Polisi Masih Kumpulkan Berkas, Kasus Pengrusakan Pagar di Kedai Durian Jatohan Haji Arif Belum Berlanjut

AKURAT BANTEN - Sabarto Saleh mempertanyakan kelanjutan kasus perusakan pagar kedai Durian Jatohan Haji Arif (DJHA) yang ditangani Subdit III Jatanras Polda Banten.
Dalam kasus tersebut, Sabarto Saleh yang merupakan pemilik sekaligus pemodal DJHA melaporkan 6 orang pelaku. Mereka berinisial NC, AW, DF, AN, SM dan AP.
Kata Sabarto Saleh, laporan tersebut dilakukan pada 2 November 2023 setelah dirinya melakukan pemagaran kedai DJHA.
"Informasinya keenam orang itu sudah menjadi tersangka. Tetapi saya heran kenapa tidak ditahan oleh penyidik, pelaku hanya dikenakan wajib lapor," kata Sabarto kepada wartawan di Serang.
Diceritakan Sabarto, lahan yang saat ini didirikan bangunan DJHA adalah aset miliknya yang dibeli dari H Agus Juhra pada tahun 2005.
Namun aset tersebut diklaim oleh AW yang disebut lahan milik almarhum H Arif yang merupakan bapaknya.
Padahal, Sabarto mengungkapkan, almarhum H Arif tidak memiliki sejengkal pun tanah tersebut.
Pada saat itu, H. Arif hanya diajaknya untuk mengelola kedai durian yag kini sudah di hak paten dengan nama DJHA.
- Baca Juga: Golkar Pasang Airin Untuk Maju Di Pilkada Banten
- Baca Juga: 6 Anjing K9 Bantu Lacak Peredaran Narkoba di Pelabuhan Bakauheni, Ini Hasilnya
- Baca Juga: Berita Duka : Vokalis Band Sore, Ade Paloh Meninggal Dunia
Sabarto menceritakan, saat melakukan pemagaran itu, ia hanya ingin mempertahankan hak miliknya. Akan tetapi pagar tersebut dirusak oleh AW dan rekannya.
"Saya melaporkan kejadian ini, dengan harapan mendapatkan keadilan, dengan keputusan yang obyektif, tegak lurus dan normatif tanpa intervensi dari pihak manapun yang tidak berdasar," paparnya.
Sabarto mengungkapkan, penyidik Subdit III Jatanras Polda Banten telah melayangkan
Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) ke Kejati Banten pada 6 Desember 2023.
Namun setelah itu, ia mengaku belum mendapat laporan perkembangan kasus perusakan tersebut.
Bahkan belum ada penahanan kepada para pelaku, bahkan para pelaku tersebut masih bisa mengelola kedai DJHA miliknya atas dasar surat wasiat dari almarhum H. Arif.
"Kenapa sudah ditetapkan sebagai tersangka, tapi tetap dibiarkan memasuki, menguasai dan memakai tempat lokasi sengketa untuk berjualan," cetusnya
"Sedangkan pihak AW tidak memiliki alas hak yang jelas (legal), hanya selembar surat wasiat yang diduga palsu," ungkapnya.
Terpisah, Kabud Humas Polda Banten, Kombes Didik Heriyanto membenarkan penyidik Subdit III Jatanras sedang menangani kasus tersebut.
Kata Didik, saat ini, penyidik Subdit III Jatanras terus melengkapi berkas perkara terkait DJHA.
"Ya betul, saya tanya ke penyidik masih melengkapi berkas perkara. Biar lebih jelas nanti tanya ke Kasubdit Jatanras," singkatnya kepada wartawan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 4Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 5Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 6Kemenkes Perkuat Deteksi Penyakit Menular di Pintu Masuk Bandara Soekarno-Hatta
- 7Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 8MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 9Bukan Cuma Mbappé dan Vinicius, Mourinho Siapkan 4 Pilar Real Madrid untuk Era Barunya
- 10Rodri Dapat Nomor 16 Barcelona, Fermín López Rela Melepas: “Akan Berada di Tangan yang Tepat”










