Banten

Rupiah Nyaris Rp17000 per Dolar, Ancaman Nyata atau Sekadar Guncangan Sesaat? Ini Penjelasan Purbaya

Andi Syafriadi | 20 Januari 2026, 17:27 WIB
Rupiah Nyaris Rp17000 per Dolar, Ancaman Nyata atau Sekadar Guncangan Sesaat? Ini Penjelasan Purbaya

AKURAT BANTEN - Nilai tukar rupiah kembali membuat publik menahan napas.

Dalam beberapa hari terakhir, mata uang Garuda nyaris menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS, sebuah angka yang kerap diasosiasikan dengan tekanan ekonomi.

Kondisi ini sontak memicu kekhawatiran masyarakat, pelaku usaha, hingga investor, termasuk di daerah seperti Banten yang sangat bergantung pada stabilitas harga dan daya beli.

Pelemahan rupiah ini terjadi di tengah ketidakpastian global, mulai dari penguatan dolar AS hingga sentimen pasar internasional yang belum sepenuhnya pulih.

Baca Juga: Panas di Bank Sentral, Nama Thomas Djiwandono Muncul, Dukungan Purbaya Picu Sorotan ke Arah BI

Di pasar valuta asing, rupiah sempat bergerak di kisaran Rp16.900-an, hanya selangkah lagi menuju level yang selama ini dianggap “lampu kuning” bagi perekonomian nasional.

Namun di tengah kepanikan yang mulai terasa, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa justru tampil dengan nada tenang.

Ia menilai pelemahan rupiah saat ini belum mengancam fondasi ekonomi Indonesia.

Menurutnya, jika dilihat dari persentase, pergerakan rupiah masih tergolong moderat dan tidak menunjukkan gejolak ekstrem seperti krisis masa lalu.

Baca Juga: Putra Menkeu Purbaya, Yudo Sadewa Sebut Yaqut Cholil Dengan Sentilan Menohok di Medsos Soal Korupsi Kuota Haji

“Kalau dilihat secara keseluruhan, dampaknya ke ekonomi masih sangat kecil,” kata Purbaya.

Ia menegaskan bahwa fluktuasi nilai tukar merupakan bagian dari dinamika pasar global yang wajar dan tidak bisa dilepaskan dari pergerakan mata uang negara lain.

Purbaya juga menepis anggapan bahwa pelemahan rupiah dipicu oleh faktor politik atau isu internal pemerintahan.

Ia menyebut, tekanan terhadap rupiah lebih disebabkan oleh kondisi global, terutama penguatan dolar AS yang terjadi hampir di seluruh dunia.

Baca Juga: MENKEU PURBAYA ANCAM! Siapkan 'Rumah' Tanpa Gaji bagi Seluruh Pegawai Bea Cukai, Jika Kinerja Tak Berubah

Dengan kata lain, bukan hanya Indonesia yang mengalami tekanan, melainkan banyak negara berkembang lainnya.

Di sisi lain, kekhawatiran publik sebenarnya cukup beralasan.

Bagi masyarakat, pelemahan rupiah sering kali identik dengan kenaikan harga barang impor, potensi inflasi, dan beban biaya hidup yang meningkat.

Di wilayah Banten, misalnya, sektor industri, UMKM, hingga konsumen rumah tangga sangat sensitif terhadap perubahan nilai tukar.

Baca Juga: Menkeu Purbaya Beri Tenggat, Bea Cukai Diminta Bersih-Bersih atau Hadapi Sanksi Berat!

Namun pemerintah mencoba meredam kekhawatiran tersebut dengan menyoroti indikator ekonomi lain yang dinilai masih positif.

Salah satunya adalah pasar saham yang tetap bergairah dan mencatat kinerja solid.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia belum goyah, meski rupiah sedang tertekan.

Selain itu, Bank Indonesia terus bersiaga menjaga stabilitas nilai tukar.

Baca Juga: Rosan Roeslani Siapkan Tim, Libatkan Menkeu Purbaya untuk Negosiasi Utang Whoosh ke China

Berbagai instrumen kebijakan telah disiapkan untuk meredam volatilitas jika tekanan semakin besar.

Pemerintah dan bank sentral juga memastikan koordinasi berjalan ketat agar pelemahan rupiah tidak merembet ke sektor riil.

Purbaya optimistis tekanan terhadap rupiah tidak akan berlangsung lama.

Ia meyakini suplai dolar akan kembali meningkat dan sentimen pasar akan membaik seiring meredanya ketidakpastian global.

Baca Juga: Permintaan Legalisasi Thrifting Ditolak Mentah-mentah, Menkeu Purbaya Tegaskan Tak Ada Toleransi untuk Barang Ilegal!

“Fundamental ekonomi kita masih kuat,” tegasnya.

Meski demikian, para pengamat mengingatkan agar kewaspadaan tetap dijaga.

Level Rp17.000 bukan sekadar angka, melainkan simbol psikologis yang bisa memengaruhi ekspektasi pasar dan masyarakat.

Transparansi kebijakan dan komunikasi pemerintah menjadi kunci agar kepercayaan publik tetap terjaga.

Baca Juga: SALAH DATA GAS LPG: Menkeu Purbaya Ikut Keputusan Bahlil, Selamatkah Pasokan Nataru?

Kesimpulannya, rupiah yang nyaris Rp17.000 memang memicu kegelisahan, tetapi pemerintah menilai kondisi ini belum masuk zona berbahaya.

Apakah ini hanya guncangan sesaat atau sinyal peringatan dini? Waktu dan kebijakan akan menjawabnya.

***

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.