Pengamat Sebut Jokowi Effect Kunci Kemenangan Prabowo-Gibran

AKURAT BANTEN - Pengamat politik dari Institute for Digital Democracy (IDD) Yogyakarta, Bambang Arianto menilai kemenangan Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka di Pilpres 2024, tidak terlepas dari Jokowi effect.
"Dikarenakan banyak sekali pendukung Presiden Jokowi baik yang berstatus sebagai relawan politik maupun sebagai simpatisan kemudian perlahan memberikan dukungan kepada Gibran, karena lebih menghormati sosok Jokowi," kata Bambang, dalam keterangan di Jakarta, Kamis (15/2/2024).
Terlebih lagi, kata dia, banyaknya manuver politik jelang pencoblosan pada 14 Februari, seperti mundurnya Ahok sebagai Komisaris PT Pertamina, dan tingginya percakapan para buzzer politik di media sosial twitter yang menyudutkan Presiden Jokowi, justru kemudian berbalik membuat tambahan elektoral kepada Gibran.
Baca Juga: Sejumlah Pemimpin Negara Sahabat Ucapkan Selamat kepada Prabowo Subianto
"Ini kan era media sosial, jadi semakin menyudutkan Presiden Jokowi itu justru menjadi bumerang, karena pendukung setia Jokowi itu tidak ingin idolanya di bully dan dihina," ujarnya.
"Inilah yang kemudian membuat mayoritas pendukung Jokowi tahun 2019 berpikir ulang untuk memberikan dukungan kepada pasangan lain," sambungnya.
Ia melihat sendiri beberapa mantan relawan Jokowi yang kemudian menyatakan dengan tegas akan mendukung Gibran karena tegak lurus dengan Jokowi.
Bahkan ada yang menyatakan bahwa representasi dari figur Jokowi itu sosok Gibran.
Baca Juga: Petugas KPPS di Kabupaten Tangerang Meninggal Dunia karena Kelelahan Bekerja
"Tapi menariknya pendukung setia Presiden Jokowi ini tidak berani tampil di hadapan publik dengan berkomentar maupun unggah konten di media sosial," ucapnya.
Alasannya, menurut dia, mungkin mereka lebih menjaga perasaan temen-temennya yang selama ini telah memberikan dukungan penuh kepada pasangan Ganjar Mahfud.
Selain itu, lanjut dia, faktor kemenangan Pilpres juga dipengaruhi karena budaya politik Indonesia itu lebih berbasis figur bukan partai politik.
Apalagi partai di Indonesia di kenal cukup lemah, sehingga setiap pemilih bisa kapan saja untuk pindah dari satu partai ke partai lainnya.
"Intinya, kontestasi Pilpres 2024 semakin menegaskan bahwa figur politik akan sangat menentukan perilaku pemilih,"jelas Bambang Arianto.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Geger! Survei SMRC Ungkap Skor Kepemimpinan Tokoh Nasional, Mahfud MD di Puncak, Gibran Terbawah
- 2Mahfud MD Soroti OTT KPK di BNPB, Dana Bencana Diduga Bermasalah saat Warga Butuh Bantuan
- 3Tiga Hari Lagi! Wajib Halal Berlaku 18 Oktober 2026, Ini Daftar Produk yang Harus Punya Sertifikat
- 4Singgung Asap dan Oksigen, Syahganda Dikritik Pejabat Malaysia! Indonesia Didesak Minta Maaf
- 5Bikin Bangga! Persib Menang atas The Cong-Viettel, Liga Indonesia Kini Tembus 16 Besar Asia
- 6Juventus Tak Terima Kalah dari Cristiano Ronaldo! Kasus Gaji Rp190 Miliar Kini Dibawa ke Pengadilan Tertinggi Italia
- 7Lille Dihajar Arsenal 0-3, tapi Calvin Verdonk Ukir Rekor Bersejarah untuk Indonesia di Liga Champions!
- 8Tangsel Rapi, DPUPR Banten Mulai Bersihkan Kabel Internet Semrawut di Jalan Aria Putra
- 9Mbappe Ukir Sejarah saat Real Madrid Comeback 4-3! Rekor Messi Resmi Terlewati, Golnya Tambah Catatan Gila
- 10Real Madrid Menang Dramatis di Markas Roma, Mourinho Malah Tak Mau Selebrasi: Alasannya Bikin Haru!








