Sejarah 'BITUNG' Sulawesi Utara: Kota Sentra Tuna Dan Cakalang

AKURAT BANTEN - Terletak di bagian timur laut Provinsi Sulawesi Utara, Bitung adalah sebuah kota kecil yang terletak kurang lebih 44 kilometer dari Kota Manado, ibu kota Sulawesi Utara.
Menteri Kelautan dan Perikanan Sakti Wahyu Trenggono pernah mengatakan, kebijakan penangkapan ikan terukur bisa membantu Kota Bitung di Sulawesi Utara sebagai sentra perikanan dunia. Bitung memiliki Kawasan Ekonomi Khusus, dimana sebagian besar usaha di dalamnya bergerak di bidang perikanan. Kota tersebut merupakan salah satu daerah industri perikanan terbesar di Indonesia.
Adapun komoditas perikanan yang mendominasi di Bitung adalah tuna dan cakalang. Keduanya merupakan produk perikanan bernilai ekonomi tinggi, baik di pasar lokal maupun dunia.
Sejarah singkat bitung
Dilansir dari @bitungkota.go.id, Nama Bitungdiambil dari nama pohon bitung (Latin: Hivia Hospital), tumbuhan tropis yang banyak tumbuh di pesisir pantai Nusantara hingga ke Madagaskar. Pohon bitung dalam bahasa Belanda adalah Stevige Koroestige Boom (Sangirees-Nederlands Woordenboek, Steller, 1959). Dalam bahasa Sangihe disebut tariang. Nama-nama lokal lainnya adalah bogem, butong, butun, pertun, putat laut, bitung, talise, hutun.
Pohon bitung sempat disebut sebagai pohon perdamaian. Predikat pohon perdamaian ini diberikan oleh Presiden Soeharto pada saat perayaan Hari Lingkungan Hidup tahun 1986.
- Baca Juga: DATA Dan FAKTA Michael Rempowatu dan Marco Karundeng Pemimpin Krusuhan Atas Aksi Damai Palestina di Bitung Sultra
- Baca Juga: DATA Dan FAKTA Pemimpin Ormas Pelaku Penyerangan Aksi Damai Palestina di Bitung Sultra,Ternyata Mantan NAPI?
- Baca Juga: Fakta Dan Temuan Barang Bukti Usai Bentrok Ormas Kristen Vs Aksi Damai Palestina di Bitung Sulawesi Utara
Nama bitung diberikan kepada kota Bitung sejak pantai yang ditumbuhi pohon bitung menjadi tempat berteduh dan persinggahan nelayan daerah sekitar di akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Karena ramainya nelayan yang datang ke area itu, maka lama-kelamaan tempat ini menjadi sebuah pemukiman.
Konon area persinggahan yang menjadi pemukiman nelayan itu terletak di kawasan yang saat ini telah menjadi area terminal BBM Pertamina Kota Bitung hingga ke pelabuhan samudra. Di sinilah berawalnya perkembangan perkampungan nelayan kemudian menjadi Desa Bitung. Ketika menjadi desa, penduduknya berbaur etnis Minahasa (sub etnis Tonsea khususnya) dan Sangihe-Talaud. Kemudian datang lagi dari etnis Maluku Utara, Mongondow dan beberapa etnis lainnya.
Sebagai sebuah desa, Bitung berada di bawah onderdstrik (kecamatan) Kauditan merupakan bagian dari distrik Tonsea. Desa Bitung pertama kali dipimpin oleh hukum tua (kepala desa) Arkelaus Sompotan dan memimpin selama kurang lebih 25 tahun. Di bawah kepemimpinan Arkelaus Sompotan, penduduk Bitung terus bertambah dan penganut agama pun beragam. Mayoritasnya beragama Kristen kemudian menyusul penganut Islam.
Pada 1 Januari 1918 Desa Bitung diakui oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai sebuah negeri. Namun beslit pengesahannya baru dikeluarkan pada 1 Januari 1928. Diperkirakan, penerbitan beslit ini terjadi setelah tahun 1926 Theopilus Bawotong, Frederik Tindatu dan Hendrik Dulag Kansil mewakili warga Desa Bitung menghadap Hukum Besar Tonsea di Airmadidi.
Pada tahun 1927 Elias Lontoh Sompotan, cucu mantu Simon Tudus diangkat menjadi Hukum Tua sampai tahun 1928, dan diganti oleh H.L. Langelo.
Setelah proklamasi kemerdekaan Indinesia, pada 1 Juli 1947 Bitung menjadi sebuah distrik bawahan (onderdistrik) yang terpisah dari distrik bawahan Tonsea dengan luas wilayah 19.870 Ha, terdiri dari 13.428 jiwa tersebar pada 11 desa. Tahun 1964 dengan SK Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Sulawesi Utara Nomor 244 Tahun 1964, Bitung ditetapkan menjadi satu Kecamatan dengan jumlah penduduk 32.000 jiwa tersebar pada 28 desa dengan luas wilayah 29,79 km².
Secara geografis, wilayah kota Bitung sebagian besar daratannya merupakan daerah berbukit dan gunung, terletak pada posisi di antara 1o23’23” – 1o35’39” LU dan 125o1’43” – 125o18’13” BT. Di sebelah Selatan berbatasan dengan Laut Maluku, di sebelah Utara berbatasan dengan Kecamatan Likupang dan Kecamatan Dimembe (Kabupaten Minahasa Utara), Sebelah Timur berbatasan dengan Laut Maluku sedangkan sebelah Barat berbatasan dengan Kecamatan Kauditan (Kabupaten Minahasa Utara).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 4Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 7MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 8Ijazah SMA Gibran Kembali Dipertanyakan, Pernyataan Loyalis Jokowi Bikin Polemik Makin Panas
- 9Bukan Cuma Mbappé dan Vinicius, Mourinho Siapkan 4 Pilar Real Madrid untuk Era Barunya
- 10Rodri Dapat Nomor 16 Barcelona, Fermín López Rela Melepas: “Akan Berada di Tangan yang Tepat”










