Banten

Sanggahan Sri Mulyani Sebut Guru Beban Negara Bikin Makin Geram, Singgung Soal Anggaran Lainnya

Andi Syafriadi | 20 Agustus 2025, 14:38 WIB
Sanggahan Sri Mulyani Sebut Guru Beban Negara Bikin Makin Geram, Singgung Soal Anggaran Lainnya

AKURAT BANTEN – Gelombang protes dari berbagai kalangan muncul usai pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani yang menyebut profesi guru sebagai “beban negara” dalam forum Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri ITB pada 7 Agustus 2025.

Pernyataan itu sontak menuai kontroversi. Di tengah kondisi nyata banyak tenaga pendidik swasta yang masih bertahan mengajar dengan gaji minim, ucapan bernada guyon tersebut justru dianggap melukai hati para guru.

Baca Juga: Pemerintah Bayarkan Iuran BPJS Kesehatan 146 Juta Jiwa di 2026, Sri Mulyani Sebut Anggaran Capai Rp69 Triliun

Fakta di lapangan menunjukkan betapa berat perjuangan tenaga pendidik, terutama yang mengajar di sekolah swasta.

Tidak sedikit guru yang hanya menerima upah di bawah standar UMR, bahkan ada yang berbulan-bulan tidak digaji.

Namun, mereka tetap memilih bertahan karena merasa terpanggil untuk mendidik generasi penerus bangsa.

Dedikasi ini semakin menegaskan bahwa guru bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati.

“Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa, tapi negara seakan tidak memberi penghargaan layak,” komentar seorang warganet di media sosial.

Pernyataan Sri Mulyani itu segera menjadi topik panas di jagat maya. Komentar pedas bermunculan, mulai dari kalangan akademisi hingga masyarakat umum.

Seorang akademisi dari Universitas Muhammadiyah Surabaya menilai bahwa ucapan tersebut tidak manusiawi dan minim empati.

“Bagaimana mungkin seorang pejabat tinggi negara melontarkan pernyataan seperti itu? Padahal guru justru menopang peradaban bangsa,” tegasnya.

Baca Juga: Sri Mulyani Pastikan Anggaran Makan Bergizi Gratis 2026 Melejit, Capai Rp300 Triliun

Tak hanya itu, netizen juga mengingatkan bahwa tanpa guru, tidak ada pejabat, menteri, maupun generasi penerus yang berpendidikan.

Kondisi ekonomi yang serba sulit membuat banyak guru harus mencari penghasilan tambahan.

Ada yang berjualan di pasar, menjadi ojek online, hingga buruh lepas demi mencukupi kebutuhan keluarga.

Ironisnya, pengorbanan besar tersebut sering kali luput dari perhatian pemerintah.

Baca Juga: Sri Mulyani Ungkap Misi Prabowo di Balik Anggaran Fantastis Rp7 Triliun untuk Sekolah Rakyat

Bukannya memperjuangkan kesejahteraan guru, pernyataan seorang pejabat tinggi malah memperkeruh suasana.

Selain menyentil pernyataan Sri Mulyani, publik juga menyoroti keadilan anggaran negara.

Banyak pihak menilai anggaran untuk mobil dinas mewah, rapat di hotel berbintang, hingga konsumsi rapat dengan biaya tinggi tetap berjalan mulus.

Namun, kesejahteraan guru justru masih dipertanyakan.

“Kalau guru dibilang beban, lalu anggaran untuk fasilitas mewah pejabat itu disebut apa?” tulis seorang netizen dengan nada geram.

Guru sejatinya bukan hanya pegawai penerima gaji, melainkan pondasi peradaban.

Mereka membentuk karakter generasi bangsa, menanamkan nilai moral, dan mendidik anak-anak agar siap menghadapi masa depan.

Pernyataan bahwa guru adalah beban negara jelas melukai perasaan mereka.

Baca Juga: Sri Mulyani Singgung Gaji Guru dan Dosen Dianggap Kecil, Apa Semua Harus Ditanggung Negara?

Tidak heran jika muncul kekecewaan mendalam dari kalangan tenaga pendidik maupun masyarakat luas.

Kini publik menanti tindak lanjut dari pemerintah. Apakah pernyataan itu hanya sebatas guyon yang keliru atau akan ada langkah nyata untuk memperbaiki nasib guru?

Yang jelas, suara lantang masyarakat sudah terlanjur menggema: guru bukan beban, melainkan cahaya bagi masa depan bangsa.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.