Banten

PERANG DAGANG AS-CHINA MELUNAK: Turun Tensi usai Daftar Hitam Ekspor Paman Sam, Ganggu Gencatan Ekonomi Tirai Bambu

Saeful Anwar | 26 Oktober 2025, 09:42 WIB
PERANG DAGANG AS-CHINA MELUNAK: Turun Tensi usai Daftar Hitam Ekspor Paman Sam, Ganggu Gencatan Ekonomi Tirai Bambu

AKURAT BANTEN – Tensi panas dalam pusaran perang dagang antara dua raksasa ekonomi dunia, Amerika Serikat (AS) dan China, dikabarkan mulai mereda.

Pertemuan mendadak antara pejabat tinggi ekonomi kedua negara di Kuala Lumpur, Malaysia, pada Sabtu (25/10), disebut-sebut menjadi titik balik yang krusial, berpotensi mencegah guncangan ekonomi global yang lebih besar.

Pertemuan yang berlangsung di sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN ini meredam ancaman serius dari Presiden AS, Donald Trump, yang sebelumnya mengultimatum akan menaikkan tarif hingga 100 persen terhadap produk-produk China, berlaku efektif 1 November 2025.

Ancaman kenaikan tarif itu merupakan respons langsung dari langkah Beijing yang memperluas pengendalian ekspor logam tanah jarang (rare earth)—mineral vital bagi industri teknologi, mulai dari mobil listrik hingga semikonduktor global.

Baca Juga: DETIK-DETIK MENEGANGKAN: Dua Bocah 9 Tahun di Pandeglang Hilang Terseret Arus Sungai Ciliman, Tali Perahu Putus Saat Asyik Bermain

Situasi Mencair

Kabar terbaru menyatakan bahwa kedua belah pihak telah menunjukkan kesediaan untuk melanjutkan dialog, menandakan mencairnya situasi yang sebelumnya berada di ambang eskalasi.

Tim juru bicara Kementerian Keuangan AS mengonfirmasi bahwa negosiasi ini sangat penting, tidak hanya untuk meredakan ketegangan, tetapi juga untuk mematangkan agenda pertemuan langsung antara Presiden Trump dan Presiden China, Xi Jinping, yang dijadwalkan berlangsung pekan depan.

“Tingkat pembahasan sejauh ini sangat konstruktif, dan kami berharap dapat melanjutkannya besok pagi,” ujar seorang pejabat kementerian keuangan AS, sebagaimana dikutip dari Reuters, Minggu (26/10).

Sinyal positif dari Kuala Lumpur langsung disambut baik oleh pasar global. Bursa saham di Asia dan Amerika mencatat penguatan tipis, merefleksikan optimisme investor terhadap kemungkinan perbaikan hubungan dagang.

Baca Juga: KPK Telusuri Paket Teknologi SPBU, Fokus ke Alat Pantau Stok BBM

Pemicu Utama 

Di balik nada damai, sumber utama ketegangan masih belum tersentuh.

Di satu sisi, Washington terus memperluas daftar hitam ekspor yang kini mencakup ribuan perusahaan China.

Kebijakan ini secara drastis memutus akses perusahaan teknologi China terhadap perangkat keras dan perangkat lunak penting asal AS, memicu protes keras dari Beijing.

Di sisi lain, juru bicara kementerian keuangan China, Li Chenggang, mengonfirmasi bahwa Beijing memang telah memperketat ekspor rare earth. Kebijakan ini menjadi senjata strategis China, mengingat dominasinya dalam pasokan mineral tersebut yang krusial bagi rantai pasok global.

“Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada China dan AS, tetapi juga mengganggu rantai pasok global,” kata Li Chenggang, yang menunjukkan bahwa ketegangan ini sudah melewati batas kepentingan bilateral.

Baca Juga: MIRIS! Gara-gara Rokok di Kamar, Adik Ipar Tega Palu Abang hingga Tewas di Pasar Minggu

Misi Politik dan Ekonomi 

Negosiasi di Kuala Lumpur dipandang sebagai langkah awal. Fokus utama kini beralih ke Seoul, Korea Selatan, di mana Presiden Trump dijadwalkan bertemu langsung dengan Presiden Xi Jinping pada 30 Oktober 2025.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan bahwa pertemuan ini, meskipun bersifat informal, memiliki bobot simbolis yang sangat penting untuk menjaga komunikasi.

“Pertemuan nanti akan menjadi ajang uji kemampuan negosiasi Trump di tengah tekanan perang dagang dan geopolitik,” ujar Scott Bessent.

Meskipun kesepakatan besar tidak diharapkan, pertemuan tersebut diyakini akan membuka peluang untuk kompromi.

Opsi-opsi yang mengemuka mencakup perpanjangan masa berlaku tarif, janji pembelian produk pertanian AS dalam jumlah besar oleh China, atau pelonggaran ekspor chip komputer berteknologi tinggi dari AS ke Beijing.

Ketidakpastian ekonomi global sangat bergantung pada hasil negosiasi di Seoul ini. Dunia kini menanti apakah pertemuan Trump dan Xi akan menghasilkan komitmen stabil yang mengakhiri saga perang dagang berkepanjangan ini, atau justru memperpanjang bayang-bayang resesi global pada tahun-tahun mendatang (**) 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

S
Reporter
Saeful Anwar
Abdurahman