintah dan DPR
Ia mencontohkan, Korea Selatan (Korsel) pada 1970 dan 1980 an, mulai mendorong pendidikan tinggi bagi generasi mudanya dalam berbagai bidang, akhirnya terjadi over kapasitas tenaga ahli.
Pada priode berikutnya, ketika Negeri Gingseng ini, mulai menyadari kualitas generasi mudanya memiliki kualifikasi pendidikan yang melimpah, dimulailah era dimana Korsel mengajak sejumlah investor diluar negeri, untuk masuk menanamkan modalnya secara besar-besaran.
Namun apa yang terjadi, saat investor masuk dalam berbagai bidang usaha, akhirnya standar kebutuhan tenaga kerja di Korsel, mampu dipenuhi, dan tidak harus mendatangkan sejumlah tenaga kerja asing untuk menjadi pekerja dengan gaji yang tinggi.
"Jadi, jangan tempatkan pendidikan sebagai persiapan kerja" jelas Anies.
Anies Baswedan dalam pernyataannya, bahwa dirinya tidak pernah menempatkan manusia, sebagai sumber daya karena nantinya mereka hanya akan menjadi penyuplai pasar, padahal pendidikan dan kualitas manusia, adalah untuk mengembangkan potensi dirinya sehingga menjadi sosok yang mampu mandiri.
Lebih mendalam, Anies menuturkan, terkait hubungan antara demokrasi, politik serta hubungannya dengan pencapaiannya dalam berbagai strata pendidikan.
Bahwa pendidikan, mampu mendorong manusia untuk bisa berpikir kritis, mengambil kebijakan menuju kemaslahatan dan mampu merealisasikannya dengan prinsip keadilan.
Sehingga nantinya, tidak lagi ditemukan para sarjana menjajakan ijazahnya untuk mendapatkan penghasilan yang setinggi-tingginya, tanpa memikirkan mereka yang hidup dibawahnya.
"Tanpa pemikir kritis, demokrasi berisiko direduksi dan akan menjadi formalitas belaka," Anies menambahkan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










