EDITORIAL: Tokoh Banten Tidak Ingin di Pimpin Oleh Pemenang Pilgub Tak Bermartabat Karena Melawan Kotak Kosong

AKURAT BANTEN - Melawan kotak kosong pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) apalagi pemilihan presiden (Pilpres) merupakan preseden buruk kemunduran demokrasi, tentu bukan yang diharapkan oleh masyarakat diwilayah tertentu.
Sebab naluri demokrasi yang telah terbangun untuk menentukan pada masyarakat pemilih menjadi tersandera oleh keterpaksaan untuk memilih satu pasangan tertentu, sehingga akan berpotensi turunnya partisipasi masyarakat menggunakan hak pilihnya.
Fenomena ini mungkin saja terjadi pada pemilihan gubernur (Pilgub) Banten 2024, karena banyak yang menilai pemilihan bupati (Pilbup) dan pemilihan walikota (Pilwalkot) di delapan kabupaten/kota mengarah melawan kotak kosong.
Banyak yang mengkhawatirkan, apabila Golkar yang saat ini masih teguh pendiriannya untuk mengusung kadernya Airin Rachmi Diany, kemudian bergabung dengan koalisi yang sudah sesak dengan 8 partai saat ini, tentunya hanya menyisakan partai demokrasi Indonesia perjuangan (PDIP) saja.
Artinya, kemungkinan besar kekhawatiran terkait fenomena melawan kotak kosong akan terjadi pada Pilgub di Provinsi Banten.
"Diketahui tugas dan fungsi partai politik salah satunya adalah memberikan pendidikan politik kepada masyarakat dan melakukan pengkaderan secara mandiri, sehingga pada berbagai kontestasi politik yang melibatkan partai tersebut akan muncul beberapa calon pemimpin tangguh sebagai petugas partai mampu membawa visi dan misi partainya, sehingga tidak harus melacurkan diri dengan berkoalisi dan mendukung kader partai lain"
Baca Juga: Garuda Indonesia Resmi Menjadi Official Airline HUT RI ke-79 di IKN
Pengamat dan tokoh berharap tidak ada kotak kosong
Dosen dan pengamat politik dari Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta) Banten, Ahmad Sururi mengatakan fenomena melawan kotak kosong pada pemilihan kepala daerah (Pilkada) merupakan bentuk kemunduran dan mencederai demokrasi, pada dasarnya keinginan masyarakat yaitu proses Pilkada minimal memiliki dua pasangan calon.
"Kalau sampai kotak kosong ini terjadi maka kemunduran demokrasi di Banten akan terjadi, dan ini tentu bukan yang diharapkan oleh masyarakat, karena akan mencederai (marwah) demokrasi" kata Ahmad Sururi.
Selanjutnya, salah seorang tokoh masyarakat tanah jawara, yang merupakan ketua pengurus besar Mathla'ul Anwar (PBMA) Embay Mulya Syarief, menginginkan kelak pemenang pada kontestasi Pilkada, merupakan sosok manusia yang bermanfaat dan bermartabat dalam berpolitik, tidak berhadapan dengan suatu benda atau kotak kosong.
"Saya netral siapa pun calon-calon itu saya anggap calon yang baik, (Tetapi) jika melawan kotak kosong, itu membuat calon yang akan maju nanti menjadi tidak bermartabat. Jangan sampai calon itu dibuat tidak bermanfaat, karena tidak bertanding dengan sesama manusia,” ungkapnya.
Andra Soni klarifikasi ada kesepahaman
Sebelumnya Andra Soni mengungkapkan dirinya tidak berniat memborong 8 partai yang berkoalisi untuk mengusung pasangannya saat ini. Ia menilai kedelapan partai memiliki kesepahaman bahwa Banten butuh pemimpin baru karena melihat adanya ketimpangan sehingga kedepannya harus ada sinergi untuk membangun wilayah ini.
"Sebenarnya bukan memborong (Partai), hanya kesepahaman saja, artinya partai-partai punya kedaulatan menentukan kerjasama dengan partai lain, (dan)pemimpin baru merupakan alternatif untuk Banten ke depan, saya menilai kesepahaman ini bagaimana melihat kepemimpinan ke depan" tuturnya pada Senin (22/702024).
Baca Juga: Tersangka Pembunuhan Tahanan Polres Serang Kota Kabur Dari Rumah Tahanan
Bakal Calon Wakil Gubernur Banten, Dimyati Natakusumah mengaku dirinya dan pasangannya di Pilgub Banten, Andra Soni lebih takut melawan kotak kosong daripada Airin Rachmi Diany, jika mantan Wali Kota Tangerang Selatan itu maju di Pilkada Banten 2024. Menurut Dimyati, tantangannya akan lebih berat karena melawan suara rakyat yang masuk kategori swing voters.
"Jujur saja, melawan kotak kosong lebih berat dibandingkan melawan orang. Karena kotak kosong mungkin orang yang merasa tidak suka dengan Andra Soni dan Dimyati bisa saja mereka memilih kotak kosong atau tidak suka dengan partai politik, dia milih kotak kosong," ujar Dimyati dikutip Akurat banten pada, Sabtu, (27/7/2024).
Baca Juga: PJ Walkot Tangerang Terbitkan Surat Edaran Larangan Judol, Bagi ASN Dapat Sanksi Berat
Namun, Politikus PKS itu mengaku belum tahu apakah Airin bakal maju di Pilgub Banten atau tidak. Pasalnya, hingga saat ini, kader Partai Golkar tersebut belum mendapatkan dukungan parpol lain, namun dirinya siap kalaupun harus melawan Airin dan pasangannya di Pilkada Banten.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kortastipidkor Bareskrim Polri Selidiki Tiga Modus Rekayasa Pasokan Energi PLTU yang Merugikan Negara Triliunan Rupiah
- 2Gaji PNS 2027 Tak Disinggung Prabowo, PNS Diduga Kembali Gigit Jari Tidak Dapat Kenaikan Gaji, Sama Seperti Pensiunan
- 3Fakta di Balik 'Gaji Rp700 Ribu per Kilo': Siapa Sebenarnya Ibu Susana yang Disebut Presiden Prabowo?
- 4Bikin Raksasa Premier League Gigit Jari, Gerry Cardinale Turun Tangan Kunci Transfer Diego Moreira Rp867 Miliar ke AC Milan!
- 5Gaji Pembawa Baki Bendera Celine Olivia Beda? Segini Honor Paskibraka 2026, Istilahnya Bukan Gajian
- 6Upah Pengupas Bawang Disebut Rp700 Ribu, Fakta di Lapangan Bikin Publik Terkejut, Mau Ikutan Kupas Bawang?
- 7MU Tumbang 2-4 dari AC Milan, Michael Carrick Tetap Tenang Jelang Hadapi Hull City
- 8Ijazah SMA Gibran Kembali Dipertanyakan, Pernyataan Loyalis Jokowi Bikin Polemik Makin Panas
- 9Bukan Cuma Mbappé dan Vinicius, Mourinho Siapkan 4 Pilar Real Madrid untuk Era Barunya
- 10Rodri Dapat Nomor 16 Barcelona, Fermín López Rela Melepas: “Akan Berada di Tangan yang Tepat”










