Banten

Sri Mulyani: Stabilitas Ekonomi Global, Dana Dunia Lari dari AS ke Eropa dan Jepang

Saeful Anwar | 25 April 2025, 13:51 WIB
Sri Mulyani: Stabilitas Ekonomi Global, Dana Dunia Lari dari AS ke Eropa dan Jepang


AKURAT BANTEN-Dunia keuangan global tengah mengalami pergeseran dramatis. Dana dunia lari dari AS ke Eropa dan Jepang. Aset-aset besar secara masif meninggalkan Amerika Serikat, menuju ke tempat yang dianggap lebih aman, Eropa dan Jepang. 

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkap fenomena ini dalam konferensi pers virtual, Kamis (24/4), memicu kekhawatiran tentang stabilitas ekonomi global. 

Apa yang sebenarnya terjadi, dan mengapa ini menjadi sorotan utama?

Baca Juga: Kejagung Sita Aset Tersangka Ariyanto Bakri di Kasus Suap Hakim di PN Jakarta, Terdapat 2 Kapal hingga 5 Mobil Mewah

Pergeseran Dramatis

Sri Mulyani menjelaskan bahwa aliran modal dunia sedang mengalami pergeseran signifikan. "Aliran modal dunia mengalami pergeseran dari Amerika Serikat ke negara dan aset yang dianggap aman atau safe haven assets," ungkapnya.

Aset-aset keuangan di Eropa dan Jepang, serta komoditas emas, menjadi tujuan utama.

Baca Juga: Imbas Kasus Liburan Tanpa Izin, Lucky Hakim Magang Selama 3 Bulan di Kemendagri dan Diminta Naik Transportasi Umum

Kebijakan Tarif Trump

Biang keladi dari eksodus ini adalah kebijakan tarif impor yang ditetapkan oleh mantan Presiden AS, Donald Trump.

Kebijakan ini, yang dimaksudkan untuk melindungi industri domestik, justru menciptakan ketidakpastian dan mendorong perilaku risk aversion di kalangan pelaku usaha dan pemilik modal.

"Kebijakan (tarif Trump) dan ketidakpastian tersebut telah mendorong perilaku risk aversion atau penghindaran risiko dari para pelaku usaha, termasuk pemilik modal," tutur Sri Mulyani.

Baca Juga: Deretan Kasus Penyalahgunaa Narkoba Aktor Fachri Albar yang Diringkus Polisi untuk Ketiga Kalinya

Perang Tarif AS-China: Dampak Ganda

Perang tarif antara AS dan China semakin memperparah situasi. China, sebagai negara ekonomi terbesar kedua di dunia, dihantam tarif sebesar 245 persen oleh AS.

Dampak dari perang tarif ini tidak hanya dirasakan oleh kedua negara, tetapi juga oleh ekonomi global secara keseluruhan.

 "Tentu, ini (perang tarif AS Vs China) akan menambah risiko dalam bentuk kenaikan inflasi dan pelemahan atau bahkan penurunan pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat," imbuh Sri Mulyani.

Baca Juga: Menkeu Sri Mulyani Klaim Penerimaan Pajak Capai 134,8 Triliun Menguat di Maret 2025, Sistem Coretax Berjalan On Track

Gubernur BI Perry Warjiyo menambahkan bahwa kebijakan tarif Trump telah memicu risk appetite yang sangat tinggi.

 "Karenanya, para pelaku investor global memindahkan investasi portofolio-nya ke negara dan aset yang dianggap aman, safe haven asset and countries," jelasnya.

Negara-negara di Eropa dan Jepang, serta obligasi pemerintah mereka dan emas, menjadi tujuan utama para investor yang mencari keamanan.

Baca Juga: Duel Seru! dan Penuh Intrik: Malut United Siap Redam Keganasan Lini Depan Dewa United!

Aliran modal keluar juga terjadi di negara-negara berkembang, yang menyebabkan tekanan dan pelemahan mata uang.

Fenomena ini menunjukkan betapa rentannya ekonomi global terhadap kebijakan yang tidak pasti.

Pergeseran aliran modal global dari AS ke Eropa dan Jepang adalah sinyal peringatan tentang ketidakstabilan ekonomi global.

Kebijakan tarif dan perang dagang telah menciptakan ketidakpastian yang mendorong investor mencari safe haven. Dampaknya tidak hanya dirasakan oleh AS dan China, tetapi juga oleh negara-negara berkembang (**)

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman