Bom Molotov Seliweran Sana-sini di Gedung DPRD, Benar-benar Bandung Lautan Api!

AKURAT BANTEN - Aksi demonstrasi besar-besaran kembali mengguncang sejumlah kota di Indonesia pada Jumat (29/8/2025).
Gelombang massa yang menuntut keadilan usai meninggalnya pengemudi ojek online, Affan Kurniawan (21), berubah ricuh dan memicu kerusuhan di Jakarta maupun Bandung.
Baca Juga: 37 Pelajar asal Kabupaten Tangerang Diamankan Polisi saat Berniat Turun Aksi 28 Agustus di DPR RI
Di Bandung, Jawa Barat, ribuan mahasiswa, pelajar, serta pengemudi ojek online turun ke jalan sejak siang hari.
Aksi yang awalnya berlangsung dengan orasi, berujung pada pembakaran Gedung DPRD Jawa Barat di Jalan Diponegoro.
Pantauan di lapangan menunjukkan massa membakar ban bekas, melemparkan bom molotov, hingga mencoba membakar pagar gedung DPRD Jabar.
Bahkan water barrier atau pembatas jalan ikut dilalap api.
Kericuhan merembet ke sebuah rumah yang berada di seberang gedung DPRD Jabar, yang diketahui merupakan aset milik MPR RI.
Massa menduga rumah tersebut menjadi tempat berkumpulnya aparat intelijen.
Setelah aksi saling kejar, massa melampiaskan kemarahannya dengan melempari rumah hingga hampir terbakar akibat molotov yang dilemparkan.
Aksi di Bandung ini merupakan bentuk solidaritas atas wafatnya Affan Kurniawan, driver ojol yang dilindas kendaraan taktis Brimob di Jakarta sehari sebelumnya.
Baca Juga: Demo Buruh Hari Ini di DPR, Tenaga Ahli yang Berkantor di Senayan Justru Bikin Aturan Ini
Kejadian itu dianggap sebagai bentuk represif aparat yang melampaui batas.
Sementara itu di Jakarta, aksi demonstrasi juga memanas di beberapa titik.
Ribuan massa terkonsentrasi di depan Gedung DPR/MPR RI, Markas Brimob Polda Metro Jaya di Kwitang, serta Polda Metro Jaya di Kebayoran Baru.
Di Senayan, gerbang utama Gedung DPR RI akhirnya jebol pada sore hari setelah massa mendorong paksa.
Ribuan orang pun merangsek masuk ke halaman, namun langkah mereka tertahan oleh barisan TNI yang berjaga di garda terdepan.
Baca Juga: Link Live Streaming CCTV Demo Buruh 28 Agustus 2025 di DPR, Minta Naik Sampai Rp7,5 Juta
Di belakangnya, pasukan Brimob dengan tameng membentuk barikade tambahan.
Massa berulang kali meneriakkan kekecewaan terhadap DPR yang dianggap hanya mementingkan kepentingan pribadi dan partai.
Teriakan "Revolusi! Revolusi!" menggema di sekitar gedung parlemen.
Tak kalah panas, di depan Polda Metro Jaya massa juga berhasil menjebol gerbang utama.
Mereka masuk sejauh 20 meter ke dalam halaman, meledek aparat dengan menawari rokok, hingga meniupkan asap ke arah tameng polisi.
Meski demikian, pihak kepolisian tetap bertahan tanpa melakukan serangan balik.
Kemarahan publik dipicu peristiwa meninggalnya Affan Kurniawan pada Kamis (28/8/2025).
Affan, yang diketahui bukan peserta aksi, tewas setelah dilindas rantis Brimob saat sedang mengantarkan pesanan makanan di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat.
Baca Juga: Rencana Beli Gas LPG 3 Kg Pakai NIK, Puan Pastikan DPR Bakal Lakukan Pengawasan
Polri pun menempatkan tujuh anggota Brimob yang berada di dalam kendaraan tersebut ke dalam penempatan khusus (patsus) di Divisi Propam.
Kepala Divisi Propam Polri, Irjen Abdul Karim, menyebut pemeriksaan dilakukan secara intensif dan transparan, bahkan melibatkan pihak eksternal.
Komnas HAM mengecam keras tindakan represif aparat selama gelombang aksi 25 dan 28 Agustus.
Ketua Komnas HAM, Anis Hidayah, menyebut terdapat ratusan korban luka dan hampir 1.000 orang ditangkap secara sewenang-wenang.
Selain itu, pembatasan akses komunikasi di media sosial dinilai sebagai pelanggaran hak masyarakat atas informasi.
Baca Juga: Berlanjut Demo 26 Agustus di Gedung DPR? Begini Suasana Senayan Setelah Demo Ricuh Kemarin
“Penggunaan kekuatan berlebihan terhadap peserta aksi merupakan pelanggaran kebebasan berpendapat,” tegas Komnas HAM.
Kematian Affan Kurniawan menjadi simbol perlawanan baru bagi masyarakat, terutama mahasiswa dan driver ojol.
Sosoknya dikenal periang dan solid di kalangan sesama pengemudi. Rekannya, Hafidz, menegaskan bahwa Affan sama sekali tidak ikut aksi, melainkan sedang bekerja saat tragedi itu terjadi.
Hingga kini, gelombang protes masih berlangsung di berbagai daerah.
Publik menuntut keadilan ditegakkan, serta reformasi aparat keamanan dan lembaga legislatif yang dianggap semakin jauh dari rakyat.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini



Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3HIMNI Periode 2026-2031 Resmi Dilantik, Djarot Sulistio Wisnubroto Pimpin Perluasan Pemanfaatan Nuklir
- 4Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 5Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 6Kopi Nalar Dorong Dialog Terbuka di Tengah Penolakan Warga atas Rencana PLTS 311 Hektare
- 7Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 8Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 9Liga Inggris 2026/2027 Dimulai! Arsenal Buka Perburuan Gelar, Jadwal MU dan Liverpool Ikut Jadi Sorotan
- 105 Alasan Manchester United Tak Akan Melepas Bruno Fernandes pada Musim Panas 2026







