Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu Bikin Heboh, Dosen Malah Sarankan Mahasiswa Coba Pekerjaan Ini

AKURAT BANTEN – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai bayaran buruh pengupas bawang terus menjadi bahan perbincangan.
Angka Rp700 ribu per kilogram yang disebut dalam pidatonya membuat publik mempertanyakan besaran penghasilan tersebut.
Dalam Sidang Tahunan MPR, Prabowo memperkenalkan seorang buruh harian bernama Susana asal Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Presiden menyebut perempuan tersebut bekerja mengupas bawang dengan upah Rp700 ribu untuk setiap kilogram. Informasi itu kemudian ramai diperbincangkan di media sosial.
Baca Juga: Upah Kupas Bawang Rp700 Ribu Disebut Prabowo, Pedagang Langsung Bereaksi
Di tengah perdebatan tersebut, Dosen Lintas Budaya Ali Syarief memberikan tanggapan yang cukup mencuri perhatian.
Ia menyarankan mahasiswa yang mengalami kesulitan biaya hidup untuk menjadikan pekerjaan Susana sebagai inspirasi.
Menurut Ali, mahasiswa dapat mencoba pekerjaan serupa sebagai sumber pemasukan tambahan.
Dengan asumsi tarif yang disebutkan tersebut benar, pekerjaan mengupas bawang dinilai dapat menjadi salah satu pilihan bagi mahasiswa yang ingin lebih mandiri secara finansial.
Baca Juga: Upah Pengupas Bawang Rp700 Ribu Disebut Prabowo, Gus Hilmi Beri Respons Menohok
Ali bahkan menggambarkan perhitungan sederhana. Jika seorang mahasiswa mampu mengupas satu kilogram bawang setiap hari, maka dalam satu bulan jumlahnya bisa mencapai sekitar 30 kilogram.
Dengan tarif Rp700 ribu per kilogram, secara hitungan kasar angka tersebut tentu terlihat sangat besar.
Pernyataan itu kemudian memunculkan respons beragam.
Ada yang menganggapnya sebagai sindiran terhadap tingginya biaya hidup mahasiswa, sementara lainnya mempertanyakan apakah tarif Rp700 ribu tersebut benar-benar berlaku secara umum.
Keraguan masyarakat bukan tanpa alasan.
Besarnya nominal tersebut dinilai tidak lazim jika dibandingkan dengan harga komoditas bawang di pasar.
Data yang dikutip dalam pemberitaan menunjukkan harga rata-rata nasional bawang merah berada di kisaran Rp34 ribu per kilogram, sementara bawang putih sekitar Rp35 ribu per kilogram.
Perbedaan angka antara harga komoditas dan biaya pengupasan tersebut membuat masyarakat mempertanyakan konteks pernyataan Presiden.
Apakah Rp700 ribu merupakan tarif untuk pekerjaan tertentu, pembayaran berdasarkan sistem khusus, atau terdapat informasi lain yang belum diketahui publik?
Pemerintah sendiri menyadari bahwa pernyataan tersebut membutuhkan penelusuran.
Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyatakan pemerintah akan mengecek detail informasi mengenai nominal upah yang disebutkan dalam pidato Presiden.
Langkah klarifikasi menjadi penting agar masyarakat tidak langsung menjadikan angka tersebut sebagai standar penghasilan buruh pengupas bawang.
Pasalnya, pendapatan pekerja dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk sistem pembayaran, jumlah pekerjaan yang tersedia, produktivitas, serta kesepakatan antara pekerja dan pemberi kerja.
Bagi mahasiswa, pekerjaan sambilan memang dapat menjadi alternatif untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Namun, pilihan pekerjaan tetap perlu mempertimbangkan waktu kuliah, kemampuan fisik, lokasi, dan besaran upah yang benar-benar ditawarkan oleh pemberi kerja.
Polemik ini juga memperlihatkan pentingnya membedakan antara tarif per kilogram dan penghasilan aktual.
Meskipun suatu pekerjaan disebut memiliki bayaran tertentu per kilogram, pekerja belum tentu mampu menyelesaikan jumlah tersebut setiap hari.
Selain itu, pekerjaan yang tersedia juga belum tentu berlangsung sepanjang bulan.
Faktor permintaan, pasokan bahan, dan kebutuhan tenaga kerja dapat memengaruhi jumlah pekerjaan yang diperoleh seseorang.
Karena itu, mahasiswa yang tertarik mengikuti saran tersebut sebaiknya tidak hanya berpatokan pada angka Rp700 ribu.
Baca Juga: Harga Pangan Mulai Melandai, Cabai dan Bawang Jadi Kabar Baik di Awal Oktober
Mereka perlu memastikan terlebih dahulu tarif yang berlaku di lapangan serta menghitung waktu dan tenaga yang dibutuhkan.
Sementara itu, pernyataan Ali Syarief telah menambah panjang perdebatan mengenai ucapan Prabowo.
Dari persoalan upah seorang buruh, pembahasan kemudian berkembang menjadi isu biaya hidup mahasiswa dan kemandirian ekonomi generasi muda.
Pada akhirnya, polemik tersebut masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut mengenai nominal sebenarnya.
Baca Juga: Cara Menghilangkan Jerawat Pakai Bawang Putih, Bye Perawatan Dokter Kecantikan
Pemerintah diharapkan dapat memberikan informasi yang jelas agar publik tidak salah memahami kondisi penghasilan buruh pengupas bawang.
Bagi mahasiswa, pekerjaan sambilan tetap dapat menjadi pilihan selama dilakukan secara realistis dan tidak mengganggu pendidikan.
Sedangkan bagi masyarakat luas, polemik ini menjadi pengingat bahwa sebuah angka perlu dilihat bersama konteks dan data pendukung sebelum dijadikan kesimpulan.
***
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Geger! Survei SMRC Ungkap Skor Kepemimpinan Tokoh Nasional, Mahfud MD di Puncak, Gibran Terbawah
- 2Mahfud MD Soroti OTT KPK di BNPB, Dana Bencana Diduga Bermasalah saat Warga Butuh Bantuan
- 3Tiga Hari Lagi! Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Harus Punya Sertifikat
- 4Bikin Bangga! Persib Menang atas The Cong-Viettel, Liga Indonesia Kini Tembus 16 Besar Asia
- 5Singgung Asap dan Oksigen, Syahganda Dikritik Pejabat Malaysia! Indonesia Didesak Minta Maaf
- 6Lille Dihajar Arsenal 0-3, tapi Calvin Verdonk Ukir Rekor Bersejarah untuk Indonesia di Liga Champions!
- 7Tangsel Rapi, DPUPR Banten Mulai Bersihkan Kabel Internet Semrawut di Jalan Aria Putra
- 8Man City Dihantam Kasus Finansial, Steven Gerrard Angkat Suara: Bukan Degradasi, Hukuman Ini yang Harus Diterima!
- 9Mbappe Ukir Sejarah saat Real Madrid Comeback 4-3! Rekor Messi Resmi Terlewati, Golnya Tambah Catatan Gila
- 10Real Madrid Menang Dramatis di Markas Roma, Mourinho Malah Tak Mau Selebrasi: Alasannya Bikin Haru!










