Banten

GENTING Jadi Strategi BKKBN Entaskan 283.250 Keluarga Beresiko Stunting di Banten

Irsyad Mohammad | 24 Desember 2024, 23:26 WIB
GENTING Jadi Strategi BKKBN Entaskan 283.250 Keluarga Beresiko Stunting di Banten

AKURAT BANTEN - Dalam rangka mempercepat penurunan angka stunting, Pemerintah Provinsi Banten bekerja sama dengan Perwakilan BKKBN Provinsi Banten menggelar kegiatan Kemitraan Pentahelix dalam Pelaksanaan Quick Win Percepatan Penurunan Stunting. Selasa (24/12/24).

Acara yang digelar di Pendopo Gubernur Banten, menggunakan tema Sinergi dan Energized Percepatan Penurunan Stunting Menuju Indonesia Emas 2045.

Acara ini akan dibuka secara resmi oleh Penjabat Gubernur Banten, A. Damenta, turut hadir tokoh masyarat dan Gubernur Banten terpilih, Andra Soni.

Dikatakan, Kepala Kanwil BKKBN Provinsi Banten, Rusman Efendi, sebagai bagian dari upaya strategis, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga meluncurkan Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING), sebuah inisiatif yang mengedepankan semangat gotong royong melalui pendekatan Pentahelix. 

Baca Juga: Bocah 6 Tahun yang Jatuh dari Lantai 18 Apartemen di Tangsel, Sempat Dinyatakan Hilang Sebelum Ditemukan Tewas

Program ini pertama kali diperkenalkan oleh Menteri Wihaji, pada 5 Desember 2024, di Danau Cipule, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. 

Fokus program ini adalah intervensi nutrisi dan non-nutrisi untuk membantu keluarga berisiko stunting meliputi, bantuan nutrisi, penyediaan makanan kaya protein hewani berbasis pangan lokal.

Selain itu, kata Rusman ada juga bantuan non-nutrisi, yaitu peningkatan akses sanitasi, penyediaan rumah layak huni, air bersih, serta edukasi kesehatan kepada keluarga risko stunting.

"Kegiatan tersebut menjadi langkah strategis dalam mengatasi tantangan stunting di Provinsi Banten," katanya

Baca Juga: Empat Kelompok KUB Nelayan Terima Bantuan Kapal dan Sarana Alat Penangkap Ikan dari Pj Bupati Tangerang

Berdasarkan data dari BKKBN, pada tahun 2024 mencatat 283.250 keluarga berisiko stunting (KRS) atau 13,27% dari total keluarga sasaran.

Dari data tersebut Kabupaten Pandeglang menjadi wilayah dengan persentase KRS tertinggi, yakni 22,17% atau 50.882 keluarga.

Diikuti oleh Kabupaten Lebak dengan 19,20% (48.430 keluarga) dan Kabupaten Serang dengan 16,63% (48.754 keluarga).

Selanjutnya, Kota Serang mencatat 14,15% (18.421 keluarga), disusul oleh Kota Cilegon dengan 14,01% (11.636 keluarga). 

Baca Juga: Pantangan Yang Harus Dihindari Ibu Hamil, Apa Saja? Begini Ulasannya

Sementara itu, wilayah dengan persentase KRS di bawah rata-rata provinsi meliputi: Kabupaten Tangerang: 8,69% (34.313 keluarga), Kota Tangerang Selatan: 9,04% (18.876 keluarga) dan Kota Tangerang: 11,81% (51.938 keluarga).

Data tersebut, kata Rusman, menegaskan perlunya fokus intervensi di wilayah dengan risiko tinggi, terutama di Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak, untuk menekan angka stunting secara signifikan.

"Gerakan ini mengajak seluruh pihak untuk menjadi orang tua asuh bagi keluarga berisiko stunting," jelasnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, sasaran program meliputi ibu hamil, ibu yang memiliki baduta atau menyusui (anak usia di bawah dua tahun atau sekitar 0-23 bulan) dari keluarga miskin yang berisiko stunting. 

Baca Juga: Keseruan Basuki Hadimuljono Tampil Perdana dengan Ciri Khasnya di Podcst Mahfud MD Official

"Tujuan utamanya adalah, terwujudnya generasi yang sehat, cerdas, kuat, dan tidak stunting, meningkatkan kepedulian dan peran serta masyarakat dalam pencegahan stunting," tandasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.